Posted in Review Buku

Review Novel Metropop The Case We Met

Konbanwa, Minna-san!

Long time no post. Setelah sekian lama, akhirnya aku memutuskan untuk mengganti id blog, semoga jadi penyemangat untuk rajin posting di blog karena sudah bayar, haha, kembalikan tabunganku!

Well, seperempat tahun pertama 2020, aku menemukan bahwa Gramedia Pustaka Utama sedang gencar menerbitkan novel Metropop. Mengingat segmen pembaca sekarang mayoritas remaja dan dewasa muda, tentu saja kisah dengan tokoh kuliah dan kerja akan banyak peminatnya.

Btw, salah satu novel terbaik yang kubaca bulan ini yaitu Metropop The Case We Met, yang ditulis oleh Flazia, akronim dari nama asli penulis, Fildzah Izzati Achmadi, yang kemudian setelah berkenalan ternyata beliau adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM, beberapa tahun di bawahku. Oh, tentu saja aku bukan dokter. Tapi Farmasi dan Kedokteran hanya dipisahkan satu pagar. Yah, dunia ini sempit.

Pertama aku tahu buku ini bukan karena kenal secara pribadi dengan penulis. Aku seperti biasa setiap weekend melihat situs gpu.id untuk mengetahui info buku yang akan terbit. Cover merah dengan ilustrasi dokter tentu saja menarik perhatianku. Bukan karena aku naksir dokter atau apa, tapi novel dengan latar dunia kesehatan selalu membangkitkan semangat bacaku. Ya, kadang aku ingin melihat sisi lain dari dunia kesehatan yang kugeluti.

Blurb

Sign in as Redita Harris
From : Ratu Maheswari < ratumahestjip@chef.net >
Subject : Re: Re: Baca NY Times

Dita, kamu bahkan masuk berita NY Times karena mendadak ambruk waktu sidang dan orang jadi ngira kamu mau dibunuh sama lawan kamu—you should take a break, for God’s sake! Jadi, kenapa juga tiba-tiba kamu ribet ngurusin kasus malapraktik di sini? Kamu bahkan udah nggak ketemu Natan bertahun-tahun, dan terakhir kali ketemu pun kamu masih gagap-bisu di depan dia! Masih nanya sebaiknya kamu terima jadi pengacara dia atau nggak? Kecuali hati kamu akhirnya berhasil beralih, yang jelas ini bukan keputusan yang bagus, Red.

Sign in as Natanegara Langit
From : Akbar Zaydan < dn.akbr@dr.com >
Subject : Butuh Propofol?

Nat, someone said that being a good doctor is like being a goalkeeper. No matter how many goals you’ve saved, people will only remember the one you missed. Kematian pasien kali ini jelas bukan salah kamu, dan rumah sakit lagi sibuk cari jalan keluar, jadi kenapa sekarang kamu malah ke New York? Harus dianestesi biar diem, hah? Persetan sama konferensi di Wyndham. Kami tahu kamu nggak akan lari, jadi ayo cepet balik. Dita datang ke rumah sakit pagi ini, cari kamu.

Redita Harris, pengacara muda selebram yang dijuluki Red Riding Hijab, sedang menangani kasus malapraktik dr. Mark Ashton di New York, ketika tiba-tiba dr. Natanegara Langit, Sp.An. muncul di hadapannya.

Rehanda Harris (Rehan), kakak Dita yang juga pengacara, lebih sering menangani kasus sengketa perusahaan dan korupsi, meminta Dita untuk menangani kasus tuduhan malpraktik Natan.

Lalu bagaimana Dita menangani kasus ini jika bertemu Natan saja tidak berani?

The case we met

Tema

The Case We Met menyuguhkan tema yang tidak biasa: dunia kedokteran dan dunia hukum dalam satu bahasan. Kasus Malapraktik di dunia kedokteran tentu bukan hal baru. Penulis yang memiliki background dokter, tentunya butuh banyak riset terkait kasus hukum dan bagaimana penyelesaiannya.

