Posted in Review Buku

Review Novel Metropop The Case We Met

Konbanwa, Minna-san!

Long time no post. Setelah sekian lama, akhirnya aku memutuskan untuk mengganti id blog, semoga jadi penyemangat untuk rajin posting di blog karena sudah bayar, haha, kembalikan tabunganku!

Well, seperempat tahun pertama 2020, aku menemukan bahwa Gramedia Pustaka Utama sedang gencar menerbitkan novel Metropop. Mengingat segmen pembaca sekarang mayoritas remaja dan dewasa muda, tentu saja kisah dengan tokoh kuliah dan kerja akan banyak peminatnya.

Btw, salah satu novel terbaik yang kubaca bulan ini yaitu Metropop The Case We Met, yang ditulis oleh Flazia, akronim dari nama asli penulis, Fildzah Izzati Achmadi, yang kemudian setelah berkenalan ternyata beliau adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM, beberapa tahun di bawahku. Oh, tentu saja aku bukan dokter. Tapi Farmasi dan Kedokteran hanya dipisahkan satu pagar. Yah, dunia ini sempit.

Pertama aku tahu buku ini bukan karena kenal secara pribadi dengan penulis. Aku seperti biasa setiap weekend melihat situs gpu.id untuk mengetahui info buku yang akan terbit. Cover merah dengan ilustrasi dokter tentu saja menarik perhatianku. Bukan karena aku naksir dokter atau apa, tapi novel dengan latar dunia kesehatan selalu membangkitkan semangat bacaku. Ya, kadang aku ingin melihat sisi lain dari dunia kesehatan yang kugeluti.

Blurb

Sign in as Redita Harris
From : Ratu Maheswari < ratumahestjip@chef.net >
Subject : Re: Re: Baca NY Times

Dita, kamu bahkan masuk berita NY Times karena mendadak ambruk waktu sidang dan orang jadi ngira kamu mau dibunuh sama lawan kamu—you should take a break, for God’s sake! Jadi, kenapa juga tiba-tiba kamu ribet ngurusin kasus malapraktik di sini? Kamu bahkan udah nggak ketemu Natan bertahun-tahun, dan terakhir kali ketemu pun kamu masih gagap-bisu di depan dia! Masih nanya sebaiknya kamu terima jadi pengacara dia atau nggak? Kecuali hati kamu akhirnya berhasil beralih, yang jelas ini bukan keputusan yang bagus, Red.

Sign in as Natanegara Langit
From : Akbar Zaydan < dn.akbr@dr.com >
Subject : Butuh Propofol?

Nat, someone said that being a good doctor is like being a goalkeeper. No matter how many goals you’ve saved, people will only remember the one you missed. Kematian pasien kali ini jelas bukan salah kamu, dan rumah sakit lagi sibuk cari jalan keluar, jadi kenapa sekarang kamu malah ke New York? Harus dianestesi biar diem, hah? Persetan sama konferensi di Wyndham. Kami tahu kamu nggak akan lari, jadi ayo cepet balik. Dita datang ke rumah sakit pagi ini, cari kamu.

Redita Harris, pengacara muda selebram yang dijuluki Red Riding Hijab, sedang menangani kasus malapraktik dr. Mark Ashton di New York, ketika tiba-tiba dr. Natanegara Langit, Sp.An. muncul di hadapannya.

Rehanda Harris (Rehan), kakak Dita yang juga pengacara, lebih sering menangani kasus sengketa perusahaan dan korupsi, meminta Dita untuk menangani kasus tuduhan malpraktik Natan.

Lalu bagaimana Dita menangani kasus ini jika bertemu Natan saja tidak berani?

The case we met

Tema

The Case We Met menyuguhkan tema yang tidak biasa: dunia kedokteran dan dunia hukum dalam satu bahasan. Kasus Malapraktik di dunia kedokteran tentu bukan hal baru. Penulis yang memiliki background dokter, tentunya butuh banyak riset terkait kasus hukum dan bagaimana penyelesaiannya.

