[Book Review] Words in Deep Blue

Tidak cukup hanya membaca- aku ingin berbicara lewat halaman-halaman buku untuk bisa pergi ke sisi lainnya, untuk menemukan orang yg membaca mereka sebelum aku.

(Hlm 303)

Konnichiwa, Minna-san!

Happy Monday~

Novel Words in Deep Blue yang ditulis oleh Cath Crowley ini menjadi buku pertama yg kuselesaikan di bulan Agustus.

Aku suka covernya. Simpel tapi mewakili ceritanya. Terjemahannya juga luwes. Kayak baca novel lokal aja.


Bagian awal, kita akan bertemu dengan Rachel Sweetie, yang baru saja kehilangan adiknya, Cal. Lukanya masih basah walau sudah hampir 10 bulan, ibunya seperti zombie, hidup terpisah dengan Dad di luar negeri, dan gagal di kelas 12 di Sea Ridge. Jadi, Rachel akan kembali ke Gracetown untuk tinggal dengan bibinya, Rose.

Blurb Words in Deep Blue


Buku ini mengajak kita mengunjungi Howling Books, toko buku bekas di Gracetown, pinggiran kota Melbourne. Howling Books milik keluarga Jones. Michael dan Sophia sudah bercerai, sedang berdebat tentang opsi menjual Howling Books karena tidak menghasilkan. Siapa yg masih membeli buku bekas di saat semua hal bisa dibaca via internet?

Henry Jones, sahabat Rachel, sedang bucin dengan Amy, ketika Rachel pindah ke Sea Ridge. Dan itu mengubah hubungan persahabatan mereka selama tiga tahun terakhir.

Kepindahan Rachel ke Gracetown mengambil peran dalam perjalanan Howling Books, memperbaiki hubungan persahabatannya dengan Henry, serta menerima kepergian Cal.

Yang paling aku suka dari buku ini adalah gagasan tentang Perpustakaan Surat. Ada sebuah ruangan di Howling Books, di mana buku-buku yang ada di ruangan itu tidak dijual dan bisa digunakan bebas untuk ditulisi pinggirannya, digaris bawah, diselipi surat, apapun. Sebuah seni komunikasi antar pembaca. Dan ada Klub Buku yg rutin berjalan.

Alur maju menggunakan pov 1 Rachel dan Henry bergantian.

Ada selingan surat George- Pytheas, Surat Rachel-Henry, George-Martin, Michael-Sophia, dan beberapa selipan lain yg menarik untuk diikuti. Cek aja tanggal surat untuk tau setting waktunya.

Sepanjang baca aku menebak-nebak tokoh Pytheas. Walaupun tebakanku benar tetap saja sepertiga bagian akhir mengaduk emosi.

Buku ini tentang persahabatan, dengan selipan humor dan romance. Tentang berjalan maju setelah kehilangan. Aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapa saja yg hidup bersama buku.

Ada banyak judul buku lain yg disebutkan. Cukup menggugah untuk menambah daftar wishlist. 🤣

Masa lalu ada bersamaku; masa depan belum dipetakan dan bisa berubah. Hak kitalah untuk berimajinasi, membentangkannya di depan kita. Penuh cahaya matahari, biru tua dan kegelapan.

(Hlm 342)

[Book Review] The Boy I Knew From Youtube

Halo~ 🙋‍♀️
Konnichiwa, Minna-san!
Long time no post.

I’m so excited waktu kak @alhzeta posting cover #theboyiknewfromyoutube 😍😍😍 covernya itu lho, cakep!

Aku udah baca beberapa buku Kak Ari sebelumnya: Welcome Home, Rain (Young Adult), Rule of Thirds dan Purple Prose (Metropop). Bisa cek review ketiganya di postingan sebelumnya. Jadi penasaran gimana kalo kak Ari nulis teenlit?

[TEMA]

Highlight buku ini yaitu tentang body shaming, klub musik dan persahabatan virtual.

Selama tiga tahun Rai tidak lagi menyanyi di panggung, bahkan ketika sahabatnya, Kiki berulang tahun.

Ketika menemukan channel Youtube Pie Susu, Rai seperti mendapatkan sarana aktualisasi diri dan memutuskan untuk membuat channel Peri Bisu.

