Perpustakaan Digital: Masa Depan Pembaca Generasi Z? (2)


Konnichiwa Minna-san!
Melanjutkan postingan sebelumnya, kali ini aku ingin membahas 2 hal terkait Perpustakaan Digital:

  1. E-book sebagai Solusi Keterbatasan Ruang penyimpanan
  2. Sasaran Pembaca Remaja (Generasi Z)

Sebagai pembaca generasi Milenial, aku mengalami krisis ruangan. Buku fisik memakan ruang penyimpanan yang cukup banyak. Aku pernah punya 7 rak buku dengan kapasitas 700an buku. Lalu, ketika akan pindah kos, aku membutuhkan banyak kardus untuk memuat koleksi buku. Sangat menguras energi untuk packing, angkut-angkut dan unpacking. Capek banget. T.T

Kenapa aku beralih ke ebook?

  1. Buku yang sudah aku baca tidak akan dibaca ulang
  2. Keterbatasan budget beli buku karena harga buku makin mahal
  3. Keterbatasan ruang penyimpanan
  4. Ketersediaan buku di toko online maupun offline, kadang buku yang aku cari sudah langka atau tidak tersedia di Indonesia (harus beli di luar negeri)

Lalu, apakah aku akan berhenti mengoleksi buku fisik?


Tahun 2017 aku mulai mengurangi koleksi buku fisik secara bertahap. Dari 700an buku hingga sekarang tinggal sekitar 300an buku (2 rak buku saja dan 2 box kontainer plastik). Apakah aku tidak beli buku sama sekali? Woiya jelas tidak mungkin. Haha. Tahun 2018-2020 adalah tahun dimana obral buku sepanjang tahun. Belum lagi pre-order buku baru dengan bonus merchandise menarik.

Sejak 2018 aku berlangganan Gramedia Digital dan kadang membeli buku versi digital di Google Playbook. Kalian juga bisa pinjam buku di iPusnas dan iJakarta, serta sewa buku di Lontara App. Baru-baru ini Mizan Publika juga merilis aplikasi rakata dengan sistem mirip google playbook, namun dilengkapi dengan fasilitas tulis online dan forum diskusi.

Aplikasi baca ebook legal

Tahun 2018-2020 aku tetap membeli buku fisik, tapi memang setelah membaca bukunya, dan kira-kira tidak dibaca ulang, bukunya aku jual lagi atau aku jadikan hadiah giveaway. Buku kerjasama review juga, jika kira-kira tidak akan aku koleksi ya aku jadikan hadiah. Toh setelah aku posting reviewnya berarti sudah lunas. Ada yang menjual buku kerjasama ya itu haknya. Tidak ada buku gratis, yang ada hasil barter jasa review. Ah, aku gak akan bahas tentang paid promote review di sini. Karena faktanya masih jaarrraaaaaang banget. Haha. (ngeteh lagi)

Jadi, buku yang aku simpan hanyalah buku yang mungkin akan aku baca ulang, buku favorite atau koleksi berbagai edisi. Iya, 3 ini aja yang aku simpan. Kategori lainnya akan masuk daftar sementara yang akan dilepas pada waktunya. Rata-rata masa simpan buku hanya 3-6 bulan, atau paling lama 1-2 tahun. Jika selama itu buku itu tidak bergerak alias kandidat timbunan abadi, biasanya akan aku lepas, terutama yang ada versi e-booknya. Kenapa? Karena minat kita selalu berubah. Waktu terbaik untuk membaca buku adalah ketika awal melihatnya (ciyee), sementara waktu kita terbatas, sayang. Pilihlah buku yang kira-kira akan dibaca saja.

Mungkin, bagi pembaca yang punya rumah besar tidak akan relevan dengan kondisi ini. Mungkin tidak pernah terpikir tentang berapa biaya ruang penyimpanan dan tidak tau betapa koleksi buku dan barang-barang akan menjadi beban. Aku bisa bilang begini karena akhir tahun 2018 aku pindah kosan dan mengalami yang namanya bayar kos dobel karena sewa 2 kamar. Aku serius. 2013-2018 aku tinggal di kontrakan, sehingga tidak pernah memikirkan tentang ruangan penuh karena selalu ada space menambah barang. Ketika tahun 2018 pindah kos yang ruangannya lebih kecil, terlihat semua barang menjadi banyaaaaaak. Setelah itu aku kapok dan hanya membatasi buku hanya boleh 2-3 rak saja.

Pernah di suatu forum diskusi yang diadakan oleh salah satu aplikasi menulis online, bahwa remaja sekarang sangat dekat dengan gadget. Sangat jarang ditemui remaja SMP/SMA memegang buku di tempat publik. Pemandangan orang membaca di transportasi umum juga sangat langka. Bisa jadi karena memang membaca bukan menjadi trend di generasi Z. Entahlah aku belum pernah bikin penelitian tentang ini.

Jadi, sebenarnya alasan menjamurnya aplikasi baca online tidak terbatas menjawab kondisi penimbun alias tsundoku macam aku, tapi semata ingin memperluas sasaran pembaca. Ya daripada hape isinya aplikasi game dan marketplace online doang, mending ada aplikasi baca online juga gitu lho!

Sebagai penutup, kedepan kalo semua buku ada versi ebooknya bisa dibayangkan bahwa toko buku offline dan perpustakaan akan banyak yang tutup atau beralih fungsi. Satu sisi akan menguntungkan penerbit karena tidak perlu mengeluarkan biaya cetak. Atau menerapkan sistem pre-order dan print on demand. Selebihnya, hanya waktu yang bisa menjawab. 😀

Perpustakaan Digital: Masa Depan Generasi Z?


Ada yang tau kapan pertama kali ada kertas? Lalu buku apa yang pertama kali diterbitkan?

Sebagai Generasi 90-an, tentu munculnya minat baca di masa kecil tidak lepas dari Tabloid Nova milik ibu, Buletin Khotbah Jum’at ayah, Majalah Bobo dan buku-buku terbitan Balai Pustaka di Perpustakaan SMP. Orang tuaku bukan tipe yang beli buku tiap bulan, tapi buku-buku menarik dan terkait bidang mereka tentu saja ada lengkap di rak buku.

Genre bacaanku di masa SMA terus berkembang karena koleksi perpustakaan sekolah beragam. Selain itu, keterlibatanku di acara Rohani Islam menjadi jembatan kenal dengan mahasiswa dan kesempatan meminjam buku semakin besar.

Memang, pada tahun 2000-an, pengertian perpustakaan terbatas pada koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, berupa ruangan penuh rak buku dengan koleksi beragam genre. Namun, pada akhirnya perpustakaan pribadi pun makin banyak dijumpai karena keterjangkauan harga buku bagi sebagian orang dan akses ke toko buku yang cukup mudah.

Namun, pada faktanya, ketersebaran buku di Indonesia bisa dibilang tidak merata. Toko buku hanya bisa dijumpai di kota-kota besar. Bahkan di pulau jawa sendiri, masih ada daerah yang belum ada toko buku maupun perpustakaan daerah. Lalu, bagimana cara meningkatkan minat baca masyarakat?

Perkembangan teknologi masa kini memungkinkan buku dapat dibaca di Handphone berbasis android dan IoS. Format buku fisik pelan-pelan mulai beralih ke format digital, yang kita kenal dengan istilah portable Document Format (pdf) maupun elektronic publication (epub). Perkembangan ini tentu saja bertujuan untuk mempermudah akses buku kepada pembaca. Tapi, sayang sekali masih ada penyalahgunaan yang terjadi di kalangan pembaca; file pdf disebarluaskan secara ilegal menjadi buku bajakan. Aku gak paham logikanya deh.

Di Indonesia sendiri, aplikasi baca online mulai menjamur. Awalnya dari blog atau website pribadi yang kemudian diterbitkan dalam bentuk cetak, mulai dari multiply, blogspot, wordpress, tumblr, hingga kemudian ada aplikasi menulis online beralih ke wattpad, storial, cabaca yang memungkinkan munculnya penulis baru. Aplikasi baca Google Playbook, Scribd, Kindle Amazon, Scoop (yang ganti nama menjadi Gramedia Digital), ibuk, serta Lontara, dan gak ketinggalan Perpustakaan Nasional membuat aplikasi iPusnas dan Perpustakaan Jakarta membuat aplikasi iJak. Aplikasi terbaru yaitu Rakata yang diluncurkan oleh Mizan, menawarkan konsep one stop aplication untuk membaca, menulis dan berinteraksi.

Perbandingan aplikasi baca digital di Indonesia


Semakin banyak aplikasi baca digital semoga menjadi pilihan yang bisa disesuaikan kebutuhan dan budget. Ada yang lebih suka baca gratis, ada yang lebih suka beli, ada yang gak suka ribet langganan aja sekalian, dll. Variasi koleksi bukunya juga beragam. Tinggal disesuaikan saja. Aku pribadi melihat ini sebagai titik terang bagi keterbatasan ruang penyimpanan (rak buku) dan keterbatasan budget. Mengingat harga buku makin mahal, beralih ke buku digital merupakan pilihan yang bisa dipertimbangkan. Ingat ya, baca ebook di aplikasi legal, jangan beli ebook pdf di market place, itu ilegal!