Dari segi romance, aku bilang ceritanya sangat berbeda dengan Metropop kebanyakan; instalove/baru ketemu sudah jadian, CLBK dengan mantan, atau bos dan bawahan yang jadian. Dalam The Case We Met kita akan menemukan hubungan yang terjalin karena rasa kagum, cinta bertepuk sebelah tangan dan keinginan untuk menjaga diri dari interaksi lawan jenis. Terdengar seperti novel Islami? Tentu saja tidak bisa disimpulkan seperti itu.

Alur

Alur maju-flash back tidak membuat bingung. Tapi kadang agak bikin mikir dengan timeline yang maju-mundur. Terlalu banyak detail yang walaupun relevan, tapi potensial bikin bosan. Aku bahkan membuat timeline dan menebak setting waktu karena tidak ada keterangan tanggal di awal bab. Agak mencengangkan juga mengetahui Dita belum 25 tahun, sementara Natan sudah 31. Padahal disebutkan bahwa Dita kelas sepuluh ketika Natan kelas dua belas, kenyataan bahwa Dita masuk kelas akselerasi dan menjadi mahasiswa termuda (15 tahun) membantah kemungkinan waktunya yang tidak sinkron.

Karakter Tokoh

Redita Harris

Bisa dibilang Dita menjadi model muslimah masa kini; berkemauan kuat, cepat belajar, cerdas, mandiri dan tau bagaimana mengoptimalkan potensinya. Aku suka bahwa penulis tidak menggambarkan tokoh yang 100% sempurna. Dita juga memiliki kekhawatiran wanita seusianya; menikah dengan lelaki yang akan membatasi ruang geraknya.

Natanegara Langit

Natan berasal dari keluarga dokter-pilot di Bandung. Bungsu dari empat bersaudara, ketiga kakaknya perempuan. Ibunya yang seorang pilot menjadi role model wanita idaman Natan. Meninggalnya dr. Guntur ketika Natan SMP menyisakan luka dalam hingga akhirnya Natan dipindah ke Yogyakarta, tinggal bersama kakak tertuanya, Ambar.

Konflik

Walaupun ini buku penulis pertama yang kubaca, tapi aku langsung klik dan otomatis masuk kategori novel page turner. Opening di New York jujur saja bikin aku susah loadingnya. Apalagi bahasa yang digunakan cukup formal seperti novel terjemahan. Wait, ini serius metropop?

Bagian awal antara Natan dan Dita seperti anjing dan kucing. Natan ditakuti Dita karena sangat galak ketika SMA, dan setelah tidak bertemu selama enam tahun, mau tidak mau Dita harus menghadapinya. Belum lagi ada Akbar Zaydan, sahabat Rehan yang ditaksir Dita, ternyata sudah menikah dan Taraksa Adam, jaksa muda yang sempat menjadi tunangannya, terus berusaha untuk memperbaiki hubungan.

Jujur saja, ini rekor Metropop tertebal yang pernah kubaca! Oke, aku memang sudah membaca Harry Potter dan Piala Api yang tebalnya 896 halaman. Tapi, serius. Metropop itu setauku cuma 300an halaman. Ini kesambet apa sih penulisnya bisa nulis 440 halaman?

Lalu, karena aku agak bosan dengan detail di awal, seperti biasa aku loncat baca setengah terakhir. (Jangan di tiru) Eh, ternyata setting pindah ke Yogyakarta. Baik. Mari balik baca dari awal. Melewati seperempat pertama bahasan mulai mengalir sehingga mudah untuk diikuti.

Aku cuma bisa pesan bacanya harus sabar karena ada banyak lapisan bawang. Kita akan diajak menyelami tentang pribadi Natan, kondisi keluarganya, alasan kenapa Natan yang dikenal sebagai serigala SMA 1, akhirnya jadi dokter anestesi, tentang Prof. Dewo, dan tentang Ditaniar Bagaskara.

Point of View

Penulis menggunakan pov 3 bergantian Dita dan Natan, sehingga pembaca bisa melihat dari kedua sisi secara utuh.

Yang Aku suka

Novel Metropop The Case We Met ini menyajikan bahasan kedokteran, suasana di kamar operasi dan ruang sidang cukup berimbang. Pembaca akan mendapat informasi baru di dunia hukum dan kedokteran tanpa harus sering-sering membuka google. Ada 47 catatan kaki, penjelasan via dialog antar tokoh serta informasi dalam bentuk deskripsi.

Ada banyak tokoh lain yang meramaikan, Risa, Mba Yasmin dan Val, rekan kerja di Diah Hasibuan & Partners. Jadi, selain merasakan berada di rumah sakit, pembaca akan merasakan atmosfer firma hukum juga. Menurutku menarik karena belum banyak novel lokal yang membahas tentang ini.

Salah satu yang membuatku nyaman membacanya karena aku bisa menebak lokasi cerita, dimana RS dr. Harsono, Steak A Break di Gejayan, Shelter Trans Jogja Seturan Raya, dan rumah Dita di daerah Pakem, Kaliurang atas yang dinginnya kayak di Puncak. Deskripsi lokasi juga memanjakan visual pembaca.

Chemistry tokoh juga dibangun pelan-pelan. Gak ada plot twist, tapi aku cukup salut karena minim plot hole dan semua tokoh punya peran.

Kekurangan

Ada banyak pembaca yang langsung menyerah melihat tebal buku >400 halaman. Seperti yang sudah kutulis di atas. terlalu banyak detail sehingga membuat kontennya terlalu padat dan halamannya menjadi banyak.

Seperempat bagian terakhir menurutku manis, tapi penyelesaiannya kurang puas. Penyerangan di tangga darurat apartemen Natan menurutku kurang relevan dan kurang dramatis. Entah karena memang sudah terlalu tebal sehingga dipotong atau apa. Mungkin ingin menampilkan plot twist tapi sayangnya kurang greget.

Pesan yang ingin disampaikan

Jika Metropop selama ini lebih banyak mengeksplor kehidupan kaum urban di Jakarta, The Case We Met mengungkap kehidupan sederhana di Yogyakarta. Mindset patriarki di Jawa, runtuh dengan sikap tokoh yang mengedepankan tuntunan Islam.

She wasn’t waiting for a knight, she was waiting for a sword.

Love Her Wild – Atticus (page 362)

Novel ini cocok dibaca kalangan medis, bisa jadi referensi di kalangan orang-orang yang bergerak di bidang hukum, serta semua pembaca yang suka romance, terutama dengan nuansa Islami. Aku tidak ragu memberi 4 bintang pada Novel Metropop The Case We Met ini karena sarat informasi dan cukup menghibur.

Identitas Buku

Judul: The Case We Met
Penulis: Flazia
Penyunting: Miranda Malonka
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-1, 2020
Tebal buku: 440 halaman
ISBN: 978-602-063-597-2
Rating: 17+
Harga: Rp 110.000

Continue reading “Review Novel Metropop The Case We Met”

Posted in Review Buku

[Book Review] The Boy I Knew From Youtube

Halo~ 🙋‍♀️
Konnichiwa, Minna-san!
Long time no post.

I’m so excited waktu kak @alhzeta posting cover #theboyiknewfromyoutube 😍😍😍 covernya itu lho, cakep!

Aku udah baca beberapa buku Kak Ari sebelumnya: Welcome Home, Rain (Young Adult), Rule of Thirds dan Purple Prose (Metropop). Bisa cek review ketiganya di postingan sebelumnya. Jadi penasaran gimana kalo kak Ari nulis teenlit?

[TEMA]

Highlight buku ini yaitu tentang body shaming, klub musik dan persahabatan virtual.

Selama tiga tahun Rai tidak lagi menyanyi di panggung, bahkan ketika sahabatnya, Kiki berulang tahun.

Ketika menemukan channel Youtube Pie Susu, Rai seperti mendapatkan sarana aktualisasi diri dan memutuskan untuk membuat channel Peri Bisu.

Bertemu Kak Pri, pemilik channel Pie Susu di sekolah sebagai kakak kelasnya ternyata membuat Rai harus menghadapi rasa takutnya.

[POINT OF VIEW]
Kak Ari menggunakan Pov 3 berfokus di Rai, jadi aku cuma bisa nebak-nebak aja sebenarnya Pri curiga gak ya sama Rai? 🤔

[SETTING]
Setting lokasi di Bali, tapi lebih sering di rumah dan sekolah, jadi gak ada lokasi wisata Bali kayak di Rule of Thirds atau Purple Prose. Nuansa Bali tetap terasa dari dialog tokoh yang kadang menggunakan bahasa Bali dan budaya memakai kebaya di hari Kamis, hari Raya Purnama dan hari Raya Tilem.