Bertemu Kak Pri, pemilik channel Pie Susu di sekolah sebagai kakak kelasnya ternyata membuat Rai harus menghadapi rasa takutnya.

[POINT OF VIEW]
Kak Ari menggunakan Pov 3 berfokus di Rai, jadi aku cuma bisa nebak-nebak aja sebenarnya Pri curiga gak ya sama Rai? 🤔

[SETTING]
Setting lokasi di Bali, tapi lebih sering di rumah dan sekolah, jadi gak ada lokasi wisata Bali kayak di Rule of Thirds atau Purple Prose. Nuansa Bali tetap terasa dari dialog tokoh yang kadang menggunakan bahasa Bali dan budaya memakai kebaya di hari Kamis, hari Raya Purnama dan hari Raya Tilem.

[ALUR]
Alur yang digunakan yaitu alur maju. Dari awal sudah dijelaskan alasan Rai gak PD. Kak Ari membangun chemistry tokohnya pelan-pelan sampai klimaks.

[PENOKOHAN]
Karakter tokoh-tokohnya cukup konsisten dari awal sampai akhir. Beberapa tokoh tidak tertebak sebenarnya baik atau jahat.

Sayang sekali banyak tokoh yang tidak tereksplor dengan baik karena berfokus dengan Rai dan Pri. Aku berharap lebih banyak penjelasan tentang Dandi, Lolita dan Kiki karena perannya cukup signifikan.

[KONFLIK]
Rai dengan kondisi salah satu bagian tubuhnya lebih besar daripada anak seumurannya tentu saja wajar ketika merasa malu. Aku punya teman dengan kondisi serupa. Wajar banget lho apalagi masih dalam masa pertumbuhan. Tapi sayang sekali Rai terfokus dengan “kekurangan” fisiknya, padahal suaranya bagus.

Ada scene di mana tersebar foto Rai yang membuat anak-anak cowok iseng nonton video tentang ukuran pakaian dalam wanita. Aku gak tau harus ikut sebel atau ketawa. Iya emang semenarik itu kalo udah urusan sama lawan jenis. 😅

Tentang kejadian di parkiran, aku setuju jika tidak ditangani dengan tegas, maka bisa jadi akan ada korban yang lain.

Untungnya kasus Rai tidak sampai melibatkan Psikolog dan Psikiatri karena support keluarga dan teman-temannya sudah cukup bagus.

Karena ini teenlit, tentu saja konfliknya tidak sekompleks Purple Prose dan Welcome Home, Rain. Sekali ini ceritanya lumayan manis. 💙

[REVIEW]
Dibandingkan tiga novel sebelumnya, nuansa persahabatan dan keluarga lebih kental. Bisa kubilang ini teenlit dengan unsur romance minimal. Fokus cerita lebih ke perkembangan tokoh Rai dalam menghadapi rasa tidak percaya dirinya. Peran Kak Pri, Kak Saka, Kiki, Dandi dan Lolita sangat signifikan membuat ceritanya hidup.

Isu yang diangkat Kak Ari menurutku sangat relevan. Masa SMA akan suram atau berkesan tergantung kita dan lingkungan.

Menurutku kurang banyak scene geregetannya. Tebal novel ini hanya 254 halaman. Gak kerasa tau-tau habis.

Lalu penggunaan Pov 3 tentu saja terbatas hanya bisa tau satu sisi dari Rai. Aku berharap disajikan selang-seling dari Pov 3 Pri. Alur maju juga mengurangi keseruan tebak-tebakan.

Kurva cerita di awal flat, pelan-pelan naik, puncak konflik dan menurun menuju ending. Twistnya kurang.

Aku ikut simpati dengan kejadian pelecehan yang dialami Rai di jalan dan di parkiran, karena jaman SMA aku pernah mengalami ada orang iseng di jalan siul-siul pas aku lewat. Tapi sensasi mengaduk-aduk emosinya kurang terasa.

Aku pribadi masih menjadikan Purple Prose sebagai buku favorit dari Kak Ari. Karena bener-bener bikin kaget dan gak terima dengan endingnya. Kenapa oh kenapa? Sungguh teganya dirimu 💔. Tapi aku suka cerita yang realistis sih. Jadi Purple Prose masih membekas sampai sekarang. 😆

Sebagai teenlit tentu saja aku sangat merekomendasikan #theboyIknewfromyoutube ini untuk dibaca remaja jaman now dan juga para guru, orang tua dan siapa saja yang tertarik dengan isu mental health. Masih jarang kutemukan teenlit berbobot yang memotivasi seperti ini. Ada peran orang tua dan guru. Dan ceritanya tidak berfokus pada pacaran dan galau-galau remaja. Ada “usaha” para tokoh untuk melangkah maju.

Akhir kata terimakasih banyak kak @alhzeta dan @bukugpu yang sudah memberikan kesempatan membaca dan mengulas buku ini. Bikin nostalgia masa SMA banget! Ditunggu buku selanjutnya. 😍

Fiksi Berseri

Yonea Bakla’s collection telah hampir mencapai 200 judul. Kalo diliat-liat, perbandingan fiksi dan nonfiksi 50:50. Diiat lebih cermat, yg nonfiksi kebanyakan seri atw trilogi dengan penulis beragam. Tiap penulis punya gaya menulis yang khas. Dalam berbagai karya, penulis yang sama pun tetap tak terlepas dari style-nya.

1. Afifah afra

Hampir semua karya beliau lebih mengutamakan konflik batin, mempertahankan idealisme dan fokus pada komunitas sosial tertentu dengan ending sangat tidak tertebak. Lihat karya beliau:

^ Tentang Sejarah

– Trilogi Bulan Mati di Javashe Orange, Syahid Samurai, dan Peluru di Matamu

Menggambarkan Indonesia sebelum merdeka. Mulai dari masa Belanda, Jepang dan proses-proses menuju kemerdekaan. Buku yang cukup tragis endingnya. Terlihat keseriusan mbak Afra dalam menggarapnya.

Katastrofa Cinta ada sedikit kemiripan dengan trilogi ini, namun dengan tambahan masa Reformasi. Keren. Cerita 3 generasi.

– Jangan Panggil Aku Josephine ada keterkaitan dengan Katastrofa Cinta. Padahal jarak penerbitannya cukup jauh.

– De Winst dan De Liefde –> tampaknya akan menyusul 2 judul lagi, hingga menjadi tetralogi.

^ Tentang dunia kesehatan: Cinta Adinda (tentang Skizophrenia) dan Obituari Kasih (tentang dokter yang bertugas di pedalaman Papua)

^ Tentang Remaja

– Serial Elang, saya baru baca satu judul: Cinta Gaya Britney.

– Princess Diva (serial terbaru)

^ Tentang Isu Kriminalitas

– Trilogi Ilalang

Dengan kasus pabrik kertas mencemari lingkungan perkampungan pinggir sungai.

– Serial marabunta

#1. Topan Marabunta

#2. Kudeta Sang Mabunta

#3. Bunga-Bunga Biru

#4. Ode untuk Cinta

#5. The Return of Baracuda (dimuat secara bersambung di Majalah Girlie zone-Gizone edisi 1 hingga 18)

dengan tokoh utama Topan Segara dan Sabrina (Baracuda).

Mengangkat tema Preman-Sindikat Narkoba-dengan sedikit peran polisi.

Dengan latar Semarang dan Jakarta, serta pesisir pantai selatan Banyumas.

Saya menebak karena mbak Afra berkecimpung di komunitas pinggiran di Surakarta.

2. Azzura Dayana

Saya baru membaca beberapa karyanya, antara lain Rumah Fosil, Birunya Langit Cinta dan Alabaster. Ketiganya menggambarkan petualangan para tokoh. Menceritakan pengalaman dan perjalanan.

3. Jazimah al-Muhyi

Menyelipkan hikmah ditiap cerita. Lihat saja:

– Serial akta

#1. Kelelawar Wibeng

#2. Gendut Oke, Hitam…

#3. Ada Duka di Wibeng

Kumpulan Cerpen Dilema Iman Sandra dan Sketsa Putih.

4. Asma Nadia

Tentu kalian sudah akrab dengan serial Aisyah Putri, Kumcer Rembulan di mata Bunda, Emak Ingin Naik Haji, Ayat Amat Cinta, dll. Penyampaiannya ringan, dengan selingan kocak yang segar, tapi sungguh mengena.