Dari segi romance, aku bilang ceritanya sangat berbeda dengan Metropop kebanyakan; instalove/baru ketemu sudah jadian, CLBK dengan mantan, atau bos dan bawahan yang jadian. Dalam The Case We Met kita akan menemukan hubungan yang terjalin karena rasa kagum, cinta bertepuk sebelah tangan dan keinginan untuk menjaga diri dari interaksi lawan jenis. Terdengar seperti novel Islami? Tentu saja tidak bisa disimpulkan seperti itu.

Alur

Alur maju-flash back tidak membuat bingung. Tapi kadang agak bikin mikir dengan timeline yang maju-mundur. Terlalu banyak detail yang walaupun relevan, tapi potensial bikin bosan. Aku bahkan membuat timeline dan menebak setting waktu karena tidak ada keterangan tanggal di awal bab. Agak mencengangkan juga mengetahui Dita belum 25 tahun, sementara Natan sudah 31. Padahal disebutkan bahwa Dita kelas sepuluh ketika Natan kelas dua belas, kenyataan bahwa Dita masuk kelas akselerasi dan menjadi mahasiswa termuda (15 tahun) membantah kemungkinan waktunya yang tidak sinkron.

Karakter Tokoh

Redita Harris

Bisa dibilang Dita menjadi model muslimah masa kini; berkemauan kuat, cepat belajar, cerdas, mandiri dan tau bagaimana mengoptimalkan potensinya. Aku suka bahwa penulis tidak menggambarkan tokoh yang 100% sempurna. Dita juga memiliki kekhawatiran wanita seusianya; menikah dengan lelaki yang akan membatasi ruang geraknya.

Natanegara Langit

Natan berasal dari keluarga dokter-pilot di Bandung. Bungsu dari empat bersaudara, ketiga kakaknya perempuan. Ibunya yang seorang pilot menjadi role model wanita idaman Natan. Meninggalnya dr. Guntur ketika Natan SMP menyisakan luka dalam hingga akhirnya Natan dipindah ke Yogyakarta, tinggal bersama kakak tertuanya, Ambar.

Konflik

Walaupun ini buku penulis pertama yang kubaca, tapi aku langsung klik dan otomatis masuk kategori novel page turner. Opening di New York jujur saja bikin aku susah loadingnya. Apalagi bahasa yang digunakan cukup formal seperti novel terjemahan. Wait, ini serius metropop?

Bagian awal antara Natan dan Dita seperti anjing dan kucing. Natan ditakuti Dita karena sangat galak ketika SMA, dan setelah tidak bertemu selama enam tahun, mau tidak mau Dita harus menghadapinya. Belum lagi ada Akbar Zaydan, sahabat Rehan yang ditaksir Dita, ternyata sudah menikah dan Taraksa Adam, jaksa muda yang sempat menjadi tunangannya, terus berusaha untuk memperbaiki hubungan.

Jujur saja, ini rekor Metropop tertebal yang pernah kubaca! Oke, aku memang sudah membaca Harry Potter dan Piala Api yang tebalnya 896 halaman. Tapi, serius. Metropop itu setauku cuma 300an halaman. Ini kesambet apa sih penulisnya bisa nulis 440 halaman?

Lalu, karena aku agak bosan dengan detail di awal, seperti biasa aku loncat baca setengah terakhir. (Jangan di tiru) Eh, ternyata setting pindah ke Yogyakarta. Baik. Mari balik baca dari awal. Melewati seperempat pertama bahasan mulai mengalir sehingga mudah untuk diikuti.

Aku cuma bisa pesan bacanya harus sabar karena ada banyak lapisan bawang. Kita akan diajak menyelami tentang pribadi Natan, kondisi keluarganya, alasan kenapa Natan yang dikenal sebagai serigala SMA 1, akhirnya jadi dokter anestesi, tentang Prof. Dewo, dan tentang Ditaniar Bagaskara.

Point of View

Penulis menggunakan pov 3 bergantian Dita dan Natan, sehingga pembaca bisa melihat dari kedua sisi secara utuh.

Yang Aku suka

Novel Metropop The Case We Met ini menyajikan bahasan kedokteran, suasana di kamar operasi dan ruang sidang cukup berimbang. Pembaca akan mendapat informasi baru di dunia hukum dan kedokteran tanpa harus sering-sering membuka google. Ada 47 catatan kaki, penjelasan via dialog antar tokoh serta informasi dalam bentuk deskripsi.

Ada banyak tokoh lain yang meramaikan, Risa, Mba Yasmin dan Val, rekan kerja di Diah Hasibuan & Partners. Jadi, selain merasakan berada di rumah sakit, pembaca akan merasakan atmosfer firma hukum juga. Menurutku menarik karena belum banyak novel lokal yang membahas tentang ini.

Salah satu yang membuatku nyaman membacanya karena aku bisa menebak lokasi cerita, dimana RS dr. Harsono, Steak A Break di Gejayan, Shelter Trans Jogja Seturan Raya, dan rumah Dita di daerah Pakem, Kaliurang atas yang dinginnya kayak di Puncak. Deskripsi lokasi juga memanjakan visual pembaca.

Chemistry tokoh juga dibangun pelan-pelan. Gak ada plot twist, tapi aku cukup salut karena minim plot hole dan semua tokoh punya peran.

Kekurangan

Ada banyak pembaca yang langsung menyerah melihat tebal buku >400 halaman. Seperti yang sudah kutulis di atas. terlalu banyak detail sehingga membuat kontennya terlalu padat dan halamannya menjadi banyak.

Seperempat bagian terakhir menurutku manis, tapi penyelesaiannya kurang puas. Penyerangan di tangga darurat apartemen Natan menurutku kurang relevan dan kurang dramatis. Entah karena memang sudah terlalu tebal sehingga dipotong atau apa. Mungkin ingin menampilkan plot twist tapi sayangnya kurang greget.

Pesan yang ingin disampaikan

Jika Metropop selama ini lebih banyak mengeksplor kehidupan kaum urban di Jakarta, The Case We Met mengungkap kehidupan sederhana di Yogyakarta. Mindset patriarki di Jawa, runtuh dengan sikap tokoh yang mengedepankan tuntunan Islam.

She wasn’t waiting for a knight, she was waiting for a sword.

Love Her Wild – Atticus (page 362)

Novel ini cocok dibaca kalangan medis, bisa jadi referensi di kalangan orang-orang yang bergerak di bidang hukum, serta semua pembaca yang suka romance, terutama dengan nuansa Islami. Aku tidak ragu memberi 4 bintang pada Novel Metropop The Case We Met ini karena sarat informasi dan cukup menghibur.

Identitas Buku

Judul: The Case We Met
Penulis: Flazia
Penyunting: Miranda Malonka
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-1, 2020
Tebal buku: 440 halaman
ISBN: 978-602-063-597-2
Rating: 17+
Harga: Rp 110.000

Continue reading “Review Novel Metropop The Case We Met”

Posted in Review Buku

[Book Review] The Boy I Knew From Youtube

Halo~ 🙋‍♀️
Konnichiwa, Minna-san!
Long time no post.

I’m so excited waktu kak @alhzeta posting cover #theboyiknewfromyoutube 😍😍😍 covernya itu lho, cakep!

Aku udah baca beberapa buku Kak Ari sebelumnya: Welcome Home, Rain (Young Adult), Rule of Thirds dan Purple Prose (Metropop). Bisa cek review ketiganya di postingan sebelumnya. Jadi penasaran gimana kalo kak Ari nulis teenlit?

[TEMA]

Highlight buku ini yaitu tentang body shaming, klub musik dan persahabatan virtual.

Selama tiga tahun Rai tidak lagi menyanyi di panggung, bahkan ketika sahabatnya, Kiki berulang tahun.

Ketika menemukan channel Youtube Pie Susu, Rai seperti mendapatkan sarana aktualisasi diri dan memutuskan untuk membuat channel Peri Bisu.

Bertemu Kak Pri, pemilik channel Pie Susu di sekolah sebagai kakak kelasnya ternyata membuat Rai harus menghadapi rasa takutnya.

[POINT OF VIEW]
Kak Ari menggunakan Pov 3 berfokus di Rai, jadi aku cuma bisa nebak-nebak aja sebenarnya Pri curiga gak ya sama Rai? 🤔

[SETTING]
Setting lokasi di Bali, tapi lebih sering di rumah dan sekolah, jadi gak ada lokasi wisata Bali kayak di Rule of Thirds atau Purple Prose. Nuansa Bali tetap terasa dari dialog tokoh yang kadang menggunakan bahasa Bali dan budaya memakai kebaya di hari Kamis, hari Raya Purnama dan hari Raya Tilem.

[ALUR]
Alur yang digunakan yaitu alur maju. Dari awal sudah dijelaskan alasan Rai gak PD. Kak Ari membangun chemistry tokohnya pelan-pelan sampai klimaks.

[PENOKOHAN]
Karakter tokoh-tokohnya cukup konsisten dari awal sampai akhir. Beberapa tokoh tidak tertebak sebenarnya baik atau jahat.

Sayang sekali banyak tokoh yang tidak tereksplor dengan baik karena berfokus dengan Rai dan Pri. Aku berharap lebih banyak penjelasan tentang Dandi, Lolita dan Kiki karena perannya cukup signifikan.

[KONFLIK]
Rai dengan kondisi salah satu bagian tubuhnya lebih besar daripada anak seumurannya tentu saja wajar ketika merasa malu. Aku punya teman dengan kondisi serupa. Wajar banget lho apalagi masih dalam masa pertumbuhan. Tapi sayang sekali Rai terfokus dengan “kekurangan” fisiknya, padahal suaranya bagus.

Ada scene di mana tersebar foto Rai yang membuat anak-anak cowok iseng nonton video tentang ukuran pakaian dalam wanita. Aku gak tau harus ikut sebel atau ketawa. Iya emang semenarik itu kalo udah urusan sama lawan jenis. 😅

Tentang kejadian di parkiran, aku setuju jika tidak ditangani dengan tegas, maka bisa jadi akan ada korban yang lain.

Untungnya kasus Rai tidak sampai melibatkan Psikolog dan Psikiatri karena support keluarga dan teman-temannya sudah cukup bagus.

Karena ini teenlit, tentu saja konfliknya tidak sekompleks Purple Prose dan Welcome Home, Rain. Sekali ini ceritanya lumayan manis. 💙

[REVIEW]
Dibandingkan tiga novel sebelumnya, nuansa persahabatan dan keluarga lebih kental. Bisa kubilang ini teenlit dengan unsur romance minimal. Fokus cerita lebih ke perkembangan tokoh Rai dalam menghadapi rasa tidak percaya dirinya. Peran Kak Pri, Kak Saka, Kiki, Dandi dan Lolita sangat signifikan membuat ceritanya hidup.

Isu yang diangkat Kak Ari menurutku sangat relevan. Masa SMA akan suram atau berkesan tergantung kita dan lingkungan.

Menurutku kurang banyak scene geregetannya. Tebal novel ini hanya 254 halaman. Gak kerasa tau-tau habis.

Lalu penggunaan Pov 3 tentu saja terbatas hanya bisa tau satu sisi dari Rai. Aku berharap disajikan selang-seling dari Pov 3 Pri. Alur maju juga mengurangi keseruan tebak-tebakan.

Kurva cerita di awal flat, pelan-pelan naik, puncak konflik dan menurun menuju ending. Twistnya kurang.

Aku ikut simpati dengan kejadian pelecehan yang dialami Rai di jalan dan di parkiran, karena jaman SMA aku pernah mengalami ada orang iseng di jalan siul-siul pas aku lewat. Tapi sensasi mengaduk-aduk emosinya kurang terasa.

Aku pribadi masih menjadikan Purple Prose sebagai buku favorit dari Kak Ari. Karena bener-bener bikin kaget dan gak terima dengan endingnya. Kenapa oh kenapa? Sungguh teganya dirimu 💔. Tapi aku suka cerita yang realistis sih. Jadi Purple Prose masih membekas sampai sekarang. 😆

Sebagai teenlit tentu saja aku sangat merekomendasikan #theboyIknewfromyoutube ini untuk dibaca remaja jaman now dan juga para guru, orang tua dan siapa saja yang tertarik dengan isu mental health. Masih jarang kutemukan teenlit berbobot yang memotivasi seperti ini. Ada peran orang tua dan guru. Dan ceritanya tidak berfokus pada pacaran dan galau-galau remaja. Ada “usaha” para tokoh untuk melangkah maju.

Akhir kata terimakasih banyak kak @alhzeta dan @bukugpu yang sudah memberikan kesempatan membaca dan mengulas buku ini. Bikin nostalgia masa SMA banget! Ditunggu buku selanjutnya. 😍

Posted in Literacy

Sekelumit Kisah di Ende

RESENSI

Da Conspiracao

 Judul buku    : Da Conspiracao; Sebuah Konspirasi

Penulis         : Afifah Afra

ISBN            : 978-602-8277-66-2

Penerbit       : Afra Publishing, Indiva Media Kreasi

Ketebalan     : 632 hlm, 20 cm

Harga buku   : Rp 65.000

 

Raden Mas Rangga Puruhita, pemuda terpelajar, sarjana ekonomi lulusan Leiden, ningrat Jawa, dan visioner. Ia dibuang ke Flores karena terlibat dalam gerakan melawan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Tan Sun Nio, gadis yang jelita, cerdas, ambisius, dan terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa yang konservatif. Ia membuang diri ke Flores karena dikhianati calon suaminya. Namun, ia justru berhasil membangun sebuah kerajaan niaga terbesar di Indonesia Timur, dan menjadi orang terkaya di Flores.

Adapun Flores yang mereka datangi, sama-sama medan yang penuh bara. Awal abad XX, pulau itu baru beralih kekuasaan dari Portugis ke Belanda. Kondisi belum stabil. Bajak laut dan perampok merajalela. Pemberontakan para raja kecil atau mosalaki membuat bumi kian porak poranda.

Suratan nasiblah yang kemudian membuat mereka bertemu. Awalnya saling berhadapan sebagai lawan. Namun, mereka justru didekatkan ketika sama-sama terjebak dalam sebuah konpirasi tingkat tinggi. Konspirasi yang melibatkan sekelompok bajak laut yang dikoordinasi secara rapi menyerupai Mafioso di Sisilia: Bevy da Aguia Leste.

Novel ini adalah salah satu yang saya tunggu-tunggu kapan terbitnya. Bagaimana tidak? Saya membaca De Winstyang terbit pada Januari 2008 tanpa mengira bahwa akan ada lanjutannya. Tiba-tiba muncul De Liefde; Memoar Sekar Prembajoen pada Januari 2010 dengan label “Buku Kedua dari Tetralogi De Winst”. Maka tentu saja terbitnya Da Conspiracao semacam menjawab penasaran selama dua tahun.

Seperti kedua novel sebelumnya, Da Conspiracao menjadi salah satu fiksi sejarah favorit sayaKeseluruhan cerita berisi konflik yang mampu menyita emosi. Namun, karena tebalnya novel ini dan bahasanya yang jauh lebih berat membuat saya tidak mampu menghabiskannya dalam sekali duduk seperti ketika membaca De Winst.

De Winst mengambil latar Surakarta pada tahun 1930, di awali dengan kembalinya Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara dari Amsterdam setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Rijksuniversiteit Leiden . Ketika perjalanan ia bertemu dengan Everdine Kareen Spinoza, seorang advocaat.

Idealisme seorang berdarah biru yang lama tinggal di Belanda itu mulai terbentuk ketika menghadapi sepupu yang dijodohkan dengannya- Raden Rara Sekar Prembayun. Benih-benih nasionalisme dan gerakan pembebasan Indonesia mulai muncul. Ketika Rangga mengambil peran di pabrik gula De Winst dan Partai Rakyat, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan Rangga untuk menjadi internering di Ende. Sebelumnya Rangga menikahi Everdine yang masuk Islam dan mengganti nama menjadi Syahidah, sementara Sekar dikirim ke Universiteit Leiden pada awal Oktober 2013.

De Liefde menceritakan tentang Sekar dan Kareen secara bergantian dengan latar akhir tahun 1931 hingga April 1933 di Belanda dan Hindia Belanda. Rangga tidak muncul sama sekali di De Liefde, hingga membuat pembaca menebak-nebak bagaimana nasib Rangga di pengasingan.

Da Conspiracao menceritakan tentang pengasingan Rangga di Ende. Muncul banyak tokoh baru yang menjadikan Da Conspiracao begitu hidup. Prolog Da Conspiracao menceritakan tentang masa peralihan Portugis ke Belanda pada 1907 di Watunggere. Ketika itu Kapten Christoffel diutus untuk menaklukan Flores. Pasukannya menghadapi langsung mosalaki (raja kecil) Mari Longa. Usai kemenangan Kapten Christoffel, seorang Sersan bernama Johannes Van Persie menghadapnya untuk mengundurkan diri dari barisan sambil membawa seorang bayi perempuan yang ditemukannya diantara para korban perang.

Lalu, novel diawali dengan kisah tentang Tan Sun Nio dengan latar Surakarta pada akhir tahun 1924. Tan Sun Nio bertekad membuang diri ke Ende setelah patah hati karena Daniel Liem tak datang melamarnya pada malam puncak perayaan cap go meh. Akhir Agustus 1925 ia menyusul kakaknya, Tan Seng Hun yang sudah berada di sana sejak Ende resmi berada di bawah kekuasaaan pemerintah Hindia Belanda tahun 1915. Dari penjelasan penulis, diketahui bahwa Tan Sun Nio merupakan kakak kelas Sekar Prembayun di HBS .

Akhir tahun 1925, Tan Seng Hun meninggal karena menjadi korban pemberontakan Mari Nusa, pemimping gerakan pemuda di pedalaman Flores. Mau tak mau Tan Sun Nio harus mengambil alih bisnis kakaknya itu. Dalam masa transisi tersebut, Tan Sun Nio didampingi oleh Ramos Fernandez, indo Portugis kepercayaan Tan Seng Hun di Toko Pek Liong.

April 1926, Tan Sun Nio sudah cukup mampu memegang kendali atas bisnis kakaknya yang terdiri atas toko-toko, perdagangan kopra, sewa-sewa perahu untuk para pelayan serta sebuah maskapai ilegal candu. Ia  juga harus berhadapan dengan Djanggo da Silva, pimpinan Bevy de Aguia Leste (Perkumpulan Elang Timur), sekelompok bajak laut terkuat di perairan Sumba, Flores dan Timor serta Laut Banda dan Selat Makassar.

Tahun 1932, dalam perjalanan menuju Ende, Rangga bertemu dengan Hans Van Persie, mahasiswa Leiden yang mengambil jurusan geologi dan meneliti fenomena warna air di Danau Kelimutu. Sejak dari Waigapu, Rangga dikawal oleh Herman Zondag, bintara KNIL.

Walau perjalanan ke Ende dalam situasi begitu berbeda dengan perjalanan pulang dari Amsterdam, Rangga tak meninggalkan sholat wajib. Saya menangkap pesan tentang kemudahan beribadah dalam perjalanan jika tidak memungkinkan untuk berwudhu, maka bisa dengan tayamum.

Ketika baru tiba di Ende, Rangga banyak berinteraksi dengan Hans Van Persie. Di lingkungan tempat tinggalnya, Rangga bertemu Ine Nurkasih, Maria Dewi Van Persie dan Johannes “Bob” Van Persie. Karakter Maria mengingatkan Rangga pada sosok Sekar.

Da Conspiracao menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai Rangga dan Tan Sun Nio secara bergantian, namun di tengah lebih banyak porsi tentang Rangga. Secara bertubi-tubi berbagai peristiwa yang dialami Tan Sun Nio dan Rangga melibatkan banyak tokoh baru yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam sebuah konspirasi besar. Hingga sampai novel ini berakhir, saya masih banyak bertanya-tanya, akan seperti apa akhirnya?

