Blessing in 2020

2

October 19, 2020 by yonea

Hello, there!

Since my therapy would be finished in 4 days, aku mau cerita dari awal tentang proses terapinya. Aku yakin buat yang gak follow instagramku banyak yang gak tau kalo 6 bulan terakhir aku sakit.

Awalnya aku mulai ngerasa kurang fit sejak akhir 2019. Oktober-November itu emang lagi hectic persiapan akreditasi RS sih. Belum lagi kosan yang kurang kondusif. Secara fisik kosan agak lembab, ukuran kamar 3×3 m dan minim cahaya, jendela menghadap ke dalam dan ventilasi sempit. Belum lagi KM bersama, fasilitas cuci di luar dan bapak-ibu kos suka batuk gitu. Mereka ada riwayat penyakit jantung sih setauku. Temen kosan ada yang masih SMP dan berkebutuhan khusus gitu, jadi suka teriak-teriak, nyanyi sendiri dan ya lumayan ganggu anak-anak kosan. Jadi aku seringnya pulang kerja main dulu, ngemall, ke toko buku, makan di luar, dan baru pulang sekitar jam 8-9 gitu, pas adeknya udah tidur. Terus abis itu begadang. Gak nyaman banget sih sebenernya. Tapi waktu itu aku males pindahan karena barang banyak dan belum nemu kosan yang oke.

Akhir 2019, aku ketemu temen di seminar dan mbaknya nanyain kosku di mana. Kebetulan dia abis bikin kosan 2 lantai, 21 kamar gitu. Kubilang liat dulu deh. Kondisi kos punya mbaknya lebih luas, ukuran kamar 3×4 m, KM dalam, jendela gede menghadap timur. Secara pencahayaan dan sirkulasi udara baik. Tapi harganya 2x lipat kosku sebelumnya. Kupikir-pikir gak papa lah yang penting nyaman. Toh bisa mengurangi budget belanja buku. Lagian udah setahun kos di sana kan. Udah saatnya cari suasana baru.

Maka, akhir tahun aku habiskan untuk packing buat pindahan. Akhir januari aku pindah ke kosan baru. Aku juga rutin ikut senam setiap rabu sore dan jumat pagi di RS. Tapi yang bikin heran, bukannya tambah fit, aku malah tambah capek. Suka demam di pagi dan malam hari juga. Kupikir kecapekan aja kan. Minum paracetamol adalah jalan ninjaku.

Singkat cerita, akhir April aku demam, pusing, maag kambuh beberapa hari, lalu aku periksa ke poli umum, dikasih obat, belum sembuh juga, periksa lagi sampai 5x dalam 3 minggu. Kupikir gejala tipes, tapi hasil lab negatif thypoid. Akhirnya karena sudah demam 3 minggu, dokter jaga menyarankan untuk rontgen thorax, supaya tau kondisi paru. Apalagi masa pandemi ini gejala-gejala covid-19 terus direvisi.

Hasil rontgen menunjukkan bahwa ada efusi pleura dextral, atau cairan paru berlebih di rongga dada sebelah kanan. Abis itu langsung diambil darah untuk rapid test covid-19. Alhamdulillah negatif sih. Aku disuruh periksa dokter paru besoknya.

Nah, hasil pemeriksaan jum’at sore itu ternyata sampai di bagian K3RS dan sabtu pagi aku ditelpon untuk persiapan tindakan WSD (Water Seal Drainage). Maka aku langsung packing untuk rawat inap di RS. Tindakan WSD dilakukan di ruang isolasi UGD. Cukup tercengang karena terkumpul cairan hampir 1 liter. Sebagian cairan dibawa ke lab untuk cek patologi klinis, ada kemungkinan sel kanker atau apa. Yang kurasakan saat itu tentu saja shock berat. Dan lebih shock pas didiagnosa TB Ekstra paru pleuritis. Aku mendapatkan prednison 5 mg tappering off dari 3×3 tab sampai 1×1 tab selama 25 hari untuk mencegah infeksi lebih lanjut di membran pleura serta Obat Anti Tuberkulosa Fixed Dose Combination (OAT FDC) mulai 11 Mei 2020.

Aku rawat inap selama 2 malam di ruang isolasi TB (terpisah dari ruang isolasi covid-19) menggunakan fasilitas BPJS. Semua administrasi diurus bagian admisi RS, aku hanya mengumpul kartu BPJS dan KTP. Semua dipermudah sih ya. Aku hanya memberi tahu adek, dan belum memberitahu orang tua karena situasi pandemi tidak memungkinkan perjalanan Palembang-Jogja. Teman-teman farmasi dan teman-teman terdekat di Jogja. Bahkan teman kos tidak kuberitahu karena kebanyakan mahasiswa baru dari Papua-sulawesi dan belum terlalu kenal. Yang lainnya udah mudik karena kampus libur.

Setelah pulang dari RS, aku mendapat ijin 2 minggu sampai lebaran. Kalau kondisinya aku tidak sakit dan tidak ada pandemi, mungkin aku sudah mudik. Tapi ya mungkin ini saatnya untuk pemulihan dulu. Berbeda dengan TB Paru yang menular melalui udara yaitu dari droplet atau percikan dahak saat penderita batuk, bersin atau berbicara, TB ekstra paru tidak menular, kecuali jika mengalami komplikasi dengan TB paru juga.

Yang jelas dua minggu pertama itu sangat berat karena efek samping prednison dan OAT. Seharian aku hanya bisa rebahan karena pusing dan mual. Makan seringnya gofood. Gak kuat puasa. Aku puasa selang-seling biar gak banyak banget bolongnya. Pokoknya pengalaman ramadan tahun ini paling menyedihkan.

H-2 lebaran aku masak oseng sawi dan ebi. Eh, pas H-1 lebaran abis sahur malah mual-muntah pusing. Yaudah gak jadi puasa lah. Sekujur tubuh merah karena alergi. Sholat ied di kosan, lalu aku ke rumah mbah dan periksa ke UGD. Dikasih obat alergi dan aku beli caladine lotion. Hampir seminggu baru sembuh. Abis itu kapok lah beli makanan kering di warung.

Jadwal Minum Obat Anti Tuberkulosa (OAT)

Sebulan pertama terapi adalah perjuangan. Aku mencegah efek samping mual dengan minum lansoprazol dan vitamin B compleks. Kalo udah gak kuat banget dengan pusingnya aku minum pamol juga. Rasanya pengen nyerah aja. Gak jarang pagi-pagi nangis sambil minum OAT. Tapi ya namanya musibah kan kita gak bisa pilih-pilih, terserah Allah dong mau ngasih ujian apa.

Aku juga konsultasi dengan temanku yang ahli gizi terkait asupan makanan. Aku harus diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP). Praktis dalam 6 bulan terakhir pengeluaran terkait makanan melonjak drastis. Mei-Juni bisa dibilang puasa beli buku karena emang gak sempat baca. Timbunan banyak, manalah kepikir beli buku baru. Tapi pas udah new normal bulan Juli, akhirnya kalap di gramed sale sampe 20an buku, Agustus BBB, September beli 10 di togamas dan preloved teman dan ngabisin hasil unhaul buku di BBW oktober.

Yah, paling tidak sudah berakhir. Semoga kedepannya aktivitas tidak akan terkendala fisik lagi. Jujur saja mual muntah pusing dan urin berwarna orens kemerahan tiap senin, rabu, jum’at empat bulan terakhir bikin gak konsen kerjanya. Konten di instagram juga makin random karena kalo aku cuma fokus bikin konten buku gak bakal kekejar. Speed baca bubar jalan. Baru baca dikit pusing, buku sedih dikit bikin mood anjlok. Ternyata memang acceptance adalah koentji biar gak depresi.

Kemarin ibuku nelpon dan bilang, “padahal kerja di rumah sakit tapi malah gak jaga kesehatan. Kalo sakit kan tanggung sendiri”. Tentu saja kubantah karena mau sehat kayak apapun gaya hidup seseorang kalo emang takdirnya sakit ya sakit aja. Apalagi kasusku kan infeksi bakteri ya. Beberapa waktu lalu teman seangkatanku meninggal karena serangan jantung, umurnya baru 31 atau 32 tahun, pas seniorku bilang, “masih muda koq jantungan”, ya kubilang bahwa ajal gak liat umur.

Nah kan jadi sedih. Intinya yang mau kubilang di postingan ini bahwa jangan sia-siakan kesehatan kalian. Kalo ada gejala-gejala ringan jangan diabaikan. Pusing, demam, batuk, flu, dll itu alarm biar kita istirahat. Segera periksa ke dokter sebelum terlambat.

Enam bulan ini aku belajar tentang don’t force yourself. Aku merasa membaca itu privilege makanya aku gak peduli dengan tawaran kerjasama review yang makin berkurang, bahkan kalo ada pun tidak jarang kutolak. Aku bodo amat dengan tuntutan bookstagram harus posting konten buku terus. Karena ya mana mungkin aku bisa bikin konten buku dengan kondisiku yang harus banyak istirahat?

Kenapa aku gak hiatus sekalian? Jujur saja aku mendapat banyak hiburan dari teman-teman di instagram. Aku gak tau gimana caranya bisa melewati 6 bulan ini jika tidak aktif di bookstagram. Dan hei, justru dengan sibuk aku semacam lupa bahwa sebenarnya aku lagi sakit. Thank you for all supports. Baik langsung maupun gak langsung. Kadang nemu meme di IG story aja udah seneng aku tu.

Wow, ternyata udah hampir tiga halaman dan udah lewat seribu kata. Haha. Pokoknya buat yang udah menyempatkan baca terimakasih banyak. Aku harap kalian semua sehat lahir batin ya. Tetap support orang-orang sekitar kalian. Jangan bookshaming, jangan nyinyir sama penimbun buku, karena kebahagiaan orang beda-beda. Tiap orang punya capaian masing-masing dan jangan mengukur seseorang dari kacamata kita. Tetap berpikir positif. Have a nice Monday!

2 thoughts on “Blessing in 2020

  1. Ma'rifah says:

    Semangat ya kak, sedihnya dikit aja jangan banyak2.. sehat terus yaa 💙💙

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 17,278 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

October 2020
S M T W T F S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 765 other followers

%d bloggers like this: