Perpustakaan Digital: Masa Depan Pembaca Generasi Z? (2)


Konnichiwa Minna-san!
Melanjutkan postingan sebelumnya, kali ini aku ingin membahas 2 hal terkait Perpustakaan Digital:

  1. E-book sebagai Solusi Keterbatasan Ruang penyimpanan
  2. Sasaran Pembaca Remaja (Generasi Z)

Sebagai pembaca generasi Milenial, aku mengalami krisis ruangan. Buku fisik memakan ruang penyimpanan yang cukup banyak. Aku pernah punya 7 rak buku dengan kapasitas 700an buku. Lalu, ketika akan pindah kos, aku membutuhkan banyak kardus untuk memuat koleksi buku. Sangat menguras energi untuk packing, angkut-angkut dan unpacking. Capek banget. T.T

Kenapa aku beralih ke ebook?

  1. Buku yang sudah aku baca tidak akan dibaca ulang
  2. Keterbatasan budget beli buku karena harga buku makin mahal
  3. Keterbatasan ruang penyimpanan
  4. Ketersediaan buku di toko online maupun offline, kadang buku yang aku cari sudah langka atau tidak tersedia di Indonesia (harus beli di luar negeri)

Lalu, apakah aku akan berhenti mengoleksi buku fisik?


Tahun 2017 aku mulai mengurangi koleksi buku fisik secara bertahap. Dari 700an buku hingga sekarang tinggal sekitar 300an buku (2 rak buku saja dan 2 box kontainer plastik). Apakah aku tidak beli buku sama sekali? Woiya jelas tidak mungkin. Haha. Tahun 2018-2020 adalah tahun dimana obral buku sepanjang tahun. Belum lagi pre-order buku baru dengan bonus merchandise menarik.

Sejak 2018 aku berlangganan Gramedia Digital dan kadang membeli buku versi digital di Google Playbook. Kalian juga bisa pinjam buku di iPusnas dan iJakarta, serta sewa buku di Lontara App. Baru-baru ini Mizan Publika juga merilis aplikasi rakata dengan sistem mirip google playbook, namun dilengkapi dengan fasilitas tulis online dan forum diskusi.

Aplikasi baca ebook legal

Tahun 2018-2020 aku tetap membeli buku fisik, tapi memang setelah membaca bukunya, dan kira-kira tidak dibaca ulang, bukunya aku jual lagi atau aku jadikan hadiah giveaway. Buku kerjasama review juga, jika kira-kira tidak akan aku koleksi ya aku jadikan hadiah. Toh setelah aku posting reviewnya berarti sudah lunas. Ada yang menjual buku kerjasama ya itu haknya. Tidak ada buku gratis, yang ada hasil barter jasa review. Ah, aku gak akan bahas tentang paid promote review di sini. Karena faktanya masih jaarrraaaaaang banget. Haha. (ngeteh lagi)

Jadi, buku yang aku simpan hanyalah buku yang mungkin akan aku baca ulang, buku favorite atau koleksi berbagai edisi. Iya, 3 ini aja yang aku simpan. Kategori lainnya akan masuk daftar sementara yang akan dilepas pada waktunya. Rata-rata masa simpan buku hanya 3-6 bulan, atau paling lama 1-2 tahun. Jika selama itu buku itu tidak bergerak alias kandidat timbunan abadi, biasanya akan aku lepas, terutama yang ada versi e-booknya. Kenapa? Karena minat kita selalu berubah. Waktu terbaik untuk membaca buku adalah ketika awal melihatnya (ciyee), sementara waktu kita terbatas, sayang. Pilihlah buku yang kira-kira akan dibaca saja.

Mungkin, bagi pembaca yang punya rumah besar tidak akan relevan dengan kondisi ini. Mungkin tidak pernah terpikir tentang berapa biaya ruang penyimpanan dan tidak tau betapa koleksi buku dan barang-barang akan menjadi beban. Aku bisa bilang begini karena akhir tahun 2018 aku pindah kosan dan mengalami yang namanya bayar kos dobel karena sewa 2 kamar. Aku serius. 2013-2018 aku tinggal di kontrakan, sehingga tidak pernah memikirkan tentang ruangan penuh karena selalu ada space menambah barang. Ketika tahun 2018 pindah kos yang ruangannya lebih kecil, terlihat semua barang menjadi banyaaaaaak. Setelah itu aku kapok dan hanya membatasi buku hanya boleh 2-3 rak saja.

Pernah di suatu forum diskusi yang diadakan oleh salah satu aplikasi menulis online, bahwa remaja sekarang sangat dekat dengan gadget. Sangat jarang ditemui remaja SMP/SMA memegang buku di tempat publik. Pemandangan orang membaca di transportasi umum juga sangat langka. Bisa jadi karena memang membaca bukan menjadi trend di generasi Z. Entahlah aku belum pernah bikin penelitian tentang ini.

Jadi, sebenarnya alasan menjamurnya aplikasi baca online tidak terbatas menjawab kondisi penimbun alias tsundoku macam aku, tapi semata ingin memperluas sasaran pembaca. Ya daripada hape isinya aplikasi game dan marketplace online doang, mending ada aplikasi baca online juga gitu lho!

Sebagai penutup, kedepan kalo semua buku ada versi ebooknya bisa dibayangkan bahwa toko buku offline dan perpustakaan akan banyak yang tutup atau beralih fungsi. Satu sisi akan menguntungkan penerbit karena tidak perlu mengeluarkan biaya cetak. Atau menerapkan sistem pre-order dan print on demand. Selebihnya, hanya waktu yang bisa menjawab. πŸ˜€

Perpustakaan Digital: Masa Depan Generasi Z?


Ada yang tau kapan pertama kali ada kertas? Lalu buku apa yang pertama kali diterbitkan?

Sebagai Generasi 90-an, tentu munculnya minat baca di masa kecil tidak lepas dari Tabloid Nova milik ibu, Buletin Khotbah Jum’at ayah, Majalah Bobo dan buku-buku terbitan Balai Pustaka di Perpustakaan SMP. Orang tuaku bukan tipe yang beli buku tiap bulan, tapi buku-buku menarik dan terkait bidang mereka tentu saja ada lengkap di rak buku.

Genre bacaanku di masa SMA terus berkembang karena koleksi perpustakaan sekolah beragam. Selain itu, keterlibatanku di acara Rohani Islam menjadi jembatan kenal dengan mahasiswa dan kesempatan meminjam buku semakin besar.

Memang, pada tahun 2000-an, pengertian perpustakaan terbatas pada koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, berupa ruangan penuh rak buku dengan koleksi beragam genre. Namun, pada akhirnya perpustakaan pribadi pun makin banyak dijumpai karena keterjangkauan harga buku bagi sebagian orang dan akses ke toko buku yang cukup mudah.

Namun, pada faktanya, ketersebaran buku di Indonesia bisa dibilang tidak merata. Toko buku hanya bisa dijumpai di kota-kota besar. Bahkan di pulau jawa sendiri, masih ada daerah yang belum ada toko buku maupun perpustakaan daerah. Lalu, bagimana cara meningkatkan minat baca masyarakat?

Perkembangan teknologi masa kini memungkinkan buku dapat dibaca di Handphone berbasis android dan IoS. Format buku fisik pelan-pelan mulai beralih ke format digital, yang kita kenal dengan istilah portable Document Format (pdf) maupun elektronic publication (epub). Perkembangan ini tentu saja bertujuan untuk mempermudah akses buku kepada pembaca. Tapi, sayang sekali masih ada penyalahgunaan yang terjadi di kalangan pembaca; file pdf disebarluaskan secara ilegal menjadi buku bajakan. Aku gak paham logikanya deh.

Di Indonesia sendiri, aplikasi baca online mulai menjamur. Awalnya dari blog atau website pribadi yang kemudian diterbitkan dalam bentuk cetak, mulai dari multiply, blogspot, wordpress, tumblr, hingga kemudian ada aplikasi menulis online beralih ke wattpad, storial, cabaca yang memungkinkan munculnya penulis baru. Aplikasi baca Google Playbook, Scribd, Kindle Amazon, Scoop (yang ganti nama menjadi Gramedia Digital), ibuk, serta Lontara, dan gak ketinggalan Perpustakaan Nasional membuat aplikasi iPusnas dan Perpustakaan Jakarta membuat aplikasi iJak. Aplikasi terbaru yaitu Rakata yang diluncurkan oleh Mizan, menawarkan konsep one stop aplication untuk membaca, menulis dan berinteraksi.

Perbandingan aplikasi baca digital di Indonesia


Semakin banyak aplikasi baca digital semoga menjadi pilihan yang bisa disesuaikan kebutuhan dan budget. Ada yang lebih suka baca gratis, ada yang lebih suka beli, ada yang gak suka ribet langganan aja sekalian, dll. Variasi koleksi bukunya juga beragam. Tinggal disesuaikan saja. Aku pribadi melihat ini sebagai titik terang bagi keterbatasan ruang penyimpanan (rak buku) dan keterbatasan budget. Mengingat harga buku makin mahal, beralih ke buku digital merupakan pilihan yang bisa dipertimbangkan. Ingat ya, baca ebook di aplikasi legal, jangan beli ebook pdf di market place, itu ilegal!

Tren Bookish Merch Indonesia (Behind The Scene of Darcy Crate)

Konnichiwa, Minna-san!

Minggu kemarin, aku diundang @agi_eka mewakili @darcycrate untuk segmen #Bibliocorner Spesial membahas tentang bookish merchandise. Agi juga mengundang mba @annienamiez sebagai owner @booksleeve.id

Sejak menjadi bookstagrammer September 2017, aku melihat banyak merchandise shop yang muncul sebagai alternatif pelengkap hobi membaca dan cukup berkembang pesat serta banyak peminatnya. Berikut daftar merchandise dan tokonya:

  1. Booksleeve: @booksleeve.id, @pluviobooksleeve (sudah off), @bonjourbooksleeve, @foyobo.id,
  2. Bookmark: @bookmarque, @kawaiilittlebuddies, @mylilco
  3. Bundling bookmark, journal, stiker, dll: @malvara.id, @kandelalin.id, @blossombookart
  4. Candle: @lumierature.id (sudah off), @litetree, @kandelalin.id
  5. Mug, tumbler kaos, dll: @thescorcerer

Selain itu, aku menemukan adanya subsription box, atau parcel berlangganan di beberapa postingan bookstagram:

  1. Luar negeri: @owlcrate, @owlcratejr, @fairyloot @bookishly.uk, dll
  2. Dalam negeri: @kelontongsihir, @sanwalibrary

Tahun 2017-2018 toko yang kusebutkan di atas cukup ramai peminatnya. Aku hanya sempat membeli beberapa kali bundling yang dibuat oleh @kandelalin.id dan 2 kali subsciption box dalam negeri:

πŸ“¦ Bookish Merch Box December @bookmarque (Desember 2017)
Tema: Magic and Miracle
Harga = Rp 200.000, DP Rp 80.000, pelunasan via shopee Rp 120.000
Isinya sebagai berikut:

  • Bag library = hand bag berbentuk buku (bisa pilih Alice, Sherlock, Harry Potter dan Six of Crows)
  • Magnetic Bookmark Hogwarts Ghost: Peeves and Lady Gray
  • Wooden bookmark Ghrisha Verse
  • Character card Loki, Tony Stark, Thor
  • Magnetic Pin Avengers
  • Lipbalm Camp of Blood Percy Jackson


πŸ“¦ April Box @lumierature.id (April 2018)

Tema = Eat, Drink and be Merry

Harga = Rp 265.000, DP 50%, Pelunasan via Shopee.
Isinya sebagai berikut:
Tahun 2019 ada subsciption box @elfcrate dan @wandercrist yang muncul, dan lagi-lagi bertema fantasy, disusul dengan @ufahari.bookishstuff yang menawarkan berbagai produk favorite bookworm

Apa latar belakang berdirinya @darcycrate?

Suatu hari dalam sebuah chat random, aku dan mba Annie mengeluhkan harga merch yang makin mahal, dan beberapa gak mau beli karena terhalang ongkos kirim.

I mean, kalo mau beli bookmark atau booksleeve atau candle 1 pcs, tapi ada minimal 90.000-120.000 supaya dapat gratis ongkir, mau gak mau kan beli yang lain juga. Ujung-ujungnya boros.

Lalu, kami sepakat membuat subs box sendiri. Untuk tema, kami mengambil dari classics literature karena kami berdua suka klasik, dan sebenarnya pembaca klasik di Indonesia cukup banyak. Selain itu, kami tidak perlu mengurus copyright. Konsepnya kami mengkurasi saja, bukan yang produksi, jadi bisa sekalian support small business.

Item yang dipilih yaitu fungsional dan go green. Kami sepakat mengambil nama @darcycrate karena belum ada yang pakai dan menetapkan lokasi basecamp di rumah Mba Annie yang sering kami sebut Pemberley Cabang Bantul.

Terlepas dari misi bisnis, besar harapan kami bahwa @darcycrate bisa berumur panjang dan menghidupkan budaya baca buku klasik di Indonesia.
Sejauh ini sudah 2 box yang berhasil kami rilis dan sedang proses pengerjaan box 3.

  1. Box#1: Pemberley Afternoon Party, based on Pride and Prejudice by Jane Austen
  2. Box#2: Green Gables Spring Picnic, based on Anne of Green Gables by L.M.Montgomery
  3. Box#3: Winter in Neverland, based on Peter Pan by J.M.Barrie

Bagaimana respon Bookstagram di Indonesia terhadap @darcycrate?


Secara umum cukup baik, walaupun memang hasil penjualan belum mencapai target. Karena masih awal, tentu masih ragu-ragu dengan kualitas produk. Apalagi dengan harga yang jauh di bawah rata-rata. Kami lega sekali membaca respon pembeli cukup antusias ketika menerima paketnya.

Paling tidak, box 1 dan 2 sudah menjadi awalan kami untuk bekerja sama dengan bookstagram lain yang memiliki bisnis merchandise serta mengenalkan toko lokal yang kami kenal, tapi mungkin belum pernah diketahui bookstagram lain.

Apa saja item di dalam box @darcycrate?

  1. Large item: booksleeve, cutlery set, ke depan rencananya selang-seling dengan totebag, cushion cover, pouch, dll.
  2. Medium item: candle, tea stainer, coaster, masih dipertimbangkan item mug, mini fan, atau fairy lamp
  3. Small item: magnetic bookmarks, paper bookmarks, stickers, dll.
  4. Surprise item: gelang, serbet, korek api, butter, dan entah apalagi nanti yang kepikiran.
  5. Fixed item: tea. Di box 1 dan 2 kami coba dengan kemasan kaleng, box 3 teh celup, ke depan rencananya akan bervariasi sesuai masukan customer.
Item darcy crate box sebelumnya


Prinsip item yang dipilih yaitu harus bisa digunakan sehari-hari dan juga bisa menjadi properti foto yang menarik. Sebisa mungkin harganya terjangkau supaya memudahkan pembeli.

Price List:
Box 1 (Januari 2020)
Paket A (tanpa buku) = Rp 150.000
Paket B (dengan buku) = Rp 230.000

Box 2 (Maret 2020)
Paket A (tanpa buku) = Rp 175.000
Paket B (dengan buku) = Rp 225.000

Box 3 (Desember 2020)
Paket A (tanpa buku) = Rp 250.000
Paket B (dengan buku) = Rp 310.000

Harga bervariasi tergantung item isiannya. Tapi semoga ke depannya harganya bisa fixed segitu, gak naik lagi.

Sistem pembayaran 2x, pelunasan di shopee Rp 120.000, DP sisanya via transfer ke BCA, OVO atau Gopay. Diskon 10% untuk batch 1 dan 5% untuk batch 2. Jika ada sisa produksi, kami akan menjualnya secara satuan setelah semua pesanan terkirim.

Apa saja harapan dan rencana @darcycrate ke depannya?


Harapannya DC bisa lanjut terus. Kemarin sempat hiatus karena pandemi. Semoga selanjutnya tidak ada kendala lagi.

Timeline 2021:
Box 4: Maret 2021
Box 5: Juni 2021
Box 6: September 2021
Box 7: Desember 2021

Tema yang akan diangkat yaitu middle grade english classics yang belum pernah dilirik. Untuk sementara kami mencoret Alice’s Adventures in Wonderland dan Little Prince karena sudah banyak yang membuatnya. Jika ada usulan bisa DM @y0nea saja. 😁

Selanjutnya, setiap pembeli berhak mendapatkan voucher diskon 10% yang dapat digunakan pada pembelian berikutnya.

Selain itu akan ada member card bagi yang sudah setia mendukung @darcycrate sejak box pertama. Member akan mendapatkan diskon 15% selama 2021. Info tentang sistem membership akan kami umumkan kemudian.

Doakan lancar dan gak ada kendala ya. Untuk box#4 sudah ada temanya. Silahkan menabung dari sekarang. Oiya, untuk box#3 masih bisa dipesan sampai 30 November 2020. Jangan sampai kelewatan karena produknya bagus-bagus banget! Cek instagram @darcycrate untuk keterangan lengkap.

Have a nice day!

Review Buku Berbayar, Why Not?


Konnichiwa, Minna-san!

Kali ini aku mau membahas tentang kerjasama review buku. Ini termasuk isu yang selalu ramai dibahas di kalangan #Bookstagram, tapi tampaknya belum ada titik terang. Istilahnya masih belum ada masa depan cerah.

Mari kita samakan persepsi bahwa bookreviewer disini bukan dalam kapasitas sebagai ahli bahasa, kritikus atau apa karena tidak banyak bookstagram yang memiliki background keilmuan sastra. Review buku di sini adalah pandangan pribadi, yang kita bagikan karena mendapatkan pengalaman membaca suatu buku yang mana hal ini subjektif dan tergantung selera masing-masing. Bisa di awal baca, ketika membaca dan selesai membacanya.

Oke, balik dulu ke jaman awal aku jadi bookstagram, sekitar September 2017. Aku tau bahwa komunitas ini ada untuk menunjukkan bahwa sebagian pengguna instagram ada yang suka buku dan aktivitas membaca. Hal ini bisa dilihat dari postingan di instagramnya berupa foto buku aesthetic, maupun caption yang sangat menarik sehingga pembacanya merasa mendapat rekomendasi bacaan. Ada 3 macam review, positif (endorsement), negatif (rant review) dan review berimbang (plus-minus).

Tujuan review atau resensi buku tentu saja sebagai pertimbangan pembaca lain dalam hal memilih bacaan. Ada aplikasi goodreads.com untuk melihat rating buku secara umum. Tidak dipungkiri bahwa sebagian followers akan tertarik membaca bahkan membeli buku yang diposting reviewnya oleh bookstagram. Istilahnya saling menebar ratjun berantai.

Awal menjadi bookstagram, aku mendapat info kalau ada peluang dapat buku gratis melalui giveaway buku atau looking for bookstagram yang diadakan oleh penulis, penerbit maupun akun bookstagram lain. Wah, tentu saja ini adalah angin segar buat aku yang sudah belasan tahun mengoleksi buku dari kantong sendiri. Kan lumayan ya budget beli buku buat beli yang lain. Begitulah kira-kira yang kupikirkan dulu.

Tahun 2018, aku mulai mendaftar beberapa kali dalam event pencarian bookstagram ini. Paling tidak terpilih 1-2x per bulan. Sistem pencarian bookstagram adalah, kamu mendapat buku gratis dari penulis/penerbit. Lalu akan dijadwal untuk posting selama 5 hari secara bergantian. Bayangkan, review 1 buku dibagi menjadi 5 kali postingan. Kamu harus menyiapkan waktu untuk membaca supaya selesai sebelum jadwal tayang, mengalokasikan waktu untuk mendapatkan 5 foto yang berbeda supaya tidak bosan dan juga mengetik caption review. Luar biasa kan?

Apakah ada bayarannya? Oh, tentu tidak. Paling bagus ada like dan komen ucapan terima kasih dari penulis/penerbit atau bahkan review direpost di feed atau story. Tapi kadang ada juga yang bahkan tanda like pun tak ada. Haha. Seiring waktu aku mulai selektif dan kemudian fokus memperbaiki konten. Tujuan awal aku bergabung bookstagram adalah upgrade fotografi. Jadi ya, kerjasama review buku bukan prioritasku.

Lalu, melihat trend makin banyak postingan buku di instagram dan munculnya para #bookstagrammer, tampaknya penulis dan penerbit memanfaatkan ini sebagai peluang promosi . Tidak sedikit yang kemudian diajak kerjasama untuk promosi buku yang akan terbit. Harapannya, postingan bookstagram bisa meningkatkan target penjualan atau paling tidak memperluas ruang lingkup informasi terkait buku tersebut. Masa promosi sekitar 3-6 bulan. Setelah itu, buku dianggap sudah lewat masa promosi dan bisa jadi ditarik dari toko buku.

Lalu, aku mendengar bahwa di luar negeri konten review buku itu berbayar. Lalu, kupikir benar juga ya. food blogger dan beauty blogger kan dapat produknya untuk dicoba dan mereka mendapat bayaran juga. Kenapa book blogger, bookstagram dan booktuber tidak? Di sini buku sama dengan produk bukan? Tapi tidak sedikit juga penulis dan penerbit yang merasa sudah menggratiskan bukunya, masa harus membayar juga? Feedback ke mereka apa?

Aku melihat di sini iklimnya masih saling menuntut berupa angka.

Oke, aku mau sharing tentang dibalik layar sebuah konten review buku bisa muncul:

  1. Buku diterima pembaca (entah dengan membelinya di toko buku maupun mendapat buku dari penulis/penerbit.
  2. Membaca buku. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca buku 300 halaman, rata-rata 2-3 jam. Ya kalo cocok. Kalo ada banyak keluhan semacam salah ketik, gak cocok writting style-nya, gak suka tokohnya, ceritanya gak masuk akal, dll, mungkin seminggu bahkan tidak selesai.
  3. Menyiapkan foto. Bisa dilihat macam-macam gaya foto, ada yang minimalis (minim properti), ada juga yang maksimalis (full props). Indoor maupun outdoor ada effortnya masing-masing.
  4. Mengedit foto. Aplikasi yang umum digunakan yaitu Snapseed, Lightroom, VSCO, Picsart, dll. Hanya supaya hasil foto lebih menarik dan eye catching kadang membutuhkan waktu berjam-jam.
  5. Mengetik caption. Ini yang susah sebenarnya, karena pengalaman membaca setiap orang berbeda tidak mungkin copy-paste review orang kan? belum lagi supaya engagement tinggi, harus mencari kalimat yang interaktif. Kalo cuma caption datar ya biasanya cuma di-skip aja.
  6. Memposting. Ini juga butuh effort. Baik posting di IG feed maupun di IG Story, kita harus membalas komentar dan juga butuh kuota internet.

Setelah melakukan poin 1-6 apakah cukup dengan dikasih buku gratis tanpa kompensasi? Padahal jika si Pembaca tidak mendapat buku tersebut dari penulis/penerbit, dia bebas untuk membaca buku yang sesuai minatnya dan juga tidak perlu kejar tayang sesuai jadwal posting.

Antrian baca yang tertunda

β€œAku khawatir, kesenangan pada buku dan aktivitas membaca berubah menjadi suatu hal yang dibenci nantinya karena dilakukan dengan terpaksa.”

(kak Oni, 2020)

Mari melihat kegiatan review buku ini sebagai salah satu bentuk jasa. Jasa foto setauku ada tarifnya sendiri. Resensi buku yang dimuat di koran pun ada kompensasinya sendiri. Bookstagram ini terlalu baik menurutku. Sudah tidak dapat bayaran, masih mau dikasih tugas macam-macam juga.

Bentuk kompensasi yang bisa diberikan penulis/penerbit:

  1. Fee berupa uang/pulsa/e-money
  2. Buku bonus, misalnya 1 buku untuk direview, 1 buku hadiah tanpa keharusan review
  3. Voucher diskon belanja buku
  4. Merchandise

Dan yang paling penting adalah saling menghargai supaya tetap bisa bekerjasama nantinya. 😁

Oke, segitu dulu bahasan hari ini. Bisa sharing pengalaman kalian di kolom komentar atau via DM ke Instagram @y0nea. Have a nice day~

Top 10 Favorite Books For Summer Reading



Konnichiwa, Minna-san~

Summer vibes everywhere! Alias Jogja lagi panas-panasnya. So, sesuai request, postingan kali ini yaitu beberapa buku dengan setting waktu di musim panas, di pantai, maupun yang menurutku heart warming dan easy read beserta ratingnya di goodreads.comΒ :

1. Love & Gelato – Jenna Evans Welch (4.11🌟)
2. What to Say Next – Julie Buxbaum (4.07🌟)
3. Words in Deep Blue – Cath Crowley – Gracetown (4.07🌟)
4. Alex, Approximately – Jenn Bennet (4.00🌟)
5. The Anatomical Shape of Heart – Jenn Bennet (3.94🌟)
6. Ayesha At last – Uzma Jalaluddin (3.91🌟)
7. Summer in Seoul – Ilana Tan (3.91🌟)
8. When Dimple Met Rishi – Sandhya Menon (3.71🌟)
9. Finding Sisu – Katja Pantzar (3.67🌟)
10. Sea You Soon – Happy Rose (3.50🌟)


Oiya, aku masukin 1 nonfiksi Finding Sisu karena ada beberapa referensi kegiatan (outdoor) yang cocok buat ngisi liburan aliasΒ #dirumahajaΒ karena masih pandemi. Mana yang udah kalian baca? Nomer 3 dan 4 reviewnya sudah tayang ya. Cek postingan sebelumnya~

Buku mana nih yang bikin kalian penasaran?


Komen di bawah ya. Siapa tau bakal jadi bahan postingan selanjutnya.

Have a nice Weekend.