Jika di De Winst dan De Liefde saya banyak menemukan istilah bahasa Belanda, di Da Conspiracao ini banyak istilah Portugis dan bahasa Ende. Jika di dua novel sebelumnya istilah-istilah asing dijelaskan pada footnote di halaman yang sama, istilah-istilah di Da Conspiracao dijelaskan di halaman belakang. Sehingga pembaca harus berkali-kali membolak-balik novel. Tidak hanya istilah asing, berkali-kali pula saya harus membuka aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia di laptop karena menemukan kosakata “baru”.

Kekurangan novel ini adalah banyak penggunaan kapital yang tidak seragam, terutama pada nama tokoh. Misalnya pada halaman 123 ditulis Djanggo Da Silva, sementara pada halaman 124 ditulis Djanggo da Silva. Alur maju-mundur yang banyak diwarnai dengan deskripsi mengenai kejadian-kejadian di masa lalu, seperti ingatan Rangga tentang cerita Ramanya, atau kondisi di belahan bumi lain, menurut saya cukup membuat bias dan agak keluar dari sub tema bab. Penulis cepat mengganti bahasan sehingga paragraf panjang di halaman sebelumnya berhenti sebatas informasi tambahan untuk pembaca.

Selain banyak menjabarkan tentang pemberontakan pribumi terhadap Pemerintah Hindia Belanda, novel ini juga menyisipkan pergolakan batin Tan Sun Nio tentang berbagai agama serta toleransi antar umat beragama melalui sikap Rangga. Selain mengangkat tema agama, keberagaman budaya pun cukup mendominasi. Selain Jawa dan Belanda, kultur Portugis, Tionghoa dan Flores membuat novel ini begitu kaya informasi. Pastinya penulis melakukan riset yang panjang dan lama.

Hal yang menarik adalah ketika dialog Maria dengan Rangga tentang wudhu. Tak jarang ketertarikan orang kepada Islam terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, adegan Rangga yang tetap hafal beberapa ayat Surat Al-Baqarah walaupun ia amnesia mengingatkan saya pada tokoh Maria di Ayat-Ayat Cinta yang melantunkan hafalan Surat Maryam dan Thaha ketika ia sakit.

Membaca Da Conspiracao, seperti membaca kompilasi karya Afifah Afra sebelumnya yang berlatar sejarah, budaya dan sindikat mafia, sebut saja Trilogi Bulan Mati di Javanche Orange, Syahid Samurai dan Peluru di Matamu; Serial Marabunta; Jangan Panggil Aku Josephine dan Katastrofa Cinta. Ada beberapa hal yang mirip dalam segi penokohan, alur dan setting cerita.

Mbak Afra begitu piawai menggabungkan unsur fiksi dan fakta sejarah melalui kisah epik yang begitu rumit. Selain cukup tebal, novel ini cukup berat sehingga dibutuhkan konsentrasi penuh untuk membacanya. Jadi, tidak perlu tergesa-gesa menyelesaikannya. Saya menunggu buku keempat yang pastinya jauh lebih seru dan lebih kompleks. Tokohnya banyak banget sih! 🙂

Salima, 29 Desember 2013, 13:41

Posted in Literacy, StyLe

Novel Unik

Cerpenku pernah dibantai di sebuah forum karena gak ada sudut pandangnya. Waktu itu aku menyangkalnya dan mengatakan bahwa tulisanku pake sudut pandang orang ketiga. Kemudian, temanku itu bilang bahwa kalo gak ada sudut pandang, emosi pembaca gak akan teraduk. Oke, akhirnya aku merombak ulang cerpen tersebut.

Kalian pernah baca novel dengan sudut pandang orang pertama (tokoh utama pake kata ganti Aku)? Pasti sering. Kalo sudut pandang orang ketiga (kata ganti tokoh utama Dia atau Nama)? Tentu banyak.

Dari puluhan novel Afifah Afra, yang menurutku alurnya unik yaitu Katastrofa Cinta. Mbak Afra pake sudut pandang orang ketiga. Yang bikin beda karena dalam novel itu ada semacam pola: bagian ganjil tentang tokoh Astuti, bagian genap tentang tokoh Cempaka, dan di-ending-nya ketauan deh gimana sesungguhnya hubungan Astuti dan Cempaka. So complicated!

Ada yang unik dari beberapa novel yang kubaca dalam beberapa waktu terakhir ini. Sebut saja tokohnya 2 orang: A dan B. Bagian satu pake sudut pandang si A, bagian dua pake sudut pandang si B, bagian tiga dari si A, dan seterusnya. Bingung? Oke, contohnya novel Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, Spring in London dan Sunshine Becomes You (Ilana Tan), Remember When, Ai, Refrain (Winna Efendi), Dimi is Married, Cinta Paket Hemat (Retni SB). Tapi, you know, itu yang nulis cuma satu orang.

Aku selalu penasaran gimana cara bikin novel kolaborasi. For now, I just what to know, don’t want to do. Beberapa novel kolaborasi yang pernah kubaca yaitu Tarapuccino (Riawani Elyta dan Rika Y. Sari), Oppa and I (Orizuka dan Lia Indra Andriana) dan tentu saja GagasDuet. Baru empat dari tujuh yang sudah kubaca. Ada yang mau ngasih aku kado yang tiga lagi??

  1. With You (Christian Simamora dan Orizuka). Novel ini tentang pengalaman yang berbeda dari dua orang sepupu bernama Cindy dan Lyla selama 24 jam. Bagian satu tentang Cindy a.k.a. Cinderella yang ketemu Jere, sedangkan bagian dua tentang Lyla yang ketemu Juna. Kalo ditanya: ni novel kategorinya teenlit atau metropop? Menurutku sih 1/2 dewasa 1/2 remaja. Secara, style penulisnya kontras banget. Jadi, gak masalah kalo cuma baca setengah.
  2. Truth or Dare (Winna Efendi dan Yoana Dianika). Karya Winna selalu tentang friendship, yang satu ini juga. Bagian pertama dari sudut pandang Alice, sedangkan bagian dua dari sudut pandang Cathy. Membaca ini seperti membaca satu buku utuh dengan alur yang unik. Penyampaiannya mirip Ai. Ceritanya terlalu tragis untuk dialami, tapi cukup masuk akal.
  3. Harmoni (Ollie dan Wulan Dewatra). Ada dua cerita berbeda di sini. Bagian satu tokohnya Lily dan Ryan, sementara bagian dua tentang Andien dan Gara. Keempat tokohnya gak saling kenal, gak ada hubungan darah, temanya pun beda, yang satu tentang semangat menggapai cita-cita, yang satu tentang penyesalan. Yah, insight yang kudapat adalah titik balik tokoh hingga ia mampu untuk melompat lebih tinggi, dengan atau tanpa orang yang menjadi penyebabnya. Kontras. Bagian satu bikin semangat, bagian dua bikin tertegun. Agak berat sih, tapi keren!
  4. Bittersweet Love (Netty Virgiatini dan Aditia Yudis). Sekilas ini novel teenlit banget. Tentang cinta garis lurus #apadeh. Gimana gak coba? Relationship-nya gini: Hefin -> Nawang -> Artan -> Joanna -> Michael. Setelah baca keseluruhan isinya, ternyata eh ternyata ini novel tentang broken home. Koq bisa? Starting poin-nya adalah ketika ayah dan ibu Nawang bercerai, lalu ayah Nawang (Surya) menikah dengan ibu Hefin (Hesty), sedangkan ibu Nawang (Ajeng) menikah dengan ayah Joanna (Adjie). Bagian pertama dari sudut pandang Nawang, sedangkan bagian kedua dari sudut pandang Joanna. Kesimpulannya? Baca aja sendiri!

Banyak buku unik di luar sana yang belum kubaca. Dari jaman aku mulai bisa baca (umur 3 tahun) sampai sekarang, dunia literacy Indonesia sangat berkembang di antara maraknya komik Jepang, komik Korea, dan novel terjemahan. Paling gak ini menunjukkan bahwa dunia baca, tak terlupakan diantara histeria demam Korea.

Happy reading~

Salima, 13 September 2012, 23:51

Merindukan Novel Remaja Islami hadir kembali