Posted in Review Buku

[Book Review] The Boy I Knew From Youtube

Halo~ 🙋‍♀️
Konnichiwa, Minna-san!
Long time no post.

I’m so excited waktu kak @alhzeta posting cover #theboyiknewfromyoutube 😍😍😍 covernya itu lho, cakep!

Aku udah baca beberapa buku Kak Ari sebelumnya: Welcome Home, Rain (Young Adult), Rule of Thirds dan Purple Prose (Metropop). Bisa cek review ketiganya di postingan sebelumnya. Jadi penasaran gimana kalo kak Ari nulis teenlit?

[TEMA]

Highlight buku ini yaitu tentang body shaming, klub musik dan persahabatan virtual.

Selama tiga tahun Rai tidak lagi menyanyi di panggung, bahkan ketika sahabatnya, Kiki berulang tahun.

Ketika menemukan channel Youtube Pie Susu, Rai seperti mendapatkan sarana aktualisasi diri dan memutuskan untuk membuat channel Peri Bisu.

Bertemu Kak Pri, pemilik channel Pie Susu di sekolah sebagai kakak kelasnya ternyata membuat Rai harus menghadapi rasa takutnya.

[POINT OF VIEW]
Kak Ari menggunakan Pov 3 berfokus di Rai, jadi aku cuma bisa nebak-nebak aja sebenarnya Pri curiga gak ya sama Rai? 🤔

[SETTING]
Setting lokasi di Bali, tapi lebih sering di rumah dan sekolah, jadi gak ada lokasi wisata Bali kayak di Rule of Thirds atau Purple Prose. Nuansa Bali tetap terasa dari dialog tokoh yang kadang menggunakan bahasa Bali dan budaya memakai kebaya di hari Kamis, hari Raya Purnama dan hari Raya Tilem.

[ALUR]
Alur yang digunakan yaitu alur maju. Dari awal sudah dijelaskan alasan Rai gak PD. Kak Ari membangun chemistry tokohnya pelan-pelan sampai klimaks.

[PENOKOHAN]
Karakter tokoh-tokohnya cukup konsisten dari awal sampai akhir. Beberapa tokoh tidak tertebak sebenarnya baik atau jahat.

Sayang sekali banyak tokoh yang tidak tereksplor dengan baik karena berfokus dengan Rai dan Pri. Aku berharap lebih banyak penjelasan tentang Dandi, Lolita dan Kiki karena perannya cukup signifikan.

[KONFLIK]
Rai dengan kondisi salah satu bagian tubuhnya lebih besar daripada anak seumurannya tentu saja wajar ketika merasa malu. Aku punya teman dengan kondisi serupa. Wajar banget lho apalagi masih dalam masa pertumbuhan. Tapi sayang sekali Rai terfokus dengan “kekurangan” fisiknya, padahal suaranya bagus.

Ada scene di mana tersebar foto Rai yang membuat anak-anak cowok iseng nonton video tentang ukuran pakaian dalam wanita. Aku gak tau harus ikut sebel atau ketawa. Iya emang semenarik itu kalo udah urusan sama lawan jenis. 😅

Tentang kejadian di parkiran, aku setuju jika tidak ditangani dengan tegas, maka bisa jadi akan ada korban yang lain.

Untungnya kasus Rai tidak sampai melibatkan Psikolog dan Psikiatri karena support keluarga dan teman-temannya sudah cukup bagus.

Karena ini teenlit, tentu saja konfliknya tidak sekompleks Purple Prose dan Welcome Home, Rain. Sekali ini ceritanya lumayan manis. 💙

[REVIEW]
Dibandingkan tiga novel sebelumnya, nuansa persahabatan dan keluarga lebih kental. Bisa kubilang ini teenlit dengan unsur romance minimal. Fokus cerita lebih ke perkembangan tokoh Rai dalam menghadapi rasa tidak percaya dirinya. Peran Kak Pri, Kak Saka, Kiki, Dandi dan Lolita sangat signifikan membuat ceritanya hidup.

Isu yang diangkat Kak Ari menurutku sangat relevan. Masa SMA akan suram atau berkesan tergantung kita dan lingkungan.

Menurutku kurang banyak scene geregetannya. Tebal novel ini hanya 254 halaman. Gak kerasa tau-tau habis.

Lalu penggunaan Pov 3 tentu saja terbatas hanya bisa tau satu sisi dari Rai. Aku berharap disajikan selang-seling dari Pov 3 Pri. Alur maju juga mengurangi keseruan tebak-tebakan.

Kurva cerita di awal flat, pelan-pelan naik, puncak konflik dan menurun menuju ending. Twistnya kurang.

Aku ikut simpati dengan kejadian pelecehan yang dialami Rai di jalan dan di parkiran, karena jaman SMA aku pernah mengalami ada orang iseng di jalan siul-siul pas aku lewat. Tapi sensasi mengaduk-aduk emosinya kurang terasa.

Aku pribadi masih menjadikan Purple Prose sebagai buku favorit dari Kak Ari. Karena bener-bener bikin kaget dan gak terima dengan endingnya. Kenapa oh kenapa? Sungguh teganya dirimu 💔. Tapi aku suka cerita yang realistis sih. Jadi Purple Prose masih membekas sampai sekarang. 😆

Sebagai teenlit tentu saja aku sangat merekomendasikan #theboyIknewfromyoutube ini untuk dibaca remaja jaman now dan juga para guru, orang tua dan siapa saja yang tertarik dengan isu mental health. Masih jarang kutemukan teenlit berbobot yang memotivasi seperti ini. Ada peran orang tua dan guru. Dan ceritanya tidak berfokus pada pacaran dan galau-galau remaja. Ada “usaha” para tokoh untuk melangkah maju.

Akhir kata terimakasih banyak kak @alhzeta dan @bukugpu yang sudah memberikan kesempatan membaca dan mengulas buku ini. Bikin nostalgia masa SMA banget! Ditunggu buku selanjutnya. 😍

Posted in Review Buku

[Book Review] Alex, Approximately

Kapan terakhir kalian baca buku sampai lupa waktu?Rencana baca ini dikit sebelum tidur, eh ketiduran, bangun jam setengah 4 lanjut baca sampe abis subuh. 🤣Tulisannya kecil-kecil, bukunya tebel dan detail. Aku bacanya skip-skip sampe tau-tau habis. Abis tu baca ulang detailnya dari awal. Wkwk. Dasar aku.Suka bgt sama interaksi Bailey sama ayahnya, suka sama Porter juga.
Such a cute story! 😍😍😍

Bikin inget sama film You’ve got Mail, film yang cukup terkenal di jamannya. Yang main Tom Hanks dan Meg Ryan. Buat yang belum nonton boleh banget lho nonton film ini. Salah satu film romcom favorit sepanjang masa.Tahun lalu Alex, Approximately ini cukup hype ketika diterjemahkan @penerbitspring.

Dari sekian YA Contemporary yang pernah kubaca, novel ini cukup ringan tapi juga banyak konfliknya.Bailey “Mink” Rydell, remaja penyuka film klasik, menyukai Alex, teman di Komunitas Fanatik Film Lumiére.

Bailey yang sudah bosan tinggal dengan ibunya di DC, memutuskan pindah ke California untuk tinggal dengan Ayahnya. Bailey tidak mengubah status lokasi sehingga Alex masih mengira ia tetap di New Jersey.Aku suka dengan ide ceritanya. Simpel dan manis. Uwuwu.

Bailey yang introvert, “dipaksa” beradaptasi dengan aktivitas sebagai petugas Museum. Berkenalan dengan Grace dan Porter membuatnya menjadi remaja ceria dan lebih mandiri.Lalu, apakah akhirnya Bailey bertemu dengan Alex? *jangan spoiler* 🤫🤫🤫

Ada banyak isu yang diangkat, tentang dunia remaja Amerika yang dekat dengan penyalahgunaan narkoba dan minuman beralkohol. Dunia selancar dan cita-cita menjadi kurator museum, Churro, taman hiburan. Ah, benar-benar masa remaja yang menyenangkan.

Tiap bab diawali dengan halaman chatting Mink-Alex dan quote dari film jadul (ada tahun filmnya tayang). Bikin penasaran sama film-film yang disebutin sepanjang buku. 🤩🤩🤩

Rating umur: 15+
Rating: 3,8/5⭐

Posted in Review Buku

[Book Review] Bajak Laut dan Mahapatih

20190630_142955-01

Halo~

Happy Monday, Minna-san!

Lama gak muncul ya~

Kali ini aku membawa kabar baik bahwa Kang Adhitya Mulya baru saja menerbitkan novel baru di Gagasmedia. Yay!

Novel Bajak Laut dan Mahapatih ini adalah lanjutan Bajak Laut dan Purnama Terakhir yang telah terbit pada tahun 2016 dan sudah dicetak ulang dengan cover baru.

Sebelumnya, aku share dulu sinopsisnya ya~

Jaka Kelana: bajak laut yang konyol, tapi pintar (terkadang). Cita-citanya kali ini bukan terkenal dan disegani, simpel saja, gimana sih caranya biar nggak jomlo lagi? Dia pengin banget melamar Galuh, sang pujaan hati. Namun, apa profesi bajak laut—yang jadi buronan banyak orang—bisa memiliki masa depan bagus?

 

Gajah Mada: panglima perang Kerajaan Majapahit. Cita-cita Mahapatih adalah menyatukan Nusantara, menaklukkan beberapa daerah. Sumpah Palapa pun ia ucapkan, yang merupakan janji setia kepada kerajaan. Tentu saja, di setiap perang ada banyak cerita. Drama apakah yang terjadi pada sang Mahapatih dan kisah-kisah perangnya?

Lalu, bagaimana cerita Jaka Kelana bisa terkait dengan Mahapatih Gajah Mada yang hidup puluhan tahun lalu? Apakah Jaka berhasil membuktikan bahwa ia ganteng dan tidak jomlo selamanya? Padahal, kegantengan dirinya itu mutlak menurut Jaka seorang.

Petualangan Jaka Kelana adalah novel komedi berlatar sejarah yang pertama di Indonesia! Adhitya Mulya adalah penulis novel bestseller yang dikenal lewat banyak karya, seperti Sabtu Bersama Bapak, Jomblo, Gege Mengejar Cinta. Kali ini, lewat riset sejarah dan komedi khasnya, ia berhasil menulis novel yang diceritakan dengan menarik.

 

Novel ini dibuka dengan situasi di pelabuhan Banten, atau dulu disebut dengan istilah Bandar Banten pada tahun 1675. Sekitar 3 tahun setelah kejadian Jaka dan Naga di Nusa Tenggara. (Baca Bajak Laut dan Purnama Terakhir)

Jaka Kelana masih menjadi buronan VOC dan kali ini bernilai enam juta real jika tertangkap hidup dan tiga juta real jika berhasil ditangkap mati. Jaka memiliki empat orang awak kapal, yaitu Abbas, Lintong, Surendro dan Aceng. Mereka memiliki kapal Pinisi putih tetapi menamai diri Kerapu Merah.

Misi Jaka adalah melamar Galuh Puspa. Walaupun sudah dua belas kali ditolak Galuh, Jaka tidak gentar. Kali ini Jaka akan melakukan apa saja demi Galuh.

Banyak tokoh baru yang muncul di novel ini.

1. Tumenggung Wirakrama di Kesultanan Mataram yang menggantikan Tumenggung Rahmat.

2. Datuk Sri Zubaedah dan dua pengawalnya, Cantik Wangi dan Pasak Bumi.

Ada banyak tokoh lain yang tidak terlalu penting perannya, jadi silahkan baca sendiri. 😆

Konflik mengalir dengan situasi Jaka membuka jasa angkut dari Bandar ke Bandar, hingga kita tiba di bagian Tumenggung Rahmat menyerahkan sebuah jurnal milik Patih Gajah Mada kepada Wira. Lalu apa kaitannya Gajah Mada dengan Jaka Kelana?

Jika biasanya novel berlatar sejarah disajikan dengan serius, Kang Adhit menyajikan cerita dengan gaya komedi. Aku selesai baca dalam dua hari karena bahasanya yang mengalir.

Kita akan disuguhi dengan alur maju, selang-seling membahas Jaka dan Wira. Jurnal Mada disini diberi penandaan huruf dan warna kertas yang berbeda, sehingga pembaca bisa membedakan.

Pov 3 yang dipakai membuat membaca seperti menonton film laga. Serius, gaya menulis kang Adhit cocok buat yang suka visual.

Yang aku suka dari novel ini yaitu risetnya detail. Walaupun banyak improvisasi dan ya pas baca aku mikir “gak mungkin juga sih kayaknya” tapi enak banget bacanya.

Sebagai siswa yang suka mata pelajaran sejarah jaman SD-SMP aku semacam membaca biografi Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Ilustrasinya juga bagus banget. 😍😍😍

Novel ini kurekomendasikan buat pembaca semua genre, terutama yang suka sejarah dan komedi. Eh, tapi sebaiknya yang sudah 17+ soalnya ada beberapa bagian yang bikin ngilu. Gak dicantumkan rating umur di cover belakangnya.

Sejauh ini Bajak Laut dan Mahapatih menjadi salah satu bacaan favoritku di tahun 2019. Semoga akan ada lanjutannya lagi. 👍

Rating: 4/5🌟

Rating Usia: 17+

 

Terimakasih untuk @gagasmedia yang sudah memberikan kesempatan membaca dan mengulas buku ini. Semoga sukses selalu.

Posted in Review Buku

[Book Review] Purple Prose

[Blurb]

Tujuh tahun lalu, kematian Reza membuat Galih lari ke Jakarta. Namun, penyesalan tidak mudah dienyahkan begitu saja. Ketika kesempatan untuk kembali ke Bali datang lewat promosi karier, Galih mantap untuk pindah. Ia harus mencari Roy dan menyelesaikan segala hal yang tersisa di antara mereka.

Roya begitu terkurung dalam perasaan bersalah. Kanaya, adiknya, menderita seumur hidup karena kekonyolannya tujuh tahun lalu. Roya merasa tidak memiliki hak untuk berbahagia dan menghukum dirinya secara berlebihan. Kehadiran Galih mengajarkan Roya cara memaafkan diri sendiri.

Saat karier Galih makin mantap dan Roya mulai mengendalikan haknya untuk berbahagia, karma ternyata masih menunggu mereka di ujung jalan.

Judul Buku: Purple Prose

Penulis: Suarcani

Jumlah Halaman; 304 pages

Tanggal Terbit: 29 Oktober 2018

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN13: 9786020614137

Halo~
Baru ingat kalo review buku ini belum ku update di blog. Ini buku kedua kak Ari yang kubaca setelah Welcome Home, Rain. Lagi-lagi aku dibuat terpukau dengan plot twistnya.

Di sini kita bisa mengenal Galih. Dibalik sikap isengnya yang menghibur, tersimpan sisi kelam yang membuatku berandai-andai Galih tidak mendapat teman-teman yang salah di masa lalu.

Roya yang kikuk dan selalu rendah diri, karena merasa bersalah kepada adiknya- Kanaya- selama tujuh tahun menjadi pribadi tertutup.

Misteri yang muncul sejak awal sangat membuatku penasaran dengan benang merah apa yang terjadi antara Galih dan Roya.

Tema yang diangkat cukup sensitif, tapi sangat dekat dengan keseharian. Setting cerita di Bali dengan deskripsi lokasi dan budaya yang detail membuatku ingin menginjakkan kaki ke Bali. Pemilihan Pov 3 bergantian Roya dan Galih menurutku sangat tepat untuk menyajikan cerita ini.

Aku suka covernya. Mewakili tokoh Roya yang suka membakar dupa.

“Jujur dan bertanggung jawab, itulah ciri lelaki sejati, Galih. Kamu harus mengingat itu sampai sisa hidupmu. Mengerti?” (Page 254)

Pas nyampe epilog aku gak mau bukunya tamat. 😣 Aku sangat-sangat berharap ada sekuelnya. Dari sudut pandang Kanaya, atau tokoh lain yang terkait dengan kejadian itu.

Dari membaca buku ini, kita akan menyadari bahwa masa lalu tidak bisa diubah, memang penerimaan butuh waktu, tapi penyesalan tidak akan membawa kita kemana-mana.

Buku ini ku rekomendasikan untuk yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak berlarut-larut dengan rasa bersalah

Posted in Review Buku

[Book Review] Rule of Thirds

Judul Buku: Rule of Thirds
Penulis: Suarcani
Jumlah Halaman: 288 pages
Terbit: December 27th 2016
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN13: 9786020334752
[Blurb]

Apalagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?

Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis.

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan.

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter

 

Halo~

Happy Thursday Minna-san!

Ketemu lagi dalam review novel Metropop. Akhirnya aku selesai baca buku ini setelah hampir setahun cuma bisa jadi wishlist. Desember lalu akhirnya punya buku ini dan sempat masuk antrian baca 1 bulan. Buku ini selesai dalam waktu 3,5 jam. Gaya tulisan kak Ari mengalir dan konfliknya bikin geregetan, jadi ya langsung habis sekali duduk.

Dari awal aku gak suka Ladys. Segitu cinta banget ya sama Esa sampe mau pindah ke Bali, kota yang dia tinggalkan selama dua belas tahun terakhir?

Ladys seorang fashion photographer di Korea banting setir menjadi wedding photographer di studio Pak Agung, Pamannya di Bali. Karena Ladys kesulitan menyetir kanan, (well, di Korea biasa pake setir kiri), Pak Agung meminta Dias, asisten fotografer, untuk menjadi supir sementara Ladys. Interaksi mereka selama tujuh bulan tanpa terasa menjadi momen menyelesaikan masa lalu mereka masing-masing.

Pov 1 Ladys menggunakan kata ganti “Saya” dan Pov 1 Dias menggunakan kata ganti “Aku”. Jujur saja awal-awal aku bingung, karena terbiasa membaca dengan Pov 3 atau Pov 1 salah satu tokoh. Tapi aku selalu suka pemilihan Pov 1 dua tokoh.

Alur maju-flash back. Deskripsi setting tempat dan budaya di Bali sangat kental. Berbeda dengan Purple Prose yang menyuguhkan aroma mistis dupa, di sini membahas tentang upacara kematian yaitu kremasi.

Karakter Dias, kurang tereksplorasi. Bagaimana Dias punya pemahaman teori tentang fotografi, feeling photoshoot yang keren dan skill editing yang canggih. Hanya dijelaskan kalau asisten fotografer cuma tukang angkut-angkut. Aku yakin, Dias punya waktu untuk latihan dan belajar dari fotografer di studio Pak Agung, tapi kurang banyak pembahasan tentang ini.

Cerita berfokus di interaksi para tokoh. Ladys-Esa-Rara, Dias-Prajna-Beni, keluarga Ladys, keluarga Dias dan teman-teman di studio. Tema yang diangkat selain tentang fotografi yaitu tentang perselingkuhan. Bagaimana keluarga Ladys dan Dias menjadi korban perselingkuhan ibu mereka, Ladys menjadi korban perselingkuhan Esa, Dias menjadi korban perselingkuhan Prajna, Hem, ya, sinetron banget sih. Tapi pesan yang ingin disampaikan sangat jelas dan ekseskusinya cukup baik.

Hal yang kurang yaitu bagian endingnya terlalu mendadak. Aku suka filosofi F&J, tapi sayang kurang dijelaskan. Pertanyaanku setelah baca adalah, “Dias dapat foto bagus pake kamera siapa?” wkwk. Aku terlewat baca atau memang poin ini terlewat?

Secara umum aku menikmati membaca novel ini. Sangat menghibur dan kurekomendasikan untuk yang tertarik dengan tema fotografi. Banyak istilah baru yang kudapat dari novel ini. Aku lebih suka Rule of Thirds daripada Welcome Home, Rain. Tapi, favoritku masih Purple Prose. Kurang baca Stardust Catcher nih. Ditunggu karya selanjutnya ya, kak Ari. Thank you for write this heart warming story. See you on next review!

Rating: 3,7/5 bintang

Rating usia: 21+