5. Fahri Asiza

Semua ceritanya sinetron banget. Hehe.. Coba baca Menjemput Matahari, Karena Waktu Telah Tiba, dll. Beliau memang expert dalam membuat skenario. Buktinya beliau pernah menggarap Office Boy dan beberapa serial di RCTI.

6. Pipiet Senja

Saya baru membaca Lakon Kita Cinta, namun sudah terbaca bahwa semua buku beliau akan mengangkat tentang perjuangan menghadapi penyakitnya dan mempertahankan keluarganya.

7. Adzimattinur Siregar

Tentang geng remaja yang ngocol abis. Liat Serial Coverboy Lemot 1-3, Loving U, Bubble Gum dan Meski Pialaku terbang (Belum semua saya punya).

Kekompakan Pipiet Senja dan Adzimattinur Siregar dapat dibaca dalam buku “Mom and Me”.

8. M. Irfan Hidayatullah

Ada banyak karya beliau. Namun, yang baru saya baca yaitu Kumcer Dari Ruang Tunggu dan Jangan-Jangan Kamu Bukan Manusia. Sungguh sastra tingkat tinggi, dengan metafora yang agak membingungkan. Haha.. Mungkin saya tidak terbiasa baca yang berat kali ya..

9. Esti Kinasih

Seperti kebanyakan teenlit yang lain, saya akan bisa menebak endingnya. Tapi saya akui mbak Esti bisa mengaduk-aduk emosi pembaca dengan proses kompleks yang seru. Saya baru membaca Fairish dan Trilogi Jingga; Jingga dan Senja, serta Jingga dalam Elegi (Jingga untuk Matahari belum terbit). Saya belum berkesempatan membaca karya beliau yang lain seperti Cewek, Still.. dan Dia tanpa Aku (ada yg punya?)

10. Pramudya Ananta Toer

Dulu, saya pernah iseng baca buku beliau yang judulnya “Bumi Manusia”. Tampaknya itu buku yang paling tebal yang pernah saya baca. Walaupun beliau pernah dapat nobel sastra, tapi saya tidak tertarik membaca buku-buku beliau lainnya. Mesti isinya tidak cocok untuk anak-anak seperti saya. ^^v

11. Deasylawati

Penulis baru ini cukup produktif menulis buku fiksi dan nonfiksi. Saya sudah membaca Ore wa Ren! dan Livor Mortis. Keduanya tidak terlepas dari kehidupan di rumah sakit, terutama Livor Mortis. Saya jadi tersentak. Dalam hampir semua buku yang mengangkat tema kesehatan, yang terlihat hanya peran dokter dan perawat. Peran pharmacist-nya mana?

Ada beberapa penulis lain yang sudah saya baca karyanya. Namun, karena baru satu judul yang saya baca, saya belum bisa membandingkan.

Oiya, ada beberapa penulis yang karyanya tidak diragukan bagusnya. Tapi karena packaging yang terlalu tebal untuk saya, jujur saja, saya agak kurang tertarik membacanya. Sehingga saya belum mampu menginterpretasi gaya menulisnya. Sebut saja: Andrea Hirata, A. Fuadi dan Tere-Liye. Banyak yang merekomendasikan membaca buku-buku karya mereka, namun sampai sekarang belum sempat. Haha.. Tampaknya saya lebih tertarik buku tipis.

Ketika dulu ikut training jurnalistik, sang trainer menanyakan penulis favorit peserta. Menurut beliau, gaya menulis seorang penulis dipengaruhi oleh gaya menulis penulis favoritnya. Entah mempengaruhi berapa persen. So, bagaimana dengan gaya tulisan kita? Jadi teringat, dulu ada seorang teman yang mengeluh “iri”:

Coba liat note di FB, tulisan akhwat tu rata-rata cuma curcol. Sedangkan tulisan ikhwan lebih berbobot. Soale ikhwan tu bacaannya banyak..

Saya mencatatnya sebagai kalimat penyemangat untuk menulis lagi dan lebih banyak membaca. Tidak hanya dari penulis atau penerbit tertentu, tapi mencoba memperluas cakupan bacaan.

Lobi Farmasi, 7 Juni 2011, 11:20

Pernah dipublish di http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150286132268745