[ALUR]
Alur yang digunakan yaitu alur maju. Dari awal sudah dijelaskan alasan Rai gak PD. Kak Ari membangun chemistry tokohnya pelan-pelan sampai klimaks.

[PENOKOHAN]
Karakter tokoh-tokohnya cukup konsisten dari awal sampai akhir. Beberapa tokoh tidak tertebak sebenarnya baik atau jahat.

Sayang sekali banyak tokoh yang tidak tereksplor dengan baik karena berfokus dengan Rai dan Pri. Aku berharap lebih banyak penjelasan tentang Dandi, Lolita dan Kiki karena perannya cukup signifikan.

[KONFLIK]
Rai dengan kondisi salah satu bagian tubuhnya lebih besar daripada anak seumurannya tentu saja wajar ketika merasa malu. Aku punya teman dengan kondisi serupa. Wajar banget lho apalagi masih dalam masa pertumbuhan. Tapi sayang sekali Rai terfokus dengan “kekurangan” fisiknya, padahal suaranya bagus.

Ada scene di mana tersebar foto Rai yang membuat anak-anak cowok iseng nonton video tentang ukuran pakaian dalam wanita. Aku gak tau harus ikut sebel atau ketawa. Iya emang semenarik itu kalo udah urusan sama lawan jenis. 😅

Tentang kejadian di parkiran, aku setuju jika tidak ditangani dengan tegas, maka bisa jadi akan ada korban yang lain.

Untungnya kasus Rai tidak sampai melibatkan Psikolog dan Psikiatri karena support keluarga dan teman-temannya sudah cukup bagus.

Karena ini teenlit, tentu saja konfliknya tidak sekompleks Purple Prose dan Welcome Home, Rain. Sekali ini ceritanya lumayan manis. 💙

[REVIEW]
Dibandingkan tiga novel sebelumnya, nuansa persahabatan dan keluarga lebih kental. Bisa kubilang ini teenlit dengan unsur romance minimal. Fokus cerita lebih ke perkembangan tokoh Rai dalam menghadapi rasa tidak percaya dirinya. Peran Kak Pri, Kak Saka, Kiki, Dandi dan Lolita sangat signifikan membuat ceritanya hidup.

Isu yang diangkat Kak Ari menurutku sangat relevan. Masa SMA akan suram atau berkesan tergantung kita dan lingkungan.

Menurutku kurang banyak scene geregetannya. Tebal novel ini hanya 254 halaman. Gak kerasa tau-tau habis.

Lalu penggunaan Pov 3 tentu saja terbatas hanya bisa tau satu sisi dari Rai. Aku berharap disajikan selang-seling dari Pov 3 Pri. Alur maju juga mengurangi keseruan tebak-tebakan.

Kurva cerita di awal flat, pelan-pelan naik, puncak konflik dan menurun menuju ending. Twistnya kurang.

Aku ikut simpati dengan kejadian pelecehan yang dialami Rai di jalan dan di parkiran, karena jaman SMA aku pernah mengalami ada orang iseng di jalan siul-siul pas aku lewat. Tapi sensasi mengaduk-aduk emosinya kurang terasa.

Aku pribadi masih menjadikan Purple Prose sebagai buku favorit dari Kak Ari. Karena bener-bener bikin kaget dan gak terima dengan endingnya. Kenapa oh kenapa? Sungguh teganya dirimu 💔. Tapi aku suka cerita yang realistis sih. Jadi Purple Prose masih membekas sampai sekarang. 😆

Sebagai teenlit tentu saja aku sangat merekomendasikan #theboyIknewfromyoutube ini untuk dibaca remaja jaman now dan juga para guru, orang tua dan siapa saja yang tertarik dengan isu mental health. Masih jarang kutemukan teenlit berbobot yang memotivasi seperti ini. Ada peran orang tua dan guru. Dan ceritanya tidak berfokus pada pacaran dan galau-galau remaja. Ada “usaha” para tokoh untuk melangkah maju.

Akhir kata terimakasih banyak kak @alhzeta dan @bukugpu yang sudah memberikan kesempatan membaca dan mengulas buku ini. Bikin nostalgia masa SMA banget! Ditunggu buku selanjutnya. 😍