Tren Bookish Merch Indonesia (Behind The Scene of Darcy Crate)

Konnichiwa, Minna-san!

Minggu kemarin, aku diundang @agi_eka mewakili @darcycrate untuk segmen #Bibliocorner Spesial membahas tentang bookish merchandise. Agi juga mengundang mba @annienamiez sebagai owner @booksleeve.id

Sejak menjadi bookstagrammer September 2017, aku melihat banyak merchandise shop yang muncul sebagai alternatif pelengkap hobi membaca dan cukup berkembang pesat serta banyak peminatnya. Berikut daftar merchandise dan tokonya:

  1. Booksleeve: @booksleeve.id, @pluviobooksleeve (sudah off), @bonjourbooksleeve, @foyobo.id,
  2. Bookmark: @bookmarque, @kawaiilittlebuddies, @mylilco
  3. Bundling bookmark, journal, stiker, dll: @malvara.id, @kandelalin.id, @blossombookart
  4. Candle: @lumierature.id (sudah off), @litetree, @kandelalin.id
  5. Mug, tumbler kaos, dll: @thescorcerer

Selain itu, aku menemukan adanya subsription box, atau parcel berlangganan di beberapa postingan bookstagram:

  1. Luar negeri: @owlcrate, @owlcratejr, @fairyloot @bookishly.uk, dll
  2. Dalam negeri: @kelontongsihir, @sanwalibrary

Tahun 2017-2018 toko yang kusebutkan di atas cukup ramai peminatnya. Aku hanya sempat membeli beberapa kali bundling yang dibuat oleh @kandelalin.id dan 2 kali subsciption box dalam negeri:

📦 Bookish Merch Box December @bookmarque (Desember 2017)
Tema: Magic and Miracle
Harga = Rp 200.000, DP Rp 80.000, pelunasan via shopee Rp 120.000
Isinya sebagai berikut:

  • Bag library = hand bag berbentuk buku (bisa pilih Alice, Sherlock, Harry Potter dan Six of Crows)
  • Magnetic Bookmark Hogwarts Ghost: Peeves and Lady Gray
  • Wooden bookmark Ghrisha Verse
  • Character card Loki, Tony Stark, Thor
  • Magnetic Pin Avengers
  • Lipbalm Camp of Blood Percy Jackson


📦 April Box @lumierature.id (April 2018)

Tema = Eat, Drink and be Merry

Harga = Rp 265.000, DP 50%, Pelunasan via Shopee.
Isinya sebagai berikut:
Tahun 2019 ada subsciption box @elfcrate dan @wandercrist yang muncul, dan lagi-lagi bertema fantasy, disusul dengan @ufahari.bookishstuff yang menawarkan berbagai produk favorite bookworm

Apa latar belakang berdirinya @darcycrate?

Suatu hari dalam sebuah chat random, aku dan mba Annie mengeluhkan harga merch yang makin mahal, dan beberapa gak mau beli karena terhalang ongkos kirim.

I mean, kalo mau beli bookmark atau booksleeve atau candle 1 pcs, tapi ada minimal 90.000-120.000 supaya dapat gratis ongkir, mau gak mau kan beli yang lain juga. Ujung-ujungnya boros.

Lalu, kami sepakat membuat subs box sendiri. Untuk tema, kami mengambil dari classics literature karena kami berdua suka klasik, dan sebenarnya pembaca klasik di Indonesia cukup banyak. Selain itu, kami tidak perlu mengurus copyright. Konsepnya kami mengkurasi saja, bukan yang produksi, jadi bisa sekalian support small business.

Item yang dipilih yaitu fungsional dan go green. Kami sepakat mengambil nama @darcycrate karena belum ada yang pakai dan menetapkan lokasi basecamp di rumah Mba Annie yang sering kami sebut Pemberley Cabang Bantul.

Terlepas dari misi bisnis, besar harapan kami bahwa @darcycrate bisa berumur panjang dan menghidupkan budaya baca buku klasik di Indonesia.
Sejauh ini sudah 2 box yang berhasil kami rilis dan sedang proses pengerjaan box 3.

  1. Box#1: Pemberley Afternoon Party, based on Pride and Prejudice by Jane Austen
  2. Box#2: Green Gables Spring Picnic, based on Anne of Green Gables by L.M.Montgomery
  3. Box#3: Winter in Neverland, based on Peter Pan by J.M.Barrie

Bagaimana respon Bookstagram di Indonesia terhadap @darcycrate?


Secara umum cukup baik, walaupun memang hasil penjualan belum mencapai target. Karena masih awal, tentu masih ragu-ragu dengan kualitas produk. Apalagi dengan harga yang jauh di bawah rata-rata. Kami lega sekali membaca respon pembeli cukup antusias ketika menerima paketnya.

Paling tidak, box 1 dan 2 sudah menjadi awalan kami untuk bekerja sama dengan bookstagram lain yang memiliki bisnis merchandise serta mengenalkan toko lokal yang kami kenal, tapi mungkin belum pernah diketahui bookstagram lain.

Apa saja item di dalam box @darcycrate?

  1. Large item: booksleeve, cutlery set, ke depan rencananya selang-seling dengan totebag, cushion cover, pouch, dll.
  2. Medium item: candle, tea stainer, coaster, masih dipertimbangkan item mug, mini fan, atau fairy lamp
  3. Small item: magnetic bookmarks, paper bookmarks, stickers, dll.
  4. Surprise item: gelang, serbet, korek api, butter, dan entah apalagi nanti yang kepikiran.
  5. Fixed item: tea. Di box 1 dan 2 kami coba dengan kemasan kaleng, box 3 teh celup, ke depan rencananya akan bervariasi sesuai masukan customer.
Item darcy crate box sebelumnya


Prinsip item yang dipilih yaitu harus bisa digunakan sehari-hari dan juga bisa menjadi properti foto yang menarik. Sebisa mungkin harganya terjangkau supaya memudahkan pembeli.

Price List:
Box 1 (Januari 2020)
Paket A (tanpa buku) = Rp 150.000
Paket B (dengan buku) = Rp 230.000

Box 2 (Maret 2020)
Paket A (tanpa buku) = Rp 175.000
Paket B (dengan buku) = Rp 225.000

Box 3 (Desember 2020)
Paket A (tanpa buku) = Rp 250.000
Paket B (dengan buku) = Rp 310.000

Harga bervariasi tergantung item isiannya. Tapi semoga ke depannya harganya bisa fixed segitu, gak naik lagi.

Sistem pembayaran 2x, pelunasan di shopee Rp 120.000, DP sisanya via transfer ke BCA, OVO atau Gopay. Diskon 10% untuk batch 1 dan 5% untuk batch 2. Jika ada sisa produksi, kami akan menjualnya secara satuan setelah semua pesanan terkirim.

Apa saja harapan dan rencana @darcycrate ke depannya?


Harapannya DC bisa lanjut terus. Kemarin sempat hiatus karena pandemi. Semoga selanjutnya tidak ada kendala lagi.

Timeline 2021:
Box 4: Maret 2021
Box 5: Juni 2021
Box 6: September 2021
Box 7: Desember 2021

Tema yang akan diangkat yaitu middle grade english classics yang belum pernah dilirik. Untuk sementara kami mencoret Alice’s Adventures in Wonderland dan Little Prince karena sudah banyak yang membuatnya. Jika ada usulan bisa DM @y0nea saja. 😁

Selanjutnya, setiap pembeli berhak mendapatkan voucher diskon 10% yang dapat digunakan pada pembelian berikutnya.

Selain itu akan ada member card bagi yang sudah setia mendukung @darcycrate sejak box pertama. Member akan mendapatkan diskon 15% selama 2021. Info tentang sistem membership akan kami umumkan kemudian.

Doakan lancar dan gak ada kendala ya. Untuk box#4 sudah ada temanya. Silahkan menabung dari sekarang. Oiya, untuk box#3 masih bisa dipesan sampai 30 November 2020. Jangan sampai kelewatan karena produknya bagus-bagus banget! Cek instagram @darcycrate untuk keterangan lengkap.

Have a nice day!

Review Buku Berbayar, Why Not?


Konnichiwa, Minna-san!

Kali ini aku mau membahas tentang kerjasama review buku. Ini termasuk isu yang selalu ramai dibahas di kalangan #Bookstagram, tapi tampaknya belum ada titik terang. Istilahnya masih belum ada masa depan cerah.

Mari kita samakan persepsi bahwa bookreviewer disini bukan dalam kapasitas sebagai ahli bahasa, kritikus atau apa karena tidak banyak bookstagram yang memiliki background keilmuan sastra. Review buku di sini adalah pandangan pribadi, yang kita bagikan karena mendapatkan pengalaman membaca suatu buku yang mana hal ini subjektif dan tergantung selera masing-masing. Bisa di awal baca, ketika membaca dan selesai membacanya.

Oke, balik dulu ke jaman awal aku jadi bookstagram, sekitar September 2017. Aku tau bahwa komunitas ini ada untuk menunjukkan bahwa sebagian pengguna instagram ada yang suka buku dan aktivitas membaca. Hal ini bisa dilihat dari postingan di instagramnya berupa foto buku aesthetic, maupun caption yang sangat menarik sehingga pembacanya merasa mendapat rekomendasi bacaan. Ada 3 macam review, positif (endorsement), negatif (rant review) dan review berimbang (plus-minus).

Tujuan review atau resensi buku tentu saja sebagai pertimbangan pembaca lain dalam hal memilih bacaan. Ada aplikasi goodreads.com untuk melihat rating buku secara umum. Tidak dipungkiri bahwa sebagian followers akan tertarik membaca bahkan membeli buku yang diposting reviewnya oleh bookstagram. Istilahnya saling menebar ratjun berantai.

Awal menjadi bookstagram, aku mendapat info kalau ada peluang dapat buku gratis melalui giveaway buku atau looking for bookstagram yang diadakan oleh penulis, penerbit maupun akun bookstagram lain. Wah, tentu saja ini adalah angin segar buat aku yang sudah belasan tahun mengoleksi buku dari kantong sendiri. Kan lumayan ya budget beli buku buat beli yang lain. Begitulah kira-kira yang kupikirkan dulu.

Tahun 2018, aku mulai mendaftar beberapa kali dalam event pencarian bookstagram ini. Paling tidak terpilih 1-2x per bulan. Sistem pencarian bookstagram adalah, kamu mendapat buku gratis dari penulis/penerbit. Lalu akan dijadwal untuk posting selama 5 hari secara bergantian. Bayangkan, review 1 buku dibagi menjadi 5 kali postingan. Kamu harus menyiapkan waktu untuk membaca supaya selesai sebelum jadwal tayang, mengalokasikan waktu untuk mendapatkan 5 foto yang berbeda supaya tidak bosan dan juga mengetik caption review. Luar biasa kan?

Apakah ada bayarannya? Oh, tentu tidak. Paling bagus ada like dan komen ucapan terima kasih dari penulis/penerbit atau bahkan review direpost di feed atau story. Tapi kadang ada juga yang bahkan tanda like pun tak ada. Haha. Seiring waktu aku mulai selektif dan kemudian fokus memperbaiki konten. Tujuan awal aku bergabung bookstagram adalah upgrade fotografi. Jadi ya, kerjasama review buku bukan prioritasku.

Lalu, melihat trend makin banyak postingan buku di instagram dan munculnya para #bookstagrammer, tampaknya penulis dan penerbit memanfaatkan ini sebagai peluang promosi . Tidak sedikit yang kemudian diajak kerjasama untuk promosi buku yang akan terbit. Harapannya, postingan bookstagram bisa meningkatkan target penjualan atau paling tidak memperluas ruang lingkup informasi terkait buku tersebut. Masa promosi sekitar 3-6 bulan. Setelah itu, buku dianggap sudah lewat masa promosi dan bisa jadi ditarik dari toko buku.

Lalu, aku mendengar bahwa di luar negeri konten review buku itu berbayar. Lalu, kupikir benar juga ya. food blogger dan beauty blogger kan dapat produknya untuk dicoba dan mereka mendapat bayaran juga. Kenapa book blogger, bookstagram dan booktuber tidak? Di sini buku sama dengan produk bukan? Tapi tidak sedikit juga penulis dan penerbit yang merasa sudah menggratiskan bukunya, masa harus membayar juga? Feedback ke mereka apa?

Aku melihat di sini iklimnya masih saling menuntut berupa angka.

Oke, aku mau sharing tentang dibalik layar sebuah konten review buku bisa muncul:

  1. Buku diterima pembaca (entah dengan membelinya di toko buku maupun mendapat buku dari penulis/penerbit.
  2. Membaca buku. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca buku 300 halaman, rata-rata 2-3 jam. Ya kalo cocok. Kalo ada banyak keluhan semacam salah ketik, gak cocok writting style-nya, gak suka tokohnya, ceritanya gak masuk akal, dll, mungkin seminggu bahkan tidak selesai.
  3. Menyiapkan foto. Bisa dilihat macam-macam gaya foto, ada yang minimalis (minim properti), ada juga yang maksimalis (full props). Indoor maupun outdoor ada effortnya masing-masing.
  4. Mengedit foto. Aplikasi yang umum digunakan yaitu Snapseed, Lightroom, VSCO, Picsart, dll. Hanya supaya hasil foto lebih menarik dan eye catching kadang membutuhkan waktu berjam-jam.
  5. Mengetik caption. Ini yang susah sebenarnya, karena pengalaman membaca setiap orang berbeda tidak mungkin copy-paste review orang kan? belum lagi supaya engagement tinggi, harus mencari kalimat yang interaktif. Kalo cuma caption datar ya biasanya cuma di-skip aja.
  6. Memposting. Ini juga butuh effort. Baik posting di IG feed maupun di IG Story, kita harus membalas komentar dan juga butuh kuota internet.

Setelah melakukan poin 1-6 apakah cukup dengan dikasih buku gratis tanpa kompensasi? Padahal jika si Pembaca tidak mendapat buku tersebut dari penulis/penerbit, dia bebas untuk membaca buku yang sesuai minatnya dan juga tidak perlu kejar tayang sesuai jadwal posting.

Antrian baca yang tertunda

“Aku khawatir, kesenangan pada buku dan aktivitas membaca berubah menjadi suatu hal yang dibenci nantinya karena dilakukan dengan terpaksa.”

(kak Oni, 2020)

Mari melihat kegiatan review buku ini sebagai salah satu bentuk jasa. Jasa foto setauku ada tarifnya sendiri. Resensi buku yang dimuat di koran pun ada kompensasinya sendiri. Bookstagram ini terlalu baik menurutku. Sudah tidak dapat bayaran, masih mau dikasih tugas macam-macam juga.

Bentuk kompensasi yang bisa diberikan penulis/penerbit:

  1. Fee berupa uang/pulsa/e-money
  2. Buku bonus, misalnya 1 buku untuk direview, 1 buku hadiah tanpa keharusan review
  3. Voucher diskon belanja buku
  4. Merchandise

Dan yang paling penting adalah saling menghargai supaya tetap bisa bekerjasama nantinya. 😁

Oke, segitu dulu bahasan hari ini. Bisa sharing pengalaman kalian di kolom komentar atau via DM ke Instagram @y0nea. Have a nice day~

[Bookish Talk 4.0] Scavenger Hunt

Konnichiwa, Minna-san!

