Sekelumit Kisah di Ende

Leave a comment

December 29, 2013 by yonea

RESENSI

Da Conspiracao

 Judul buku    : Da Conspiracao; Sebuah Konspirasi

Penulis         : Afifah Afra

ISBN            : 978-602-8277-66-2

Penerbit       : Afra Publishing, Indiva Media Kreasi

Ketebalan     : 632 hlm, 20 cm

Harga buku   : Rp 65.000

 

Raden Mas Rangga Puruhita, pemuda terpelajar, sarjana ekonomi lulusan Leiden, ningrat Jawa, dan visioner. Ia dibuang ke Flores karena terlibat dalam gerakan melawan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Tan Sun Nio, gadis yang jelita, cerdas, ambisius, dan terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa yang konservatif. Ia membuang diri ke Flores karena dikhianati calon suaminya. Namun, ia justru berhasil membangun sebuah kerajaan niaga terbesar di Indonesia Timur, dan menjadi orang terkaya di Flores.

Adapun Flores yang mereka datangi, sama-sama medan yang penuh bara. Awal abad XX, pulau itu baru beralih kekuasaan dari Portugis ke Belanda. Kondisi belum stabil. Bajak laut dan perampok merajalela. Pemberontakan para raja kecil atau mosalaki membuat bumi kian porak poranda.

Suratan nasiblah yang kemudian membuat mereka bertemu. Awalnya saling berhadapan sebagai lawan. Namun, mereka justru didekatkan ketika sama-sama terjebak dalam sebuah konpirasi tingkat tinggi. Konspirasi yang melibatkan sekelompok bajak laut yang dikoordinasi secara rapi menyerupai Mafioso di Sisilia: Bevy da Aguia Leste.

Novel ini adalah salah satu yang saya tunggu-tunggu kapan terbitnya. Bagaimana tidak? Saya membaca De Winstyang terbit pada Januari 2008 tanpa mengira bahwa akan ada lanjutannya. Tiba-tiba muncul De Liefde; Memoar Sekar Prembajoen pada Januari 2010 dengan label “Buku Kedua dari Tetralogi De Winst”. Maka tentu saja terbitnya Da Conspiracao semacam menjawab penasaran selama dua tahun.

Seperti kedua novel sebelumnya, Da Conspiracao menjadi salah satu fiksi sejarah favorit sayaKeseluruhan cerita berisi konflik yang mampu menyita emosi. Namun, karena tebalnya novel ini dan bahasanya yang jauh lebih berat membuat saya tidak mampu menghabiskannya dalam sekali duduk seperti ketika membaca De Winst.

De Winst mengambil latar Surakarta pada tahun 1930, di awali dengan kembalinya Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara dari Amsterdam setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Rijksuniversiteit Leiden . Ketika perjalanan ia bertemu dengan Everdine Kareen Spinoza, seorang advocaat.

Idealisme seorang berdarah biru yang lama tinggal di Belanda itu mulai terbentuk ketika menghadapi sepupu yang dijodohkan dengannya- Raden Rara Sekar Prembayun. Benih-benih nasionalisme dan gerakan pembebasan Indonesia mulai muncul. Ketika Rangga mengambil peran di pabrik gula De Winst dan Partai Rakyat, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan Rangga untuk menjadi internering di Ende. Sebelumnya Rangga menikahi Everdine yang masuk Islam dan mengganti nama menjadi Syahidah, sementara Sekar dikirim ke Universiteit Leiden pada awal Oktober 2013.

De Liefde menceritakan tentang Sekar dan Kareen secara bergantian dengan latar akhir tahun 1931 hingga April 1933 di Belanda dan Hindia Belanda. Rangga tidak muncul sama sekali di De Liefde, hingga membuat pembaca menebak-nebak bagaimana nasib Rangga di pengasingan.

Da Conspiracao menceritakan tentang pengasingan Rangga di Ende. Muncul banyak tokoh baru yang menjadikan Da Conspiracao begitu hidup. Prolog Da Conspiracao menceritakan tentang masa peralihan Portugis ke Belanda pada 1907 di Watunggere. Ketika itu Kapten Christoffel diutus untuk menaklukan Flores. Pasukannya menghadapi langsung mosalaki (raja kecil) Mari Longa. Usai kemenangan Kapten Christoffel, seorang Sersan bernama Johannes Van Persie menghadapnya untuk mengundurkan diri dari barisan sambil membawa seorang bayi perempuan yang ditemukannya diantara para korban perang.

Lalu, novel diawali dengan kisah tentang Tan Sun Nio dengan latar Surakarta pada akhir tahun 1924. Tan Sun Nio bertekad membuang diri ke Ende setelah patah hati karena Daniel Liem tak datang melamarnya pada malam puncak perayaan cap go meh. Akhir Agustus 1925 ia menyusul kakaknya, Tan Seng Hun yang sudah berada di sana sejak Ende resmi berada di bawah kekuasaaan pemerintah Hindia Belanda tahun 1915. Dari penjelasan penulis, diketahui bahwa Tan Sun Nio merupakan kakak kelas Sekar Prembayun di HBS .

Akhir tahun 1925, Tan Seng Hun meninggal karena menjadi korban pemberontakan Mari Nusa, pemimping gerakan pemuda di pedalaman Flores. Mau tak mau Tan Sun Nio harus mengambil alih bisnis kakaknya itu. Dalam masa transisi tersebut, Tan Sun Nio didampingi oleh Ramos Fernandez, indo Portugis kepercayaan Tan Seng Hun di Toko Pek Liong.

