Review Buku Berbayar, Why Not?

Leave a comment

November 4, 2020 by yonea


Konnichiwa, Minna-san!

Kali ini aku mau membahas tentang kerjasama review buku. Ini termasuk isu yang selalu ramai dibahas di kalangan #Bookstagram, tapi tampaknya belum ada titik terang. Istilahnya masih belum ada masa depan cerah.

Mari kita samakan persepsi bahwa bookreviewer disini bukan dalam kapasitas sebagai ahli bahasa, kritikus atau apa karena tidak banyak bookstagram yang memiliki background keilmuan sastra. Review buku di sini adalah pandangan pribadi, yang kita bagikan karena mendapatkan pengalaman membaca suatu buku yang mana hal ini subjektif dan tergantung selera masing-masing. Bisa di awal baca, ketika membaca dan selesai membacanya.

Oke, balik dulu ke jaman awal aku jadi bookstagram, sekitar September 2017. Aku tau bahwa komunitas ini ada untuk menunjukkan bahwa sebagian pengguna instagram ada yang suka buku dan aktivitas membaca. Hal ini bisa dilihat dari postingan di instagramnya berupa foto buku aesthetic, maupun caption yang sangat menarik sehingga pembacanya merasa mendapat rekomendasi bacaan. Ada 3 macam review, positif (endorsement), negatif (rant review) dan review berimbang (plus-minus).

Tujuan review atau resensi buku tentu saja sebagai pertimbangan pembaca lain dalam hal memilih bacaan. Ada aplikasi goodreads.com untuk melihat rating buku secara umum. Tidak dipungkiri bahwa sebagian followers akan tertarik membaca bahkan membeli buku yang diposting reviewnya oleh bookstagram. Istilahnya saling menebar ratjun berantai.

Awal menjadi bookstagram, aku mendapat info kalau ada peluang dapat buku gratis melalui giveaway buku atau looking for bookstagram yang diadakan oleh penulis, penerbit maupun akun bookstagram lain. Wah, tentu saja ini adalah angin segar buat aku yang sudah belasan tahun mengoleksi buku dari kantong sendiri. Kan lumayan ya budget beli buku buat beli yang lain. Begitulah kira-kira yang kupikirkan dulu.

Tahun 2018, aku mulai mendaftar beberapa kali dalam event pencarian bookstagram ini. Paling tidak terpilih 1-2x per bulan. Sistem pencarian bookstagram adalah, kamu mendapat buku gratis dari penulis/penerbit. Lalu akan dijadwal untuk posting selama 5 hari secara bergantian. Bayangkan, review 1 buku dibagi menjadi 5 kali postingan. Kamu harus menyiapkan waktu untuk membaca supaya selesai sebelum jadwal tayang, mengalokasikan waktu untuk mendapatkan 5 foto yang berbeda supaya tidak bosan dan juga mengetik caption review. Luar biasa kan?

Apakah ada bayarannya? Oh, tentu tidak. Paling bagus ada like dan komen ucapan terima kasih dari penulis/penerbit atau bahkan review direpost di feed atau story. Tapi kadang ada juga yang bahkan tanda like pun tak ada. Haha. Seiring waktu aku mulai selektif dan kemudian fokus memperbaiki konten. Tujuan awal aku bergabung bookstagram adalah upgrade fotografi. Jadi ya, kerjasama review buku bukan prioritasku.

Lalu, melihat trend makin banyak postingan buku di instagram dan munculnya para #bookstagrammer, tampaknya penulis dan penerbit memanfaatkan ini sebagai peluang promosi . Tidak sedikit yang kemudian diajak kerjasama untuk promosi buku yang akan terbit. Harapannya, postingan bookstagram bisa meningkatkan target penjualan atau paling tidak memperluas ruang lingkup informasi terkait buku tersebut. Masa promosi sekitar 3-6 bulan. Setelah itu, buku dianggap sudah lewat masa promosi dan bisa jadi ditarik dari toko buku.

Lalu, aku mendengar bahwa di luar negeri konten review buku itu berbayar. Lalu, kupikir benar juga ya. food blogger dan beauty blogger kan dapat produknya untuk dicoba dan mereka mendapat bayaran juga. Kenapa book blogger, bookstagram dan booktuber tidak? Di sini buku sama dengan produk bukan? Tapi tidak sedikit juga penulis dan penerbit yang merasa sudah menggratiskan bukunya, masa harus membayar juga? Feedback ke mereka apa?

Aku melihat di sini iklimnya masih saling menuntut berupa angka.

Oke, aku mau sharing tentang dibalik layar sebuah konten review buku bisa muncul:

  1. Buku diterima pembaca (entah dengan membelinya di toko buku maupun mendapat buku dari penulis/penerbit.
  2. Membaca buku. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca buku 300 halaman, rata-rata 2-3 jam. Ya kalo cocok. Kalo ada banyak keluhan semacam salah ketik, gak cocok writting style-nya, gak suka tokohnya, ceritanya gak masuk akal, dll, mungkin seminggu bahkan tidak selesai.
  3. Menyiapkan foto. Bisa dilihat macam-macam gaya foto, ada yang minimalis (minim properti), ada juga yang maksimalis (full props). Indoor maupun outdoor ada effortnya masing-masing.
  4. Mengedit foto. Aplikasi yang umum digunakan yaitu Snapseed, Lightroom, VSCO, Picsart, dll. Hanya supaya hasil foto lebih menarik dan eye catching kadang membutuhkan waktu berjam-jam.
  5. Mengetik caption. Ini yang susah sebenarnya, karena pengalaman membaca setiap orang berbeda tidak mungkin copy-paste review orang kan? belum lagi supaya engagement tinggi, harus mencari kalimat yang interaktif. Kalo cuma caption datar ya biasanya cuma di-skip aja.
  6. Memposting. Ini juga butuh effort. Baik posting di IG feed maupun di IG Story, kita harus membalas komentar dan juga butuh kuota internet.

Setelah melakukan poin 1-6 apakah cukup dengan dikasih buku gratis tanpa kompensasi? Padahal jika si Pembaca tidak mendapat buku tersebut dari penulis/penerbit, dia bebas untuk membaca buku yang sesuai minatnya dan juga tidak perlu kejar tayang sesuai jadwal posting.

Antrian baca yang tertunda

“Aku khawatir, kesenangan pada buku dan aktivitas membaca berubah menjadi suatu hal yang dibenci nantinya karena dilakukan dengan terpaksa.”

(kak Oni, 2020)

Mari melihat kegiatan review buku ini sebagai salah satu bentuk jasa. Jasa foto setauku ada tarifnya sendiri. Resensi buku yang dimuat di koran pun ada kompensasinya sendiri. Bookstagram ini terlalu baik menurutku. Sudah tidak dapat bayaran, masih mau dikasih tugas macam-macam juga.

Bentuk kompensasi yang bisa diberikan penulis/penerbit:

  1. Fee berupa uang/pulsa/e-money
  2. Buku bonus, misalnya 1 buku untuk direview, 1 buku hadiah tanpa keharusan review
  3. Voucher diskon belanja buku
  4. Merchandise

Dan yang paling penting adalah saling menghargai supaya tetap bisa bekerjasama nantinya. 😁

Oke, segitu dulu bahasan hari ini. Bisa sharing pengalaman kalian di kolom komentar atau via DM ke Instagram @y0nea. Have a nice day~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 17,278 hits

Goodreads

Instagram

Daily Story

November 2020
S M T W T F S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 765 other followers

%d bloggers like this: