Review Novel Metropop The Case We Met

Konbanwa, Minna-san!

Long time no post. Setelah sekian lama, akhirnya aku memutuskan untuk mengganti id blog, semoga jadi penyemangat untuk rajin posting di blog karena sudah bayar, haha, kembalikan tabunganku!

Well, seperempat tahun pertama 2020, aku menemukan bahwa Gramedia Pustaka Utama sedang gencar menerbitkan novel Metropop. Mengingat segmen pembaca sekarang mayoritas remaja dan dewasa muda, tentu saja kisah dengan tokoh kuliah dan kerja akan banyak peminatnya.

Btw, salah satu novel terbaik yang kubaca bulan ini yaitu Metropop The Case We Met, yang ditulis oleh Flazia, akronim dari nama asli penulis, Fildzah Izzati Achmadi, yang kemudian setelah berkenalan ternyata beliau adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM, beberapa tahun di bawahku. Oh, tentu saja aku bukan dokter. Tapi Farmasi dan Kedokteran hanya dipisahkan satu pagar. Yah, dunia ini sempit.

Pertama aku tahu buku ini bukan karena kenal secara pribadi dengan penulis. Aku seperti biasa setiap weekend melihat situs gpu.id untuk mengetahui info buku yang akan terbit. Cover merah dengan ilustrasi dokter tentu saja menarik perhatianku. Bukan karena aku naksir dokter atau apa, tapi novel dengan latar dunia kesehatan selalu membangkitkan semangat bacaku. Ya, kadang aku ingin melihat sisi lain dari dunia kesehatan yang kugeluti.

Blurb

Sign in as Redita Harris
From : Ratu Maheswari < ratumahestjip@chef.net >
Subject : Re: Re: Baca NY Times

Dita, kamu bahkan masuk berita NY Times karena mendadak ambruk waktu sidang dan orang jadi ngira kamu mau dibunuh sama lawan kamu—you should take a break, for God’s sake! Jadi, kenapa juga tiba-tiba kamu ribet ngurusin kasus malapraktik di sini? Kamu bahkan udah nggak ketemu Natan bertahun-tahun, dan terakhir kali ketemu pun kamu masih gagap-bisu di depan dia! Masih nanya sebaiknya kamu terima jadi pengacara dia atau nggak? Kecuali hati kamu akhirnya berhasil beralih, yang jelas ini bukan keputusan yang bagus, Red.

Sign in as Natanegara Langit
From : Akbar Zaydan < dn.akbr@dr.com >
Subject : Butuh Propofol?

Nat, someone said that being a good doctor is like being a goalkeeper. No matter how many goals you’ve saved, people will only remember the one you missed. Kematian pasien kali ini jelas bukan salah kamu, dan rumah sakit lagi sibuk cari jalan keluar, jadi kenapa sekarang kamu malah ke New York? Harus dianestesi biar diem, hah? Persetan sama konferensi di Wyndham. Kami tahu kamu nggak akan lari, jadi ayo cepet balik. Dita datang ke rumah sakit pagi ini, cari kamu.

Redita Harris, pengacara muda selebram yang dijuluki Red Riding Hijab, sedang menangani kasus malapraktik dr. Mark Ashton di New York, ketika tiba-tiba dr. Natanegara Langit, Sp.An. muncul di hadapannya.

Rehanda Harris (Rehan), kakak Dita yang juga pengacara, lebih sering menangani kasus sengketa perusahaan dan korupsi, meminta Dita untuk menangani kasus tuduhan malpraktik Natan.

Lalu bagaimana Dita menangani kasus ini jika bertemu Natan saja tidak berani?

The case we met

Tema

The Case We Met menyuguhkan tema yang tidak biasa: dunia kedokteran dan dunia hukum dalam satu bahasan. Kasus Malapraktik di dunia kedokteran tentu bukan hal baru. Penulis yang memiliki background dokter, tentunya butuh banyak riset terkait kasus hukum dan bagaimana penyelesaiannya.

Dari segi romance, aku bilang ceritanya sangat berbeda dengan Metropop kebanyakan; instalove/baru ketemu sudah jadian, CLBK dengan mantan, atau bos dan bawahan yang jadian. Dalam The Case We Met kita akan menemukan hubungan yang terjalin karena rasa kagum, cinta bertepuk sebelah tangan dan keinginan untuk menjaga diri dari interaksi lawan jenis. Terdengar seperti novel Islami? Tentu saja tidak bisa disimpulkan seperti itu.

Alur

Alur maju-flash back tidak membuat bingung. Tapi kadang agak bikin mikir dengan timeline yang maju-mundur. Terlalu banyak detail yang walaupun relevan, tapi potensial bikin bosan. Aku bahkan membuat timeline dan menebak setting waktu karena tidak ada keterangan tanggal di awal bab. Agak mencengangkan juga mengetahui Dita belum 25 tahun, sementara Natan sudah 31. Padahal disebutkan bahwa Dita kelas sepuluh ketika Natan kelas dua belas, kenyataan bahwa Dita masuk kelas akselerasi dan menjadi mahasiswa termuda (15 tahun) membantah kemungkinan waktunya yang tidak sinkron.

Karakter Tokoh

Redita Harris

Bisa dibilang Dita menjadi model muslimah masa kini; berkemauan kuat, cepat belajar, cerdas, mandiri dan tau bagaimana mengoptimalkan potensinya. Aku suka bahwa penulis tidak menggambarkan tokoh yang 100% sempurna. Dita juga memiliki kekhawatiran wanita seusianya; menikah dengan lelaki yang akan membatasi ruang geraknya.

Natanegara Langit

Natan berasal dari keluarga dokter-pilot di Bandung. Bungsu dari empat bersaudara, ketiga kakaknya perempuan. Ibunya yang seorang pilot menjadi role model wanita idaman Natan. Meninggalnya dr. Guntur ketika Natan SMP menyisakan luka dalam hingga akhirnya Natan dipindah ke Yogyakarta, tinggal bersama kakak tertuanya, Ambar.

Konflik

Walaupun ini buku penulis pertama yang kubaca, tapi aku langsung klik dan otomatis masuk kategori novel page turner. Opening di New York jujur saja bikin aku susah loadingnya. Apalagi bahasa yang digunakan cukup formal seperti novel terjemahan. Wait, ini serius metropop?

Bagian awal antara Natan dan Dita seperti anjing dan kucing. Natan ditakuti Dita karena sangat galak ketika SMA, dan setelah tidak bertemu selama enam tahun, mau tidak mau Dita harus menghadapinya. Belum lagi ada Akbar Zaydan, sahabat Rehan yang ditaksir Dita, ternyata sudah menikah dan Taraksa Adam, jaksa muda yang sempat menjadi tunangannya, terus berusaha untuk memperbaiki hubungan.

Jujur saja, ini rekor Metropop tertebal yang pernah kubaca! Oke, aku memang sudah membaca Harry Potter dan Piala Api yang tebalnya 896 halaman. Tapi, serius. Metropop itu setauku cuma 300an halaman. Ini kesambet apa sih penulisnya bisa nulis 440 halaman?

Lalu, karena aku agak bosan dengan detail di awal, seperti biasa aku loncat baca setengah terakhir. (Jangan di tiru) Eh, ternyata setting pindah ke Yogyakarta. Baik. Mari balik baca dari awal. Melewati seperempat pertama bahasan mulai mengalir sehingga mudah untuk diikuti.

Aku cuma bisa pesan bacanya harus sabar karena ada banyak lapisan bawang. Kita akan diajak menyelami tentang pribadi Natan, kondisi keluarganya, alasan kenapa Natan yang dikenal sebagai serigala SMA 1, akhirnya jadi dokter anestesi, tentang Prof. Dewo, dan tentang Ditaniar Bagaskara.

Point of View

Penulis menggunakan pov 3 bergantian Dita dan Natan, sehingga pembaca bisa melihat dari kedua sisi secara utuh.

Yang Aku suka

Novel Metropop The Case We Met ini menyajikan bahasan kedokteran, suasana di kamar operasi dan ruang sidang cukup berimbang. Pembaca akan mendapat informasi baru di dunia hukum dan kedokteran tanpa harus sering-sering membuka google. Ada 47 catatan kaki, penjelasan via dialog antar tokoh serta informasi dalam bentuk deskripsi.

Ada banyak tokoh lain yang meramaikan, Risa, Mba Yasmin dan Val, rekan kerja di Diah Hasibuan & Partners. Jadi, selain merasakan berada di rumah sakit, pembaca akan merasakan atmosfer firma hukum juga. Menurutku menarik karena belum banyak novel lokal yang membahas tentang ini.

Salah satu yang membuatku nyaman membacanya karena aku bisa menebak lokasi cerita, dimana RS dr. Harsono, Steak A Break di Gejayan, Shelter Trans Jogja Seturan Raya, dan rumah Dita di daerah Pakem, Kaliurang atas yang dinginnya kayak di Puncak. Deskripsi lokasi juga memanjakan visual pembaca.

Chemistry tokoh juga dibangun pelan-pelan. Gak ada plot twist, tapi aku cukup salut karena minim plot hole dan semua tokoh punya peran.

Kekurangan

Ada banyak pembaca yang langsung menyerah melihat tebal buku >400 halaman. Seperti yang sudah kutulis di atas. terlalu banyak detail sehingga membuat kontennya terlalu padat dan halamannya menjadi banyak.

Seperempat bagian terakhir menurutku manis, tapi penyelesaiannya kurang puas. Penyerangan di tangga darurat apartemen Natan menurutku kurang relevan dan kurang dramatis. Entah karena memang sudah terlalu tebal sehingga dipotong atau apa. Mungkin ingin menampilkan plot twist tapi sayangnya kurang greget.

Pesan yang ingin disampaikan

Jika Metropop selama ini lebih banyak mengeksplor kehidupan kaum urban di Jakarta, The Case We Met mengungkap kehidupan sederhana di Yogyakarta. Mindset patriarki di Jawa, runtuh dengan sikap tokoh yang mengedepankan tuntunan Islam.

She wasn’t waiting for a knight, she was waiting for a sword.

Love Her Wild – Atticus (page 362)

Novel ini cocok dibaca kalangan medis, bisa jadi referensi di kalangan orang-orang yang bergerak di bidang hukum, serta semua pembaca yang suka romance, terutama dengan nuansa Islami. Aku tidak ragu memberi 4 bintang pada Novel Metropop The Case We Met ini karena sarat informasi dan cukup menghibur.

Identitas Buku

Judul: The Case We Met
Penulis: Flazia
Penyunting: Miranda Malonka
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-1, 2020
Tebal buku: 440 halaman
ISBN: 978-602-063-597-2
Rating: 17+
Harga: Rp 110.000

Continue reading “Review Novel Metropop The Case We Met”

[Book Review] Polaris Musim Dingin

Halo~ 🙋‍♀️
Konbanwa, Minna-san!

Beberapa waktu lalu aku mendapatkan kiriman hadiah giveaway #PolarisMusimDingin dari kak @alicialidwina_ どうもありがとうございます!

Sejak pertama melihat cover novel ini di web gpu.id aku langsung naksir! 😍😍😍 Dasar aku, lemah pada buku sampul cakep. Apalagi ini biru langit malam dan salju. Otomatis masuk wishlist.

Hal lain yang membuatku tertarik membaca buku ini karena kak Alicia mengambil setting di Otaru, sebuah kota kecil di bagian utara Jepang, yang jarang kutemui di novel lain. I mean, tentu mudah menemukan novel dengan setting lokasi Tokyo, Kyoto, Fukuoka, Hokkaido, Sapporo, tapi Otaru? Baru kali ini kayaknya.

Otaru adalah kota kecil di Hokkaido, yang memiliki kanal yang cantik. Tapi biasanya para turis yang berkunjung ke Hokkaido memilih mendaki Fuji-san atau ke Sapporo saja.

Yah, walaupun belum pernah membaca buku penulis sebelumnya, aku tidak ragu untuk mencoba. Apalagi setelah melihat ulasan buku-buku sebelumnya yang cukup bagus di goodreads.com

Berikut Blurbnya:

20200223_163412

❓Sekuat apa ikatan Akari-chan dengan Sensei? Siapakah Hironobu Gen-san?

Sejak baca halaman pertama, aku sudah penasaran dan gak sabar baca sekali duduk. Tapi apa daya, cuma bisa baca pas malem aja dan akhirnya selesai dalam seminggu.

Penulis menggunakan pov 1 Higashino Akari. Sejak awal kita bisa merasakan sepinya hidup Akari sebelum bertemu Sensei, perempuan paruh baya pemilik kedai Shirokuma Bistro.

Ini tipe bacaan yang cocok banget sama aku. Diksinya bagus, plotnya rapi, alurnya maju-mundur bikin geregetan, dan tokoh-tokohnya berasa hidup. Deskripsi lokasi, budaya, dan waktunya lumayan detail, benar-benar memanjakan orang visual. Pengen banget ke Jepang!

Format novel ini dibagi menjadi 3 bagian: satu-dua-tiga

Dengan deskripsi tentang pertemuan di masa lalu- perpisahan di masa lalu dan pertemuan di masa kini.

Kita akan berkenalan dengan empat orang yang hidupnya berubah sejak bertemu Sensei:
👩Higashino Akari
👦Kitagawa Kyouhei
🧒Minami Ryuji
👧Nijishima Misaki

Membaca #PolarisMusimDingin membuatku teringat dengan perjalanan mudik lebaran tahun lalu: Jogja-Palembang PP tapi pake jalur darat dan udara mampir Jakarta dan Lampung. 🤣

Aku bisa bayangin gimana perjalanan Akari-chan dari Otaru (Hokkaido, Jepang Bagian Utara) ke tujuan akhir di Jepang paling selatan. 😱

Ceritanya mengaduk-aduk emosi, mengandung sedikit bawang, tapi plot twistnya gak bikin kaget-kaget amat sih. Aku suka eksekusinya realistis dan manis (?). Hingga di halaman 413 aku masih merasa kurang tebal. *dilempar bola salju sama kak Alicia* ⛄

Buku ini nyaris gak ada yang bikin aku gak puas, kecuali typo di halaman 189, 411 dan 413. Yang bikin terganggu terkait timelinenya, di halaman 19 disebutkan Akari ketemu Sensei 7 tahun lalu. Sensei pergi setahun kemudian. Di blurb disebutkan Sensei menghilang 5 tahun lalu, padahal ada jeda sekitar 7-8 tahun sampai Kyouhei, Ryuji dan Misaki mencapai impian masing-masing. Tinggal disinkronkan aja sih. Entah ditulis tahunnya di awal bab atau gimana gitu biar pembaca gak bingung.

Yang jelas aku penasaran dengan buku kak Alicia yang lain.

Rating usia: 15+
Rating: 4,8/5🌟

Peta Jepang

[Book Review] The Boy I Knew From Youtube

Halo~ 🙋‍♀️
Konnichiwa, Minna-san!
Long time no post.

I’m so excited waktu kak @alhzeta posting cover #theboyiknewfromyoutube 😍😍😍 covernya itu lho, cakep!

Aku udah baca beberapa buku Kak Ari sebelumnya: Welcome Home, Rain (Young Adult), Rule of Thirds dan Purple Prose (Metropop). Bisa cek review ketiganya di postingan sebelumnya. Jadi penasaran gimana kalo kak Ari nulis teenlit?

[TEMA]

Highlight buku ini yaitu tentang body shaming, klub musik dan persahabatan virtual.

Selama tiga tahun Rai tidak lagi menyanyi di panggung, bahkan ketika sahabatnya, Kiki berulang tahun.

Ketika menemukan channel Youtube Pie Susu, Rai seperti mendapatkan sarana aktualisasi diri dan memutuskan untuk membuat channel Peri Bisu.

Bertemu Kak Pri, pemilik channel Pie Susu di sekolah sebagai kakak kelasnya ternyata membuat Rai harus menghadapi rasa takutnya.

[POINT OF VIEW]
Kak Ari menggunakan Pov 3 berfokus di Rai, jadi aku cuma bisa nebak-nebak aja sebenarnya Pri curiga gak ya sama Rai? 🤔

[SETTING]
Setting lokasi di Bali, tapi lebih sering di rumah dan sekolah, jadi gak ada lokasi wisata Bali kayak di Rule of Thirds atau Purple Prose. Nuansa Bali tetap terasa dari dialog tokoh yang kadang menggunakan bahasa Bali dan budaya memakai kebaya di hari Kamis, hari Raya Purnama dan hari Raya Tilem.

[ALUR]
Alur yang digunakan yaitu alur maju. Dari awal sudah dijelaskan alasan Rai gak PD. Kak Ari membangun chemistry tokohnya pelan-pelan sampai klimaks.

[PENOKOHAN]
Karakter tokoh-tokohnya cukup konsisten dari awal sampai akhir. Beberapa tokoh tidak tertebak sebenarnya baik atau jahat.

Sayang sekali banyak tokoh yang tidak tereksplor dengan baik karena berfokus dengan Rai dan Pri. Aku berharap lebih banyak penjelasan tentang Dandi, Lolita dan Kiki karena perannya cukup signifikan.

[KONFLIK]
Rai dengan kondisi salah satu bagian tubuhnya lebih besar daripada anak seumurannya tentu saja wajar ketika merasa malu. Aku punya teman dengan kondisi serupa. Wajar banget lho apalagi masih dalam masa pertumbuhan. Tapi sayang sekali Rai terfokus dengan “kekurangan” fisiknya, padahal suaranya bagus.

Ada scene di mana tersebar foto Rai yang membuat anak-anak cowok iseng nonton video tentang ukuran pakaian dalam wanita. Aku gak tau harus ikut sebel atau ketawa. Iya emang semenarik itu kalo udah urusan sama lawan jenis. 😅

Tentang kejadian di parkiran, aku setuju jika tidak ditangani dengan tegas, maka bisa jadi akan ada korban yang lain.

Untungnya kasus Rai tidak sampai melibatkan Psikolog dan Psikiatri karena support keluarga dan teman-temannya sudah cukup bagus.

Karena ini teenlit, tentu saja konfliknya tidak sekompleks Purple Prose dan Welcome Home, Rain. Sekali ini ceritanya lumayan manis. 💙

[REVIEW]
Dibandingkan tiga novel sebelumnya, nuansa persahabatan dan keluarga lebih kental. Bisa kubilang ini teenlit dengan unsur romance minimal. Fokus cerita lebih ke perkembangan tokoh Rai dalam menghadapi rasa tidak percaya dirinya. Peran Kak Pri, Kak Saka, Kiki, Dandi dan Lolita sangat signifikan membuat ceritanya hidup.

Isu yang diangkat Kak Ari menurutku sangat relevan. Masa SMA akan suram atau berkesan tergantung kita dan lingkungan.

Menurutku kurang banyak scene geregetannya. Tebal novel ini hanya 254 halaman. Gak kerasa tau-tau habis.

Lalu penggunaan Pov 3 tentu saja terbatas hanya bisa tau satu sisi dari Rai. Aku berharap disajikan selang-seling dari Pov 3 Pri. Alur maju juga mengurangi keseruan tebak-tebakan.

Kurva cerita di awal flat, pelan-pelan naik, puncak konflik dan menurun menuju ending. Twistnya kurang.

Aku ikut simpati dengan kejadian pelecehan yang dialami Rai di jalan dan di parkiran, karena jaman SMA aku pernah mengalami ada orang iseng di jalan siul-siul pas aku lewat. Tapi sensasi mengaduk-aduk emosinya kurang terasa.

Aku pribadi masih menjadikan Purple Prose sebagai buku favorit dari Kak Ari. Karena bener-bener bikin kaget dan gak terima dengan endingnya. Kenapa oh kenapa? Sungguh teganya dirimu 💔. Tapi aku suka cerita yang realistis sih. Jadi Purple Prose masih membekas sampai sekarang. 😆

Sebagai teenlit tentu saja aku sangat merekomendasikan #theboyIknewfromyoutube ini untuk dibaca remaja jaman now dan juga para guru, orang tua dan siapa saja yang tertarik dengan isu mental health. Masih jarang kutemukan teenlit berbobot yang memotivasi seperti ini. Ada peran orang tua dan guru. Dan ceritanya tidak berfokus pada pacaran dan galau-galau remaja. Ada “usaha” para tokoh untuk melangkah maju.

Akhir kata terimakasih banyak kak @alhzeta dan @bukugpu yang sudah memberikan kesempatan membaca dan mengulas buku ini. Bikin nostalgia masa SMA banget! Ditunggu buku selanjutnya. 😍

[Book Review] Alex, Approximately

Kapan terakhir kalian baca buku sampai lupa waktu?Rencana baca ini dikit sebelum tidur, eh ketiduran, bangun jam setengah 4 lanjut baca sampe abis subuh. 🤣Tulisannya kecil-kecil, bukunya tebel dan detail. Aku bacanya skip-skip sampe tau-tau habis. Abis tu baca ulang detailnya dari awal. Wkwk. Dasar aku.Suka bgt sama interaksi Bailey sama ayahnya, suka sama Porter juga.
Such a cute story! 😍😍😍

Bikin inget sama film You’ve got Mail, film yang cukup terkenal di jamannya. Yang main Tom Hanks dan Meg Ryan. Buat yang belum nonton boleh banget lho nonton film ini. Salah satu film romcom favorit sepanjang masa.Tahun lalu Alex, Approximately ini cukup hype ketika diterjemahkan @penerbitspring.

Dari sekian YA Contemporary yang pernah kubaca, novel ini cukup ringan tapi juga banyak konfliknya.Bailey “Mink” Rydell, remaja penyuka film klasik, menyukai Alex, teman di Komunitas Fanatik Film Lumiére.

Bailey yang sudah bosan tinggal dengan ibunya di DC, memutuskan pindah ke California untuk tinggal dengan Ayahnya. Bailey tidak mengubah status lokasi sehingga Alex masih mengira ia tetap di New Jersey.Aku suka dengan ide ceritanya. Simpel dan manis. Uwuwu.

Bailey yang introvert, “dipaksa” beradaptasi dengan aktivitas sebagai petugas Museum. Berkenalan dengan Grace dan Porter membuatnya menjadi remaja ceria dan lebih mandiri.Lalu, apakah akhirnya Bailey bertemu dengan Alex? *jangan spoiler* 🤫🤫🤫

Ada banyak isu yang diangkat, tentang dunia remaja Amerika yang dekat dengan penyalahgunaan narkoba dan minuman beralkohol. Dunia selancar dan cita-cita menjadi kurator museum, Churro, taman hiburan. Ah, benar-benar masa remaja yang menyenangkan.

Tiap bab diawali dengan halaman chatting Mink-Alex dan quote dari film jadul (ada tahun filmnya tayang). Bikin penasaran sama film-film yang disebutin sepanjang buku. 🤩🤩🤩

Rating umur: 15+
Rating: 3,8/5⭐

[Book Review] Bajak Laut dan Mahapatih

20190630_142955-01

Halo~

Happy Monday, Minna-san!

Lama gak muncul ya~

Kali ini aku membawa kabar baik bahwa Kang Adhitya Mulya baru saja menerbitkan novel baru di Gagasmedia. Yay!

Novel Bajak Laut dan Mahapatih ini adalah lanjutan Bajak Laut dan Purnama Terakhir yang telah terbit pada tahun 2016 dan sudah dicetak ulang dengan cover baru.

Sebelumnya, aku share dulu sinopsisnya ya~

Jaka Kelana: bajak laut yang konyol, tapi pintar (terkadang). Cita-citanya kali ini bukan terkenal dan disegani, simpel saja, gimana sih caranya biar nggak jomlo lagi? Dia pengin banget melamar Galuh, sang pujaan hati. Namun, apa profesi bajak laut—yang jadi buronan banyak orang—bisa memiliki masa depan bagus?

 

Gajah Mada: panglima perang Kerajaan Majapahit. Cita-cita Mahapatih adalah menyatukan Nusantara, menaklukkan beberapa daerah. Sumpah Palapa pun ia ucapkan, yang merupakan janji setia kepada kerajaan. Tentu saja, di setiap perang ada banyak cerita. Drama apakah yang terjadi pada sang Mahapatih dan kisah-kisah perangnya?

Lalu, bagaimana cerita Jaka Kelana bisa terkait dengan Mahapatih Gajah Mada yang hidup puluhan tahun lalu? Apakah Jaka berhasil membuktikan bahwa ia ganteng dan tidak jomlo selamanya? Padahal, kegantengan dirinya itu mutlak menurut Jaka seorang.

Petualangan Jaka Kelana adalah novel komedi berlatar sejarah yang pertama di Indonesia! Adhitya Mulya adalah penulis novel bestseller yang dikenal lewat banyak karya, seperti Sabtu Bersama Bapak, Jomblo, Gege Mengejar Cinta. Kali ini, lewat riset sejarah dan komedi khasnya, ia berhasil menulis novel yang diceritakan dengan menarik.

 

Novel ini dibuka dengan situasi di pelabuhan Banten, atau dulu disebut dengan istilah Bandar Banten pada tahun 1675. Sekitar 3 tahun setelah kejadian Jaka dan Naga di Nusa Tenggara. (Baca Bajak Laut dan Purnama Terakhir)

Jaka Kelana masih menjadi buronan VOC dan kali ini bernilai enam juta real jika tertangkap hidup dan tiga juta real jika berhasil ditangkap mati. Jaka memiliki empat orang awak kapal, yaitu Abbas, Lintong, Surendro dan Aceng. Mereka memiliki kapal Pinisi putih tetapi menamai diri Kerapu Merah.

Misi Jaka adalah melamar Galuh Puspa. Walaupun sudah dua belas kali ditolak Galuh, Jaka tidak gentar. Kali ini Jaka akan melakukan apa saja demi Galuh.

Banyak tokoh baru yang muncul di novel ini.

1. Tumenggung Wirakrama di Kesultanan Mataram yang menggantikan Tumenggung Rahmat.

2. Datuk Sri Zubaedah dan dua pengawalnya, Cantik Wangi dan Pasak Bumi.

Ada banyak tokoh lain yang tidak terlalu penting perannya, jadi silahkan baca sendiri. 😆

Konflik mengalir dengan situasi Jaka membuka jasa angkut dari Bandar ke Bandar, hingga kita tiba di bagian Tumenggung Rahmat menyerahkan sebuah jurnal milik Patih Gajah Mada kepada Wira. Lalu apa kaitannya Gajah Mada dengan Jaka Kelana?

Jika biasanya novel berlatar sejarah disajikan dengan serius, Kang Adhit menyajikan cerita dengan gaya komedi. Aku selesai baca dalam dua hari karena bahasanya yang mengalir.

Kita akan disuguhi dengan alur maju, selang-seling membahas Jaka dan Wira. Jurnal Mada disini diberi penandaan huruf dan warna kertas yang berbeda, sehingga pembaca bisa membedakan.

Pov 3 yang dipakai membuat membaca seperti menonton film laga. Serius, gaya menulis kang Adhit cocok buat yang suka visual.

Yang aku suka dari novel ini yaitu risetnya detail. Walaupun banyak improvisasi dan ya pas baca aku mikir “gak mungkin juga sih kayaknya” tapi enak banget bacanya.

Sebagai siswa yang suka mata pelajaran sejarah jaman SD-SMP aku semacam membaca biografi Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Ilustrasinya juga bagus banget. 😍😍😍

Novel ini kurekomendasikan buat pembaca semua genre, terutama yang suka sejarah dan komedi. Eh, tapi sebaiknya yang sudah 17+ soalnya ada beberapa bagian yang bikin ngilu. Gak dicantumkan rating umur di cover belakangnya.

Sejauh ini Bajak Laut dan Mahapatih menjadi salah satu bacaan favoritku di tahun 2019. Semoga akan ada lanjutannya lagi. 👍

Rating: 4/5🌟

Rating Usia: 17+

 

Terimakasih untuk @gagasmedia yang sudah memberikan kesempatan membaca dan mengulas buku ini. Semoga sukses selalu.