Flavour Stories [2]

3

December 26, 2013 by loratadine

Oke, lanjut lagi reviewnya… Menurut saya ketiga novel ini ceritanya mirip adegan sinetron. Tapi tentunya ada unsur rasa di setiap cerita πŸ™‚

3. The Strawberry Surprise – Desi Puspitasari

Strawberry Surprise

Prolog novel ini mirip dengan opening scene film. Lalu dilanjutkan dengan kisah Aggi dengan alur maju-mundur. Suatu hari Aggi bertemu dengan Timur, mantan pacarnya, setelah lima tahun tidak berkomunikasi. Pertemuan mereka agak unik karena tanpa janjian seperti lazimnya seorang teman lama yang akan datang ke kota tempatmu tinggal. Ya, Timur bekerja di Bandung, sedangkan Aggi di Jogja.

Setting tempat banyak diambil di Jogja, beberapa di Bandung, dan ada satu di Beijing. Namun, sayangnya keunikan tempat wisata di sana kurang dieksplor, penulis lebih banyak menyajikan dialog antar tokoh. Beberapa kali saya mengerutkan kening karena tidak ada keterangan tempat dan waktu. Sudut pandang orang ketiga yang digunakan penulis dengan lebih banyak menceritakan tentang Aggi, menurut saya agak kurang seimbang. Mungkin akan lebih enak dibaca jika menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis sebagai tokoh Timur. Saya tidak bisa hanyut dalam cerita karena tokoh Aggi maupun Timur kurang ekspresif.

Selain tentang strawberry, novel ini banyak membahas tentang fotografi, musik dan seni, serta kehidupan para eksekutif di akhir pekan. Timur akan tiba di Jogja pada Minggu pagi, dan kembali ke Bandung pada Minggu malam, karena ia bekerja hari Senin sampai Sabtu. Ide cerita begitu dekat dengan keseharian, karena tak sedikit orang yang bekerja di Bandung atau Jakarta namun keluarganya di Jogja.

Satu lagi keunikan novel ini adalah Desi Puspitasari memberikan filosofi pada setiap tokoh lelaki yang pernah hadir dalam kehidupan Aggi; laki-laki selai kacang, laki-laki permen karet stroberi, lelaki stroberi varian flamboyan. Sementara Timur, bukan termasuk stroberi.

4. The Vanilla Heart – Indah Hanaco

Vanilla heart

Dibandingkan novel yang lain, novel ini paling ringan. Bukan karena paling tipis, tapi karena ceritanya cukup β€œstandar” Metropop. Tokoh Hugo Ishmael yang tertarik pada Dominique Vanilla pada pertemuan pertama. Hugo hampir saja menabrak teman Dominique karena ia baru saja diputuskan sepihak oleh tunangannya, Farah.

Setelah kejadian itu, Hugo pergi ke Bristol. Disana ia bertemu Garvin yang mengenalkannya dengan filosofi vanilla. Hugo kembali ke Indonesia dan kembali bertemu dengan Dominique yang bekerja di perusahaan keluarganya. Yah, membaca novel ini seperti menonton adegan-adengan sinetron indonesia.

Cukup banyak konflik personal Dominique dan Hugo yang disajikan dengan sudut pandang orang ketiga. Porsi masing-masing tokoh cukup seimbang. Namun, tokoh yang terlalu banyak sempat membuat bias alur cerita. Endingnya pun cenderung dipaksakan dan penyajiannya agak mirip dengan novel terjemahan.

5. The Mocha Eyes – Aida M.A.

Mocha Eyes

Novel ini saya rekomendasikan untuk para psikolog karena bisa menjadi referensi trauma healing. Aida M. A. mengangkat tentang pelecehan perempuan yang sudah tidak asing lagi di Indonesia.

Muara yang ceria mengalami sebuah trauma di masa kuliah yang cukup membekas. Ia memutuskan berhenti dari kuliahnya dan menarik diri hingga tiga tahun. Selama tiga tahun tersebut ia menjadi pribadi yang berbeda. Ayahnya meninggal karena shock ketika mengetahui musibah yang dialami Muara. Hanya ibunya yang tak kenal lelah mendampingi prosesnya untuk kembali normal.

Suatu hari, restoran cepat saji tempat Muara bekerja mengadakan training di Puncak. Di sana Muara bertemu Fariz, seorang trainer. Dengan sekali lihat, Fariz tau ada yang tidak beres dengan Muara. Sejak itu Fariz mendekati Muara untuk mengetahui masalahnya.

Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai Muara, sehingga pembaca dapat merasakan emosi Muara yang labil. Sedangkan ketika menceritakan sisi Fariz, penulis menjadi orang ketiga.

Novel ini begitu ringan menyajikan sebuah konflik yang cukup berat. Bagaimana seorang Muara yang kehilangan arah selama bertahun-tahun akhirnya memiliki motivasi, serta peran orang-orang sekitarnya dalam proses penyembuhannya.

Sayangnya belum baca The Chocolate Chance – Yoana Dianika, semoga lain kali bisa direview πŸ™‚

3 thoughts on “Flavour Stories [2]

  1. mbaaak~ dhita tunggu review yang ” The Chocolate Chance ” yaaa πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 16,862 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

December 2013
S M T W T F S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 737 other followers

%d bloggers like this: