Posted in Tips

Tips Koleksi Funko

Hello~ Konnichiwa, Minna-san!

Long time no post. Selama Ramadan aku rehat karena sakit dan masa pemulihan. Jadi speed baca menurun drastis dan lebih banyak baca komik. Bulan Juni ini aku memulai program baru, #bookstagramsaturdate di akun instagram berkolaborasi dengan beberapa bookstagrammer lain sehingga lebih interaktif.

Episode perdana #bookstagramsaturdate sudah tayang Sabtu, 13 Juni 2020 mengundang @dianmatsu

Dian adalah seorang guru bahasa Jepang yang suka mengkoleksi funko. Sejauh ini ada 13 Funko yang berhasil dikumpulkan Dian. Tips koleksi funko ala Dian yaitu:

  1. Cari tokoh yang benar-benar disuka
  2. Cek harga di market place terpercaya
  3. Nabung sampai celengan cukup
  4. Rajin-rajin cek info diskon
  5. Pastikan asli, bisa chat seller dulu supaya yakin kondisi masih bagus (terutama produk preloved/second)

Tonton video lengkapnya di IGTV @y0nea ya.

Posted in Review Buku

Review Buku Magic of Tidying Up Marie Kondo

“Konsumerisme membawa kita pada sebuah zaman berlebihan, kondisi yang saya sebut, ‘obsesistuff’. Banyak dari kita memiliki barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan dan kita tidak tahu bagaimana menangani, bahkan menyadari kondisi itu. Saya ingin buku ini dibaca sebanyak mungkin orang. Bukan sekedar bicara tentang membuang atau menata barang, buku ini bahkan bisa mengubah hidup Anda.”

Dee lestari, penulis

Konnichiwa, Minna-san~

Welcome to Wonderland!

Kali ini aku akan membagi pengalaman membaca salah satu buku yang mengubah mindsetku di tahun 2017. Sudah cukup lama sih, tapi tidak ada salahnya aku bahas karena masih relevan sampai sekarang.

Cover buku Magic Of Tidying up Marie Kondo

Judul Buku: The Life-changing Magic of Tidying Up; Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang

Penulis: Marie Kondo

Penerjemah: Reni Indardini

Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih & Baiq Nadia Yunarthi

Penerbit: Bentang Pustaka

Cetakan ke-7, Agustus 2017

Tebal Buku: 206 halaman

ISBN: 978-602-291-244-6

Harga: Rp 59.000

Aku besar di keluarga yang bisa dibilang mengutamakan kerapian. Ibuku akan mengomel panjang jika gunting berpindah tempat dari yang seharusnya. Bisa dibilang aku dan adikku terbiasa dengan rutinitas beres-beres setiap hari, dan yang paling melelahkan jika akan ada tamu yang menginap serta akan mendekati lebaran.

Suatu hari aku mendengar tentang hidup minimalis dan konsep tiny house dalam percakapan ringan dengan teman-temanku ketika gathering Idul Adha 2017. Jujur saja waktu itu aku belum paham dan kemudian menemukan buku ini di Toko Buku Togamas. Waktu itu buku ini cukup ngehits, tapi aku belum terlalu tertarik.

Aku baru mencari buku ini ketika sedang patah hati lelah dengan semua ini. Halah. Mumpung mau akhir tahun kan, apa salahnya membaca buku referensi di luar genre yang biasa kubaca? Siapa tau bisa membantu membuat life plan. Bisa dibilang buku ini menjadi titik balik setelah merantau 10 tahun di Yogyakarta.

Buku ini tipis. Tapi cukup membuatku gerah. Semacam sensasi minum antibiotik, awalnya pahit, bikin mual dan pusing, tapi harus dihabiskan supaya sembuhnya tuntas. Waktu itu aku menyelesaikan buku ini dalam 2 minggu dan butuh mencerna sampai akhirnya memutuskan untuk praktik.

Marie Kondo menjadi konsultan berbenah di Jepang setelah bertahun-tahun tertarik dengan interior. Bisa dibayangkan anak umur 5 tahun sudah memiliki ketertarikan terhadap urusan menata rumah? Konmari menceritakan pengalamannya pada bagian 1.

Bagian 1 Kenapa Kita Tidak Bisa Menjaga Kerapian Rumah?

Banyak anggapan bahwa rumah yang rapi hanya bisa dimiliki oleh orang tertentu, yang memiliki bakat rapi. Sementara yang sibuk dan sudah dari sananya berantakan tidak mungkin bisa.

Kita tidak bisa mengubah kebiasaan jika cara pikir kita belum berubah.

Marie kondo, page 7

Di bagian 1 ini lebih banyak membahas tentang mengubah mindset, bahwa sebenarnya berantakan dan rapi tergantung motivasi kita. Pada saat membaca buku ini, aku memang berniat memulai hidup baru dengan meninggalkan kebiasaan lama yaitu menimbun barang. Mungkin bagi yang belum punya niat, ketika membaca buku ini akan banyak penyangkalan. Tidak masalah. Tidak perlu memaksakan diri setuju dengan Konmari.

bagian 2 membuang sampai tuntas terlebih dahulu

Ketika membaca bagian ini aku kaget. Selama ini kata “buang” identik dengan hal yang tidak kita perlukan; sampah, makanan sisa, barang rusak, dll. Namun, di sini, Konmari mengajak kita untuk menelaah satu persatu barang yang kita punya dan memikirkan kembali, mau dibuang atau disimpan.

Sebelum memulai, visualisasikan tujuan Anda.

Ya, kita harus bisa membayangkan:

Mau seperti apa ruangan/rumah yang ingin dicapai?

Mau gaya hidup seperti apa yang kita jalani kedepannya?

dst.

Prinsipnya mudah, jika ingin bahagia, simpanlah barang yang membawa kebahagiaan (spark joy). Menurutku prinsip ini mudah di jalankan, tapi memang butuh proses cukup lama untuk bisa mencapai target yang diharapkan. Mungkin prinsip hidup minimalis akan sulit dicapai jika menggunakan prinsip Spark Joy. Tapi, untuk pemula, aku yakin metode Konmari ini relatif mudah diterima, karena perubahannya tidak drastis dan mendadak, tapi bertahap mengubah mindset.

bagian 3 berbenah berdasarkan kategorinya ajaibnya bukan main

Aku ingat dulu membereskan barang di rumah sesuai lokasi. Pantas saja tidak selesai-selesai. Metode Konmari mengajak kita membereskan barang sesuai kategori dengan urutan:

  1. Pakaian
  2. Buku
  3. Kertas
  4. Komono (Pernak-pernik)
  5. Kenang-kenangan

Bagiku yang tidak terlalu mengikuti fashion, memilah pakaian tentu saja mudah. Tinggal pilih mana yang masih mau dipakai dan mana yang mau dibuang (disumbangkan). Dalam Prinsip Konmari tidak ada patokan jumlah baju yang idealnya kita simpan. Jika ingin metode yang lebih detail tentang ini bisa coba baca buku Seni Hidup Minimalis yang ditulis oleh Francine Jay.

Paling berat ketika membaca poin 2 tentang buku. Haha. Tidak mudah melepas buku yang sudah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Tapi aku mencoba mengikuti saran Konmari, menurunkan SEMUA BUKU dari rak. Waktu itu bukuku ada 7 rak kayu kecil ukuran 50 cm x 150 cm, total di register ada sekitar 925 buku, tapi sejak April 2017 aku sudah mulai jualin buku sih, jadi paling tinggal 700 sekian.

Memilah buku berdasarkan empat kategori luas:

  • Umum (buku yang Anda Baca untuk hiburan)
  • Praktis (referensi, buku masakan, dll)
  • Visual (koleksi foto, dll)
  • Majalah

Kriterianya adalah apakah buku tersebut mendatangkan kegembiraan atau tidak ketika disentuh.

Coba cek rak buku masing-masing. Tiap kita pasti punya:

Buku Tak Terbaca, baik yang sudah dibaca tapi tidak pernah dibaca ulang, atau timbunan candi TBR yang entah kapan mau dibaca karena kesibukan.

Buku Favorit, yang kadang-kadang dibaca ulang, atau memang suka karena berbagai alasan.

Kali pertama menjumpai sebuah buku adalah saat yang paling tepat untuk membacanya.

marie kondo, Page 87

Sekali lagi, gak harus nurut kata Konmari ya, karena barang Spark Joy tiap orang beda-beda. Kalo mau nimbun buku 2000 juga boleh koq.

Kertas

Ini salah satu “sampah” terbanyak yang bisa kita temukan di rumah. Bahan Seminar, tagihan (kartu kredit), garansi alat elektronik, kartu ucapan, buku cek bekas, slip gaji, dll. Hayo buat apa dikumpulin?

Pernak-pernik

ada lagi urutannya

  1. CD, DVD
  2. Produk Perawatan Kulit
  3. Rias Wajah
  4. Aksesori
  5. Barang Berharga (paspor, kartu kredit, dll)
  6. Alat Elektronik yang kecil (kamera digital, kabel listrik, dll)
  7. Peralatan rumah tangga (alat tulis, alat jahit, dll)
  8. Peralatan rumah tangga (barang sekali pakai, obat, detergen, tissue, dll)
  9. Alat dapur atau alat makan
  10. Lain-lain (uang receh, barang pajangan, dll)

Punya banyak hobi akan membuat tumpukan komono makin beragam. Silahkan kumpulkan menjadi subkategori terpisah.

Terlalu banyak orang yang hidupnya dikelilingi barang-barang tak perlu hanya karena mereka “pengin aja”

marie kondo, page 99

bagian 4 mencerahkan hidup dengan menyimpan secara apik

Sebelum menata barang, tolong poin 1-3 sudah beres dulu. Buang dulu sampai tuntas, sebelum menyimpan sisanya. Sebagian besar dari kita ketika rak buku penuh adalah membeli rak buku baru. Aku sudah berhenti sejak 2017 dan sekarang cuma punya 2 rak buku.

Tips menata barang:

  1. Tempat tersendiri untuk tiap barang
  2. Simpan barang dengan tatatan sesederhana mungkin
  3. Jangan menyimpan di tempat yang tersebar-sebar
  4. Mudah menyimpan bukan mudah mengambil
  5. Simpan secara vertikal, jangan ditumpuk
  6. Tidak perlu membeli barang khusus untuk menyimpan
  7. Simpan tas di dalam tas lain
  8. Kosongkan tas setiap hari
  9. Barang yang bertebaran di lantai semestinya disimpan di lemari
  10. Jangan menaruh barang di bak mandi dan bak cuci dapur
  11. Jadikan tingkat teratas rak buku sebagai altar pribadi Anda
  12. Hiasi lemari dengan barang kesukaan rahasia
  13. Segera keluarkan pakaian baru dari kemasan dan cabut labelnya
  14. Jangan remehkan riuhnya informasi tertulis
  15. Apresiasi barang-barang Anda untuk memperoleh kinerja andal.

bagian 5 keajaiban berbenah mengubah hidup anda secara dramatis

Mengikhlaskan justru lebih penting daripada menambah

page 169

Sebagai penutup, bagian ini berisi kontemplasi. Bahwa sebenarnya dari kegiatan beres-beres secara menyeluruh, kita memberi ruang untuk berdialog dengan diri sendiri, berinteraksi dengan barang-barang yang kita punya, memilah yang mana yang penting dan mana yang sudah tidak kita perlukan lagi, dll. Minat tiap hari berubah. Hari ini aku suka buku klasik, minggu depan mungkin aku suka fantasi, ya manusia memang sedinamis itu kan?

