Posted in Literacy

Buku Versi Cetak vs Digital

QoTD: kalian lebih suka baca buku fisik atau digital?
Halo~
Konnichiwa Minna-san!
Akhir-akhir ini twitter dan instagram sedang heboh membahas tentang perubahan sistem pembayaran langganan premium hanya dengan kartu kredit- yang semula bisa dilakukan pula via transfer atm dan google pay (dengan pulsa) tentu membuat heboh kalangan #bookstagrammer penikmat baca murah via aplikasi Gramedia Digital (GD)
Aku sudah berlangganan Gramedia Digital sejak Januari 2018. Cukup lama untuk mendapat banyak manfaatnya, yaitu:
1. Lebih hemat
Aku jadi lebih selektif membeli buku yang benar-benar menarik hati. Walaupun sudah baca di GD, tapi kalo aku suka banget ya aku beli buku fisiknya.
2. Ramah lingkungan.
Bayangkan berapa banyak pohon yang ditebang demi menerbitkan satu judul buku?
Bagaimana jika buku tidak lagi dicetak? Tentu tingkat penggunaan kertas berkurang dan pohon yang ditebang berkurang.
Aku jadi pelanggan toko buku bukan satu dua hari, tapi sudah belasan tahun. Makin ke sini buku baru makin banyak, petugas toko buku sampe kewalahan menata displaynya.
Mirisnya, obral buku makin banyak. Harga sadis 10.000, 20.000 dan 30.000/
Seolah-olah obral itu solusi mengosongkan gudang penuh. Ya gimana sih klo aliran terbit buku seperti air? Gak imbang dong. Infonya ada sistem daur ulang  untuk buku-buku yang tidak laku menjadi bubur kertas, tapi seberapa efektif sih?
Harusnya ada sistem cetak terbatas sesuai jumlah yang diketahui pada masa pre-order supaya buku yang terlanjur dicetak tidak menumpuk di gudang. Bukan kapasitasku membahas tentang proses penerbitan. Ini sekedar masukan supaya buku-buku yang terbit benar-benar layak dan yakin terjual habis.
3. Ruang penyimpanan berkurang
Dalam setahun terakhir aku sudah menjual 4 rak buku dan sekitar 500 novel. Alasan utama aku butuh uang. Ketersediaan e-book di gramedia digital dan google playbook benar-benar melegakan. Fasilitas ini sangat memudahkan aku menjadi minimalis.
Untungnya bulan ini aku tetap bisa melanjutkan berlangganan premium gramedia digital. Tapi bisa jadi banyak orang diluar sana yang tidak punya kartu kredit tidak lagi berkesempatan berlangganan.
Terimakasih banyak sudah memfasilitasi selama ini. Semoga pihak @gramediadigital ke depan lebih mempermudah akses pembayaran pelanggan premium.
Aku tidak tau berapa tingkat penurunan penjualan buku setahun terakhir sejak adanya aplikasi scoop atau gramedia digital. Tapi sekilas bisa disimpulkan dari komentar para #bookstagrammer di postingan tentang ini di instagram @y0nea bahwa peminat baca buku versi cetak (buku fisik) lebih banyak daripada buku digital (e-book).
Mau pilih baca versi cetak maupun digital, semoga minat baca di Indonesia terus meningkat.
-ne
Posted in Literacy, Review Buku, StyLe

[Book Review] Fake Love

Judul Buku: Fake Love; Aku, Suamiku dan Gunpla-nya

Penulis: Shireishou

Penerbit: Elex Media Komputindo

Terbit: Cetakan I, 2017

Tebal Buku: 285 Halaman

Halo~

Ini adalah buku pertama yang aku baca bulan Desember. Akhir November aku ikut Tourian Peeky Book Looking for Gengstagrammer untuk  jadi host reviewer. Beberapa kali mendaftar baru kali ini terpilih. Haha. Alhamdulillah ya, rejeki anak sholihah.Terima kasih banyak atas kesempatannya.

Kenapa aku tertarik membaca buku ini? cek blurb ya.

Delan sang maniak Gunpla memutuskan menikahi Arlin, sang maniak bento, dengan sebuah perjanjian.

Kita menikah hanya untuk menyenangkan orangtua masing-masing. Yang penting tidak saling usik meski tinggal seatap.”

 

Nyatanya dalam pernikahan aneh mereka, muncul tuntutan orangtua yang menginginkan kehadiran cucu secepatnya. Permintaan ini membuat Delan dan Arlin pusing. Bagaimana mungkin segera mempunyai anak, kalau keduanya sibuk dengan ego masing-masing?

Jika menikah tak didasari cinta dan seolah-olah dijadikan pertandingan, apa mereka akan bahagia?

Jika menikah diharuskan karena usia yang terus bertambah atau untuk membungkam pertanyaan yang terus berulang, apakah cinta itu akan muncul dengan sendirinya?

 

Arlin berusaha mencari jawabannya, tapi Delan seakan tidak peduli. Mungkin benar, pernikahan hanya akan mendatangkan masalah baru. Mungkin juga luka yang baru.

 

Elexmedia sudah menerbitkan beberapa buku dengan label Le Mariage di pojok kanan atas, genre dewasa muda dengan tema pernikahan. Walaupun beberapa novel sepintas mirip, tapi tiap judul memiliki cerita yang unik. Dalam Fake Love ini, penulis mampu menggabungkan unsur romance dengan hobi pasangan yang sangat kuat. Hobi yang cewek banget – memasak, dan cowok banget – koleksi mainan robot-robotan. Khas kak Shirei yaitu jejepangan; tokohnya adalah maniak Bento dan maniak Gunpla (Gundam Plastik).

Di halaman prolog kita akan berkenalan dengan Arlina Wulandari Kristianti dan Delano Kienan Pranajaya. Mereka bertemu di dunia maya berkat Mama yang mendaftarkan Arlin ke situs biro jodoh online. Karena berbagai alasan, akhirnya mereka setuju untuk menikah.

Setelah tanggal pernikahan ditentukan, Arlin mendapat e-mail dari Shiyan, teman di blog yang disukainya. Duh, sayang sekali Shiyan, Anda kurang cepat! Arlin tidak mungkin membatalkan pernikahannya dengan Delan hanya karena e-mail Shiyan. Ceritanya sangat masuk akal tanpa ada drama berlebihan.

Pernikahan mereka bisa dibilang unik. Ada yang bisa nebak wedding dress-nya? Dan kado yang mereka dapat tidak umum untuk kado pernikahan. Haha. Bagian awal buku ini sukses membuatku tertawa sampai pipiku sakit.

Besoknya Arlin dibawa ke rumah Delan di Pamulang. Delan cukup mapan dengan gaji yang lumayan tinggi dan rumah yang cukup besar. Wajar sih dia bisa beli gunpla yang harganya wah. Mami Papi Delan dan Mama Papa Arlin hanya mengantarkan sebentar dan langsung pulang.

Belum sempat Arlin beradaptasi dengan rumah barunya, ada tetangga yang mampir. Sebut saja Jeng Elly. Nah, dari sini drama rumah tangga Arlin dan Delan di mulai.

Point of view yang digunakan yaitu orang ketiga dengan Arlin sebagai pusat cerita. Jadi kita bisa memahami yang dirasakan Arlin sebagai istri yang tidak dianggap suaminya. Delan yang sibuk dengan Gunpla-nya, kalau ngomong nggak disaring, jutek, pelit. Duh, aku pengen buang Delan jauh-jauh.

Satu-satunya hal yang membuat Arlin bertahan adalah karena Delan mau menerima bento buatannya, hal yang selama ini menjadi keahlian dan juga ketakutan Arlin selama beberapa tahun terakhir.

Ditengah semangat Arlin membuatkan bento untuk Delan, muncul beberapa masalah dengan Jeng Elly, bahkan melibatkan Bu RT dan tetangga yang lain. Belum lagi kedatangan Mama dan Mami yang meminta cucu setelah 3 bulan berlalu. Arlin mulai memikirkan ulang pernikahannya. Hingga klimaksnya ketika hari-H Gunpla Builders World Competition. Membaca sepertiga terakhir benar-benar mengaduk emosi.

Aku mendapat banyak pelajaran dari novel ini. tentang komunikasi antara suami-istri, pernikahan adalah proses belajar memahami seumur hidup. Ketika menikah, otomatis menjadi anggota masyarakat, maka membaur dengan tetangga adalah hal yang harus dilakukan. Tokoh Jeng Elly mewakili tetangga yang masa gitu~

Oiya, ada Rietma dan Shiyan yang mendukung Arlin dengan cara masing-masing. Aku selalu menantikan scene ketika Shiyan muncul. #TimShiyan

Hal terbaik yang aku dapat dari membaca buku ini adalah bagian Epilog. Kenapa? Silahkan segera jemput buku ini di toko buku terdekat atau toko buku online, karena menikmati novel ini tidak hanya versi cetak, tapi kombinasi dengan versi digital. Sebelum dicetak, novel ini sudah sempat tayang di wattpad. Jadi kalian bisa lihat komen-komen lucu di sana.

Rating: 4/5

Terima kasih atas kesempatan menjadi host review. Semoga kak Shireishou bisa menerbitkan karya lainnya. Happy reading~

Yogyakarta, 7 Desember 2017

-ne-

Posted in Literacy, StyLe

Hello~

Haloooo.. Yaampun, ternyata udah 2 tahun nggak muncul ya.. hihi.. 2015 sampe awal 2016 kayaknya kadang masih muncul di nolpitu.com, tapi abis itu sibuk persiapan akreditasi KARS dan nggak pernah muncul lagi.

Alhamdulillah, kemarin Senin 4 Desember 2017, sudah survei verifikasi tahun pertama. Tinggal perbaikan untuk tahun kedua dan ketiga.

Btw, Oktober kemarin aku memutuskan untuk ganti status akun Instagram dari akun pribadi jadi akun bookstagram. Jadi beberapa postingan random aku hidden. Banyak hal yang terjadi 2 tahun terakhir. Salah satunya dengan tambahan ratusan koleksi buku. Status register 925 buku. Tapi karena Maret 2017 kemarin aku buka akun jualan buku preloved, fisiknya tinggal 457 buku. Jadi 6 bulan terakhir ini jual buku buat buku baru lagi. 🙂

Nah, kedepan insyaallah aku akan share full review buku di sini ya. Kalau mau baca daily review bisa di instagram @y0nea, dan silahkan cek buku yang udah kurelakan untuk dijual di @salimapreloved.

Buat yang baru gabung, salam kenal ya. Semoga isi blog ini bermanfaat. Thank you~

Kalasan, 5 Desember 2017

-ne-

Posted in FreeLance, Literacy

Sastra Santun; Sebuah Gerakan Anti-mainstream

Sastra merupakan karya yang menjadi ciri khas bangsa. Kemajuan budaya sering dikaitkan dengan sastra. Sastra di Indonesia mulai berlangsung setelah bangsa Indonesia berkenalan dengan kebudayaan asing, yakni kebudayaan Hindu, Islam, dan Barat.  Ada berbagai macam sastra, yaitu sastra klasik, kontemporer, modern,  pop, dll.

Berawal dari sebuah kajian bertema Sastra Santun di Jogja Islamic Book Fair beberapa waktu lalu, rekan-rekan Melimove sepakat untuk menjadikan tema ini sebagai bahasan diskusi di grup Whatsapp.

Alhamdulillah, Ahad, 18 Januari 2015 telah dilaksanakan diskusi dengan menghadirkan Mbak Yeni Mulati atau yang dikenal sebagai Mbak Afifah Afra sebagai pemantik diskusi. Beliau tentu tidak asing lagi di kalangan penyuka fiksi islami. Mbak Afra bergabung di Forum Lingkar Pena FLP sejak 1999. Pernah menjabat sebagai Ketua FLP Cabang Semarang, lalu Ketua FLP Wilayah Jawa Tengah, dan sekarang diamanahi sebagai Sekjen Badan Pengurus Pusat FLP (2013-2017).

Apa itu sastra santun? Sastra santun lebih dikenal dengan istilah sastra islami atau sastra profetik. Mengingat kedua istilah itu terlihat sangat “khusus”, maka dipilih kata “santun” untuk membangun kesan yang lebih universal.

Sastra arus utama/mainstream sekarang didominasi pada sastra berupa narasi minoritas dan pendobrakan hal-hal yang dipandang tabu. Cenderung pro antikemapanan. Karena semangatnya mendobrak hal-hal tabu, misal seks, maka mereka justru mengangkat tema tentang seks secara vulgar. Jika yang menulis adalah perempuan, derajatnya dua kali lebih keren. Seks adalah tabu diungkap di ruang publik, yang mengungkap perempuan, lebih tabu lagi. Maka, ketika muncul para perempuan yang menulis seks dengan sangat vulgar, dianggap “hebat kuadrat”. Jika tema-tema seperti ini menjadi tren, tentu akan berpengaruh pada perkembangan budaya masyarakat Indonesia. Harapannya sastra santun menjadi antitesa dari aliran arus utama tersebut.

Kriteria sastra santun, antara lain:

  1. Mengusung ide-ide kebaikan dan mencerahkan;
  2. Bahasa lembut dan sopan;
  3. Bahasa indah namun mudah dipahami dan sesuai dengan audiens;
  4. Tidak vulgar dan mengandung unsur-unsur yang melanggar norma.

Gerakan sastra santun ini punya “ambisi besar”yaitu:

1) Mendekonstruksi pemahaman tentang sastra yang akhirnya cenderung sesuai dengan pemahaman mainstream.

2) Menjadi mainstream sendiri dengan “pranata sastra” yang juga kuat. Misalnya, ada lomba sendiri, award, writer and reader festival (semacam khatulistiwa literary award), dst.

Untuk tujuan ini, FLP sebagai inisiator akan mengajak pihak-pihak yang memiliki visi yang sama. FLP akan back up penuh karya-karya yang bisa menjadi bagian dari sastra santun mulai dari proses kepenulisan hingga promosi.

Sastra santun merupakan pengembangan dari sastra Islami. Dalam hal isi, harapannya pada sastra santun, keislaman muncul sebagai substansi. Bukan sekadar kulit. Cara pengemasan juga harus semakin bagus. Sastra memiliki kaidah-kaidah yang “harus dipatuhi”. Para penulis sastra santun harus belajar mengemas karya sebaik mungkin.

Di perbukuan, setelah penulis, satu-satunya “pintu” bisa jadi hanya editor.  Kadang di penerbit tidak ada mekanisme cross check dari bagian selain redaksi. Dari pemerintah memang ada penilaian dari Diknas, tapi sifatnya tidak wajib. Jadi, memang sangat mengerikan karena nyaris tidak ada saringan.

Bahkan, display di toko buku pun tidak dibatasi. Maka, tidak heran jika banyak novel yang tidak sesuai kategori umur. Novel-novel asing yang diterjemahkan untuk dewasa bebas dibaca remaja. Buku-buku sejenis itu juga banyak didapat di perpus milik pemerintah. Pernah ditemukan buku-buku jenis itu di Perpusda Kabupaten Bintan. Setelah dikonfirmasi ke petugas, mereka tahunya itu kiriman dari pusat.

Nantinya, penulis yang menandatangani “kontrak sastra santun”, terikat secara moral untuk menulis sesuai kontrak. FLP juga akan bergerak ke penerbit-penerbit untuk ikut bergabung. Peran kita sebagai pembaca juga harus melakukan advokasi. Kalau kita membiarkan buku-buku yang tidak sesuai norma beredar, mungkin kita sendiri yang ikut mengkonsumsi dan lama-lama sensitivitas kita akan berkurang.

Sastra santun ini bentuk ke depannya bukan organisasi, tetapi gerakan. FLP akan mengajak organisasi-organisasi kepenulisan lain, juga penulis mandiri yang sevisi, utk bergabung. Gagasan ini masih sangat mungkin dikembangkan. Grand launchingnya insyaAllah November 2015. Nanti ada semacam Ubud Writer and Reader Festival di Makassar, mungkin 3 hari. Siap-siap nabung!

Setelah launching, penulis dan penerbit yang bergabung, menyepakati, lalu berkarya sebanyak-banyaknya dan sebagus-bagusnya. Selain itu, anggota gerakan sastra santun bisa memberikan edukasi ke masyarakat, toko buku dan penerbit. Atau bahkan ke pemerintah untuk membuat ketentuan yang lebih ketat lagi.

Apalagi sekarang mulai muncul banyak penerbit indie. Proses editing hanya pada penulis, bukan di penerbit. Gerakan sastra santun ini belum akan bergerak di controlling. Entah nantinya, karena pasti akan sangat sulit realisasinya. Tetapi, kalo kita bisa meyakinkan pemerintah untuk memperbaiki regulasi perbukuan, itu bisa diantisipasi. Jika regulasi perbukuan kuat, tugas kita akan menjadi lebih mudah. Mestinya ini memang tugas pemerintah. Kita tentu ingin agar karya-karya kita tetap tidak melanggar batas-batas norma.

Ah, dua jam tidaklah cukup membahas tuntas tentang sastra. Sebagai penutup, mbak Afra mengingatkan bahwa, “Pada prinsipnya manusia itu makhluk rabbaniyyah. Mereka akan menyukai karya-karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerahkan. Menjadi penulis yang rabbaniyyah bukan sekadar kita bisa menggerakan pena untuk merangkai kata-kata yang bagus. Tetapi juga menyusupkan ruh. Bukankah ketika Allah menghendaki kebaikan datang dari kita, tangan kita sebenarnya sedang “Dipinjam” Allah untuk menjadi lantaran hidayah?

Salima, 19 Feb 2015, 22:32

edisi revisi tulisan

Posted in Endless Stories, Literacy, StyLe

Baca sampai selesai

Akhir-akhir ini aku sering menumpuk buku. Bolak-balik halaman demi halaman awal, kemudian loncat ke tengah, dan langsung baca ending-nya. Esoknya buku itu terlupa dan akhirnya menjadi daftar tunggu buku yang belum selesai.

Entah kenapa daya bacaku menjadi berkurang. Bisa jadi karena padatnya jam kerja, perjalanan macet yang melelahkan, serta setumpuk PR yang harus diselesaikan. Padahal, kemanfaatan sebuah buku tak bisa dirasakan ketika dibaca hanya setengah-setengah. Mari membaca!

Image