Ketemu lagi dalam postingan blog. Aktivitas akhir-akhir ini bikin mood baca terjun bebas. Untungnya ada komunitas #bookstagram yang bikin tetap semangat walau tetap belum bikin mood baca membaik. Lol.

Nah, pekan lalu, kak Sandrine mengajak aku untuk ikut dalam event Bookish Talk di akun YouTube SanwaLibrary. Kak Sandrine juga mengajak Sherry, Tata dan Karina untuk meramaikan event Scavenger Hunt kali ini. ada yang belum pernah dengar games ini?

Jadi sistemnya, Kak Sandrine menyebutkan clue dan kami akan mencari buku yang ada di rak kami masing-masing, kemudian menunjukkannya. Lumayan seru karena jadi semacam #bookshelvestour tapi tematik. Rencana awal 1 jam jadi molor hampir 2 jam karena seru banget ngobrolnya.

Kami menggunakan fasilitas zoom meeting yang terhubung dengan live di YouTube, sehingga bisa ditonton oleh followers yang sedang online saat itu. Video lengkapnya semoga segera tayang di kanal youtube Sanwa Library.

Berikut prompt yang disebutkan kak Sandrine dan jawabanku.

1. Buku yang difitur di post pertama di bookstagramnya = The Life-changing Magic of Tidying Up- Marie Kondo.

2. Buku yang sering muncul di feed bookstagramnya = Kim Ji-Yeong

Aku gagal paham, kukira muncul di beranda, wkkw. Aku ambil Kim Ji-Yeong karena hype banget. Tapi yang sering aku posting di feed yaitu Harry Potter Series dan English Classics Jane Austen.

3. Buku dengan cover sesuai warna baju yang dipakai = Beauty and The Beast movie novelisastion.

4. Buku yang bikin hangover = Harry Potter dan Relikui Kematian

5. Buku yang bikin nangis mewek = Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran

6. TBR terlama = Ready Player One

7. Buku termahal yang pernah dibeli = Pride and Prejudice Season Edition Winter terbitan Thomas Nelson (259k). Covernya laser cutting Hardcover limited 10.000 eks.

8. Bukan buku YA = Metropop Ilana Tan 4 Musim

9. Buku dengan gambar bunga di cover = Alice in Wonderland Puffin Classics

10. Buku yang karakter tokoh utamanya paling nggak disukai = After 10 Years – Bey Tobing

11. Buku serian yang ga match = Fantastic Beast – J.K.Rowling. Buku 1 Paperback Versi terjemahan bahas Indonesia, buku 2 Hardback UK version.

12. Buku dengan ilustrasi di dalam bukunya = Harry Potter dan Kamar Rahasia edisi Ilustrasi GPU

13. Buku yang ada judul you atau kamu = Walking After You – Windry Ramadhina

14. Buku tertua yang dimiliki = Sense and Sensibility (cetak pertama 1811) kalo yang ada di rak Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran edisi terjemahan terbitan pertama 2006.

15. Buku yang paling di favoritkan dan di rekomendasikan = The Life-changing Magic of Tidying Up- Marie Kondo dan Harry Potter Series.

Semoga bisa jadi rekomendasi bacaan buat kalian ya. Buat yang masih penasaran bisa DM aja ke akun Instagramku @y0nea

Happy reading!

[Book Review] Words in Deep Blue

Tidak cukup hanya membaca- aku ingin berbicara lewat halaman-halaman buku untuk bisa pergi ke sisi lainnya, untuk menemukan orang yg membaca mereka sebelum aku.

(Hlm 303)

Konnichiwa, Minna-san!

Happy Monday~

Novel Words in Deep Blue yang ditulis oleh Cath Crowley ini menjadi buku pertama yg kuselesaikan di bulan Agustus.

Aku suka covernya. Simpel tapi mewakili ceritanya. Terjemahannya juga luwes. Kayak baca novel lokal aja.


Bagian awal, kita akan bertemu dengan Rachel Sweetie, yang baru saja kehilangan adiknya, Cal. Lukanya masih basah walau sudah hampir 10 bulan, ibunya seperti zombie, hidup terpisah dengan Dad di luar negeri, dan gagal di kelas 12 di Sea Ridge. Jadi, Rachel akan kembali ke Gracetown untuk tinggal dengan bibinya, Rose.

Blurb Words in Deep Blue


Buku ini mengajak kita mengunjungi Howling Books, toko buku bekas di Gracetown, pinggiran kota Melbourne. Howling Books milik keluarga Jones. Michael dan Sophia sudah bercerai, sedang berdebat tentang opsi menjual Howling Books karena tidak menghasilkan. Siapa yg masih membeli buku bekas di saat semua hal bisa dibaca via internet?

Henry Jones, sahabat Rachel, sedang bucin dengan Amy, ketika Rachel pindah ke Sea Ridge. Dan itu mengubah hubungan persahabatan mereka selama tiga tahun terakhir.

Kepindahan Rachel ke Gracetown mengambil peran dalam perjalanan Howling Books, memperbaiki hubungan persahabatannya dengan Henry, serta menerima kepergian Cal.

Yang paling aku suka dari buku ini adalah gagasan tentang Perpustakaan Surat. Ada sebuah ruangan di Howling Books, di mana buku-buku yang ada di ruangan itu tidak dijual dan bisa digunakan bebas untuk ditulisi pinggirannya, digaris bawah, diselipi surat, apapun. Sebuah seni komunikasi antar pembaca. Dan ada Klub Buku yg rutin berjalan.

Alur maju menggunakan pov 1 Rachel dan Henry bergantian.

Ada selingan surat George- Pytheas, Surat Rachel-Henry, George-Martin, Michael-Sophia, dan beberapa selipan lain yg menarik untuk diikuti. Cek aja tanggal surat untuk tau setting waktunya.

Sepanjang baca aku menebak-nebak tokoh Pytheas. Walaupun tebakanku benar tetap saja sepertiga bagian akhir mengaduk emosi.

Buku ini tentang persahabatan, dengan selipan humor dan romance. Tentang berjalan maju setelah kehilangan. Aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapa saja yg hidup bersama buku.

Ada banyak judul buku lain yg disebutkan. Cukup menggugah untuk menambah daftar wishlist. 🤣

Masa lalu ada bersamaku; masa depan belum dipetakan dan bisa berubah. Hak kitalah untuk berimajinasi, membentangkannya di depan kita. Penuh cahaya matahari, biru tua dan kegelapan.

(Hlm 342)

Tips Koleksi Funko

Hello~ Konnichiwa, Minna-san!

Long time no post. Selama Ramadan aku rehat karena sakit dan masa pemulihan. Jadi speed baca menurun drastis dan lebih banyak baca komik. Bulan Juni ini aku memulai program baru, #bookstagramsaturdate di akun instagram berkolaborasi dengan beberapa bookstagrammer lain sehingga lebih interaktif.

Episode perdana #bookstagramsaturdate sudah tayang Sabtu, 13 Juni 2020 mengundang @dianmatsu

Dian adalah seorang guru bahasa Jepang yang suka mengkoleksi funko. Sejauh ini ada 13 Funko yang berhasil dikumpulkan Dian. Tips koleksi funko ala Dian yaitu:

  1. Cari tokoh yang benar-benar disuka
  2. Cek harga di market place terpercaya
  3. Nabung sampai celengan cukup
  4. Rajin-rajin cek info diskon
  5. Pastikan asli, bisa chat seller dulu supaya yakin kondisi masih bagus (terutama produk preloved/second)

Tonton video lengkapnya di IGTV @y0nea ya.