Buku ini menurutku berkesan, karena mengubah mindset tentang menyimpan barang. Memang buku ini belum 100% membuatku puas, karena beberapa hal belum bisa kuterapkan, terutama poin Komono. Pada kenyataannya setelah membaca buku ini aku menjadi tertarik dengan buku self improvement sejenis, Seni Hidup Minimalis dan Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan (Francine Jay), Goodbye, Things (Fumio Sasaki) dan terakhir aku membaca Clear the Clutter, Find Happiness (Donna Smallin Kuper)

Terjemahan buku ini juga lumayan enak dibaca. Tapi aku agak bosan dengan layoutnya yang monoton. Hanya deskripsi dan tanpa ilustrasi.

Aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapapun. Walaupun banyak yang awalnya tidak cocok dengan metode Konmari, tapi tetap ada juga yang sukses menerapkannya. Menurutku tidak ada salahnya dibaca untuk menambah referensi. Diterapkan atau tidak itu pilihan, kan?

Posted in Tips

5 Langkah Journaling untuk Pemula

Konnichiwa, Minna-san!

Apakah kalian menulis diary?

Aku ingat pertama kenal diary waktu SMP. Seru banget nulis pengalaman seharian di sekolah. Tapi kebiasaan menulis diary berhenti ketika SMA. Aku baru memulai lagi tahun 2018.

Apa saja sih yang perlu dilakukan untuk memulai hobi journaling?

1. Tentukan tujuan jurnal kamu

Kenangan apa yang ingin kamu simpan dalam jurnal?

Tiap orang punya hal menarik yang ingin disimpan untuk masa depan. Misalnya, kegiatan harian, perkembangam anak, pengalaman bepergian (traveling), wisata kuliner, dll.

Travel Journal

Aku memiliki reading journal untuk mencatat aktivitas baca dan mail tracker biar keliatan paket datang berapa kali tiap bulan. Hehe.

Buatlah jurnal yang sesuai minat dan kebutuhan kamu supaya semangat ngisinya. 😁

2. Mulai dengan perlengkapan yang ada

Kebanyakan pemula yang ingin memulai udah minder duluan karena gak punya bolpen dan spidol warna-warni. Belum lagi washitape dan stiker. Wah.

Aku memulai journaling tahun 2018 dan menggunakan notebook A5 tipis. Menurutku journaling itu bukan tentang dekoratifnya, tapi tentang fungsinya. Cantik itu bonus. Yang penting kita senang ketika mengisinya

3. Buat tampilan yang memudahkan untuk diisi

Sekarang kamu buka buku tulis dan ambil bolpen/pensil terdekat. Coba bayangkan tampilan isi jurnal mau seperti apa? Dominan tulisan atau angka?

Misalnya ingin menghitung udah berapa buku yang dibaca, ada 2 macam tampilan:

  1. Menulis Judul, Penulis, Tanggal selesai baca
  2. Menghitung jumlah saja
Reading Goal Spread

Dengan tampilan seperti ini, aku tinggal mewarnai kotak angka dengan spidol kuning selesai membaca buku fiksi, dan spidol hijau selesai membaca buku nonfiksi.

4. Sediakan waktu khusus untuk mengisinya

Sering kali semangat ketika membuat tampilan, tapi malas mengisinya. Haha. Coba sediakan waktu sebelum tidur atau ketika bangun tidur untuk mengisinya.

Kalian bisa koq mengisi tiap minggu atau tiap awal bulan saja. Jangan memaksakan diri mengisi tiap hari jika memang tidak sempat.

5. Ikut komunitas supaya tetap semangat

Seperti halnya hobi yang lain, mengikuti komunitas akan membuat kita semangat menjalaninya. Coba follow akun @planneraddictindonesia dan akun #planneraddict lainnya. Ada banyak tampilan yang bisa kamu tiru lho. Coba kenalan juga siapa tau bisa jadi partner swap mail (tukar paket) perintilan journal.

Selamat mencoba! 😃

Posted in Review Buku

Review Novel Metropop The Case We Met

Konbanwa, Minna-san!

Long time no post. Setelah sekian lama, akhirnya aku memutuskan untuk mengganti id blog, semoga jadi penyemangat untuk rajin posting di blog karena sudah bayar, haha, kembalikan tabunganku!

Well, seperempat tahun pertama 2020, aku menemukan bahwa Gramedia Pustaka Utama sedang gencar menerbitkan novel Metropop. Mengingat segmen pembaca sekarang mayoritas remaja dan dewasa muda, tentu saja kisah dengan tokoh kuliah dan kerja akan banyak peminatnya.

Btw, salah satu novel terbaik yang kubaca bulan ini yaitu Metropop The Case We Met, yang ditulis oleh Flazia, akronim dari nama asli penulis, Fildzah Izzati Achmadi, yang kemudian setelah berkenalan ternyata beliau adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM, beberapa tahun di bawahku. Oh, tentu saja aku bukan dokter. Tapi Farmasi dan Kedokteran hanya dipisahkan satu pagar. Yah, dunia ini sempit.

Pertama aku tahu buku ini bukan karena kenal secara pribadi dengan penulis. Aku seperti biasa setiap weekend melihat situs gpu.id untuk mengetahui info buku yang akan terbit. Cover merah dengan ilustrasi dokter tentu saja menarik perhatianku. Bukan karena aku naksir dokter atau apa, tapi novel dengan latar dunia kesehatan selalu membangkitkan semangat bacaku. Ya, kadang aku ingin melihat sisi lain dari dunia kesehatan yang kugeluti.

Blurb

Sign in as Redita Harris
From : Ratu Maheswari < ratumahestjip@chef.net >
Subject : Re: Re: Baca NY Times

Dita, kamu bahkan masuk berita NY Times karena mendadak ambruk waktu sidang dan orang jadi ngira kamu mau dibunuh sama lawan kamu—you should take a break, for God’s sake! Jadi, kenapa juga tiba-tiba kamu ribet ngurusin kasus malapraktik di sini? Kamu bahkan udah nggak ketemu Natan bertahun-tahun, dan terakhir kali ketemu pun kamu masih gagap-bisu di depan dia! Masih nanya sebaiknya kamu terima jadi pengacara dia atau nggak? Kecuali hati kamu akhirnya berhasil beralih, yang jelas ini bukan keputusan yang bagus, Red.

Sign in as Natanegara Langit
From : Akbar Zaydan < dn.akbr@dr.com >
Subject : Butuh Propofol?

Nat, someone said that being a good doctor is like being a goalkeeper. No matter how many goals you’ve saved, people will only remember the one you missed. Kematian pasien kali ini jelas bukan salah kamu, dan rumah sakit lagi sibuk cari jalan keluar, jadi kenapa sekarang kamu malah ke New York? Harus dianestesi biar diem, hah? Persetan sama konferensi di Wyndham. Kami tahu kamu nggak akan lari, jadi ayo cepet balik. Dita datang ke rumah sakit pagi ini, cari kamu.

Redita Harris, pengacara muda selebram yang dijuluki Red Riding Hijab, sedang menangani kasus malapraktik dr. Mark Ashton di New York, ketika tiba-tiba dr. Natanegara Langit, Sp.An. muncul di hadapannya.

Rehanda Harris (Rehan), kakak Dita yang juga pengacara, lebih sering menangani kasus sengketa perusahaan dan korupsi, meminta Dita untuk menangani kasus tuduhan malpraktik Natan.

Lalu bagaimana Dita menangani kasus ini jika bertemu Natan saja tidak berani?

The case we met

Tema

The Case We Met menyuguhkan tema yang tidak biasa: dunia kedokteran dan dunia hukum dalam satu bahasan. Kasus Malapraktik di dunia kedokteran tentu bukan hal baru. Penulis yang memiliki background dokter, tentunya butuh banyak riset terkait kasus hukum dan bagaimana penyelesaiannya.

Dari segi romance, aku bilang ceritanya sangat berbeda dengan Metropop kebanyakan; instalove/baru ketemu sudah jadian, CLBK dengan mantan, atau bos dan bawahan yang jadian. Dalam The Case We Met kita akan menemukan hubungan yang terjalin karena rasa kagum, cinta bertepuk sebelah tangan dan keinginan untuk menjaga diri dari interaksi lawan jenis. Terdengar seperti novel Islami? Tentu saja tidak bisa disimpulkan seperti itu.

Alur

Alur maju-flash back tidak membuat bingung. Tapi kadang agak bikin mikir dengan timeline yang maju-mundur. Terlalu banyak detail yang walaupun relevan, tapi potensial bikin bosan. Aku bahkan membuat timeline dan menebak setting waktu karena tidak ada keterangan tanggal di awal bab. Agak mencengangkan juga mengetahui Dita belum 25 tahun, sementara Natan sudah 31. Padahal disebutkan bahwa Dita kelas sepuluh ketika Natan kelas dua belas, kenyataan bahwa Dita masuk kelas akselerasi dan menjadi mahasiswa termuda (15 tahun) membantah kemungkinan waktunya yang tidak sinkron.

Karakter Tokoh

Redita Harris

Bisa dibilang Dita menjadi model muslimah masa kini; berkemauan kuat, cepat belajar, cerdas, mandiri dan tau bagaimana mengoptimalkan potensinya. Aku suka bahwa penulis tidak menggambarkan tokoh yang 100% sempurna. Dita juga memiliki kekhawatiran wanita seusianya; menikah dengan lelaki yang akan membatasi ruang geraknya.

Natanegara Langit

Natan berasal dari keluarga dokter-pilot di Bandung. Bungsu dari empat bersaudara, ketiga kakaknya perempuan. Ibunya yang seorang pilot menjadi role model wanita idaman Natan. Meninggalnya dr. Guntur ketika Natan SMP menyisakan luka dalam hingga akhirnya Natan dipindah ke Yogyakarta, tinggal bersama kakak tertuanya, Ambar.

Konflik

Walaupun ini buku penulis pertama yang kubaca, tapi aku langsung klik dan otomatis masuk kategori novel page turner. Opening di New York jujur saja bikin aku susah loadingnya. Apalagi bahasa yang digunakan cukup formal seperti novel terjemahan. Wait, ini serius metropop?

Bagian awal antara Natan dan Dita seperti anjing dan kucing. Natan ditakuti Dita karena sangat galak ketika SMA, dan setelah tidak bertemu selama enam tahun, mau tidak mau Dita harus menghadapinya. Belum lagi ada Akbar Zaydan, sahabat Rehan yang ditaksir Dita, ternyata sudah menikah dan Taraksa Adam, jaksa muda yang sempat menjadi tunangannya, terus berusaha untuk memperbaiki hubungan.

Jujur saja, ini rekor Metropop tertebal yang pernah kubaca! Oke, aku memang sudah membaca Harry Potter dan Piala Api yang tebalnya 896 halaman. Tapi, serius. Metropop itu setauku cuma 300an halaman. Ini kesambet apa sih penulisnya bisa nulis 440 halaman?

Lalu, karena aku agak bosan dengan detail di awal, seperti biasa aku loncat baca setengah terakhir. (Jangan di tiru) Eh, ternyata setting pindah ke Yogyakarta. Baik. Mari balik baca dari awal. Melewati seperempat pertama bahasan mulai mengalir sehingga mudah untuk diikuti.

Aku cuma bisa pesan bacanya harus sabar karena ada banyak lapisan bawang. Kita akan diajak menyelami tentang pribadi Natan, kondisi keluarganya, alasan kenapa Natan yang dikenal sebagai serigala SMA 1, akhirnya jadi dokter anestesi, tentang Prof. Dewo, dan tentang Ditaniar Bagaskara.

Point of View

Penulis menggunakan pov 3 bergantian Dita dan Natan, sehingga pembaca bisa melihat dari kedua sisi secara utuh.

Yang Aku suka

Novel Metropop The Case We Met ini menyajikan bahasan kedokteran, suasana di kamar operasi dan ruang sidang cukup berimbang. Pembaca akan mendapat informasi baru di dunia hukum dan kedokteran tanpa harus sering-sering membuka google. Ada 47 catatan kaki, penjelasan via dialog antar tokoh serta informasi dalam bentuk deskripsi.

Ada banyak tokoh lain yang meramaikan, Risa, Mba Yasmin dan Val, rekan kerja di Diah Hasibuan & Partners. Jadi, selain merasakan berada di rumah sakit, pembaca akan merasakan atmosfer firma hukum juga. Menurutku menarik karena belum banyak novel lokal yang membahas tentang ini.

Salah satu yang membuatku nyaman membacanya karena aku bisa menebak lokasi cerita, dimana RS dr. Harsono, Steak A Break di Gejayan, Shelter Trans Jogja Seturan Raya, dan rumah Dita di daerah Pakem, Kaliurang atas yang dinginnya kayak di Puncak. Deskripsi lokasi juga memanjakan visual pembaca.

Chemistry tokoh juga dibangun pelan-pelan. Gak ada plot twist, tapi aku cukup salut karena minim plot hole dan semua tokoh punya peran.

Kekurangan

Ada banyak pembaca yang langsung menyerah melihat tebal buku >400 halaman. Seperti yang sudah kutulis di atas. terlalu banyak detail sehingga membuat kontennya terlalu padat dan halamannya menjadi banyak.

Seperempat bagian terakhir menurutku manis, tapi penyelesaiannya kurang puas. Penyerangan di tangga darurat apartemen Natan menurutku kurang relevan dan kurang dramatis. Entah karena memang sudah terlalu tebal sehingga dipotong atau apa. Mungkin ingin menampilkan plot twist tapi sayangnya kurang greget.

Pesan yang ingin disampaikan

Jika Metropop selama ini lebih banyak mengeksplor kehidupan kaum urban di Jakarta, The Case We Met mengungkap kehidupan sederhana di Yogyakarta. Mindset patriarki di Jawa, runtuh dengan sikap tokoh yang mengedepankan tuntunan Islam.

She wasn’t waiting for a knight, she was waiting for a sword.

Love Her Wild – Atticus (page 362)

Novel ini cocok dibaca kalangan medis, bisa jadi referensi di kalangan orang-orang yang bergerak di bidang hukum, serta semua pembaca yang suka romance, terutama dengan nuansa Islami. Aku tidak ragu memberi 4 bintang pada Novel Metropop The Case We Met ini karena sarat informasi dan cukup menghibur.

Identitas Buku

Judul: The Case We Met
Penulis: Flazia
Penyunting: Miranda Malonka
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-1, 2020
Tebal buku: 440 halaman
ISBN: 978-602-063-597-2
Rating: 17+
Harga: Rp 110.000

Continue reading “Review Novel Metropop The Case We Met”

Posted in Review Buku

[Book Review] Polaris Musim Dingin

Halo~ 🙋‍♀️
Konbanwa, Minna-san!

Beberapa waktu lalu aku mendapatkan kiriman hadiah giveaway #PolarisMusimDingin dari kak @alicialidwina_ どうもありがとうございます!

Sejak pertama melihat cover novel ini di web gpu.id aku langsung naksir! 😍😍😍 Dasar aku, lemah pada buku sampul cakep. Apalagi ini biru langit malam dan salju. Otomatis masuk wishlist.

Hal lain yang membuatku tertarik membaca buku ini karena kak Alicia mengambil setting di Otaru, sebuah kota kecil di bagian utara Jepang, yang jarang kutemui di novel lain. I mean, tentu mudah menemukan novel dengan setting lokasi Tokyo, Kyoto, Fukuoka, Hokkaido, Sapporo, tapi Otaru? Baru kali ini kayaknya.

Otaru adalah kota kecil di Hokkaido, yang memiliki kanal yang cantik. Tapi biasanya para turis yang berkunjung ke Hokkaido memilih mendaki Fuji-san atau ke Sapporo saja.

Yah, walaupun belum pernah membaca buku penulis sebelumnya, aku tidak ragu untuk mencoba. Apalagi setelah melihat ulasan buku-buku sebelumnya yang cukup bagus di goodreads.com

Berikut Blurbnya:

20200223_163412

❓Sekuat apa ikatan Akari-chan dengan Sensei? Siapakah Hironobu Gen-san?

Sejak baca halaman pertama, aku sudah penasaran dan gak sabar baca sekali duduk. Tapi apa daya, cuma bisa baca pas malem aja dan akhirnya selesai dalam seminggu.

Penulis menggunakan pov 1 Higashino Akari. Sejak awal kita bisa merasakan sepinya hidup Akari sebelum bertemu Sensei, perempuan paruh baya pemilik kedai Shirokuma Bistro.

Ini tipe bacaan yang cocok banget sama aku. Diksinya bagus, plotnya rapi, alurnya maju-mundur bikin geregetan, dan tokoh-tokohnya berasa hidup. Deskripsi lokasi, budaya, dan waktunya lumayan detail, benar-benar memanjakan orang visual. Pengen banget ke Jepang!

Format novel ini dibagi menjadi 3 bagian: satu-dua-tiga

Dengan deskripsi tentang pertemuan di masa lalu- perpisahan di masa lalu dan pertemuan di masa kini.

Kita akan berkenalan dengan empat orang yang hidupnya berubah sejak bertemu Sensei:
👩Higashino Akari
👦Kitagawa Kyouhei
🧒Minami Ryuji
👧Nijishima Misaki

Membaca #PolarisMusimDingin membuatku teringat dengan perjalanan mudik lebaran tahun lalu: Jogja-Palembang PP tapi pake jalur darat dan udara mampir Jakarta dan Lampung. 🤣

Aku bisa bayangin gimana perjalanan Akari-chan dari Otaru (Hokkaido, Jepang Bagian Utara) ke tujuan akhir di Jepang paling selatan. 😱

Ceritanya mengaduk-aduk emosi, mengandung sedikit bawang, tapi plot twistnya gak bikin kaget-kaget amat sih. Aku suka eksekusinya realistis dan manis (?). Hingga di halaman 413 aku masih merasa kurang tebal. *dilempar bola salju sama kak Alicia* ⛄

Buku ini nyaris gak ada yang bikin aku gak puas, kecuali typo di halaman 189, 411 dan 413. Yang bikin terganggu terkait timelinenya, di halaman 19 disebutkan Akari ketemu Sensei 7 tahun lalu. Sensei pergi setahun kemudian. Di blurb disebutkan Sensei menghilang 5 tahun lalu, padahal ada jeda sekitar 7-8 tahun sampai Kyouhei, Ryuji dan Misaki mencapai impian masing-masing. Tinggal disinkronkan aja sih. Entah ditulis tahunnya di awal bab atau gimana gitu biar pembaca gak bingung.

Yang jelas aku penasaran dengan buku kak Alicia yang lain.

Rating usia: 15+
Rating: 4,8/5🌟

Peta Jepang