April 1926, Tan Sun Nio sudah cukup mampu memegang kendali atas bisnis kakaknya yang terdiri atas toko-toko, perdagangan kopra, sewa-sewa perahu untuk para pelayan serta sebuah maskapai ilegal candu. Ia  juga harus berhadapan dengan Djanggo da Silva, pimpinan Bevy de Aguia Leste (Perkumpulan Elang Timur), sekelompok bajak laut terkuat di perairan Sumba, Flores dan Timor serta Laut Banda dan Selat Makassar.

Tahun 1932, dalam perjalanan menuju Ende, Rangga bertemu dengan Hans Van Persie, mahasiswa Leiden yang mengambil jurusan geologi dan meneliti fenomena warna air di Danau Kelimutu. Sejak dari Waigapu, Rangga dikawal oleh Herman Zondag, bintara KNIL.

Walau perjalanan ke Ende dalam situasi begitu berbeda dengan perjalanan pulang dari Amsterdam, Rangga tak meninggalkan sholat wajib. Saya menangkap pesan tentang kemudahan beribadah dalam perjalanan jika tidak memungkinkan untuk berwudhu, maka bisa dengan tayamum.

Ketika baru tiba di Ende, Rangga banyak berinteraksi dengan Hans Van Persie. Di lingkungan tempat tinggalnya, Rangga bertemu Ine Nurkasih, Maria Dewi Van Persie dan Johannes “Bob” Van Persie. Karakter Maria mengingatkan Rangga pada sosok Sekar.

Da Conspiracao menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai Rangga dan Tan Sun Nio secara bergantian, namun di tengah lebih banyak porsi tentang Rangga. Secara bertubi-tubi berbagai peristiwa yang dialami Tan Sun Nio dan Rangga melibatkan banyak tokoh baru yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam sebuah konspirasi besar. Hingga sampai novel ini berakhir, saya masih banyak bertanya-tanya, akan seperti apa akhirnya?

Jika di De Winst dan De Liefde saya banyak menemukan istilah bahasa Belanda, di Da Conspiracao ini banyak istilah Portugis dan bahasa Ende. Jika di dua novel sebelumnya istilah-istilah asing dijelaskan pada footnote di halaman yang sama, istilah-istilah di Da Conspiracao dijelaskan di halaman belakang. Sehingga pembaca harus berkali-kali membolak-balik novel. Tidak hanya istilah asing, berkali-kali pula saya harus membuka aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia di laptop karena menemukan kosakata “baru”.

Kekurangan novel ini adalah banyak penggunaan kapital yang tidak seragam, terutama pada nama tokoh. Misalnya pada halaman 123 ditulis Djanggo Da Silva, sementara pada halaman 124 ditulis Djanggo da Silva. Alur maju-mundur yang banyak diwarnai dengan deskripsi mengenai kejadian-kejadian di masa lalu, seperti ingatan Rangga tentang cerita Ramanya, atau kondisi di belahan bumi lain, menurut saya cukup membuat bias dan agak keluar dari sub tema bab. Penulis cepat mengganti bahasan sehingga paragraf panjang di halaman sebelumnya berhenti sebatas informasi tambahan untuk pembaca.

Selain banyak menjabarkan tentang pemberontakan pribumi terhadap Pemerintah Hindia Belanda, novel ini juga menyisipkan pergolakan batin Tan Sun Nio tentang berbagai agama serta toleransi antar umat beragama melalui sikap Rangga. Selain mengangkat tema agama, keberagaman budaya pun cukup mendominasi. Selain Jawa dan Belanda, kultur Portugis, Tionghoa dan Flores membuat novel ini begitu kaya informasi. Pastinya penulis melakukan riset yang panjang dan lama.

Hal yang menarik adalah ketika dialog Maria dengan Rangga tentang wudhu. Tak jarang ketertarikan orang kepada Islam terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, adegan Rangga yang tetap hafal beberapa ayat Surat Al-Baqarah walaupun ia amnesia mengingatkan saya pada tokoh Maria di Ayat-Ayat Cinta yang melantunkan hafalan Surat Maryam dan Thaha ketika ia sakit.

Membaca Da Conspiracao, seperti membaca kompilasi karya Afifah Afra sebelumnya yang berlatar sejarah, budaya dan sindikat mafia, sebut saja Trilogi Bulan Mati di Javanche Orange, Syahid Samurai dan Peluru di Matamu; Serial Marabunta; Jangan Panggil Aku Josephine dan Katastrofa Cinta. Ada beberapa hal yang mirip dalam segi penokohan, alur dan setting cerita.

Mbak Afra begitu piawai menggabungkan unsur fiksi dan fakta sejarah melalui kisah epik yang begitu rumit. Selain cukup tebal, novel ini cukup berat sehingga dibutuhkan konsentrasi penuh untuk membacanya. Jadi, tidak perlu tergesa-gesa menyelesaikannya. Saya menunggu buku keempat yang pastinya jauh lebih seru dan lebih kompleks. Tokohnya banyak banget sih! 🙂

Salima, 29 Desember 2013, 13:41

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 17,319 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

December 2013
S M T W T F S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 765 other followers

%d bloggers like this: