Flavour Stories [1]

Leave a comment

December 26, 2013 by yonea

Bentang Love Flavour Series

Bentang Love Flavour Series

Novel Seri dari Bentang Pustaka yang satu ini unik. Tema yang diangkat adalah tentang “rasa” yang menjadi variasi makanan atau minuman. Ada 6 rasa yang menjadi bahasan novel tersebut. Proyek Love Flavour ini melibatkan 6 orang penulis wanita yang tak asing lagi di dunia kepenulisan. Dari 6 saya sudah selesai membaca 4 dan sedang membaca 1. Ini sedikit pendapat saya:

1. The Coffee Memory – Riawani Elyta

Coffee Memory

Buku ini tentang Dania, pemilik Cafe kopi Katjoe Manis. Bagian pembuka menggambarkan bagaimana kalutnya Dania ketika suaminya, Andro meninggal karena kecelakaan. Tapi karena Katjoe Manis harus tetap berjalan, ia merekrut barista bernama Barry.

Masalah tidak selesai di sana tentunya. Muncul Bookafeholic, kafe saingan milik Pram, teman masa remaja Dania. Belum lagi ada insiden kebakaran ketika Sultan, anak semata wayang Dania, sedang opname karena sakit DB.

Membaca buku ini akan menyadari bahwa banyak orang yang peduli pada kita. Ketulusan mereka akan terlihat di waktu sempit.

Ah, ya. Setting cerita di Batam. Dan muncul BreadTime, milik dua orang sepupu. Tentu mengingatkan saya dengan Tarapuccino- novel Riawani Elyta yang digarap bersama Rika Y. Sari. Hingga saya menyimpulkan bahwa Katjoe Manis dan BreadTime adalah tetangga. Ada beberapa bagian pada kedua novel ini yang serupa tapi tak sama. But, I really enjoyed both of them.

2. The Mint Heart – Ayu Widya

Mint Heart

Cerita dimulai ketika Patricia -editor in-chief- mencetuskan ide “Wherever You Want” sebagai bentuk perayaan ulang tahun ke-30 tahun majalah Travel Lover’s Magz. Ide ini menjadikan Leon dan Lula sebagai pelaksana proyek. Leon adalah sosok Mint ice cream bagi Lula, sedangkan Lula adalah cewek berisik yang mengganggu bagi Leon.

Ceritanya ngalir dan mengundang tawa. Ringan banget. Konflik dimulai ketika Anika -tunangan Leon- muncul ketika mereka di Makassar. Menyusul kemudian Rifo -First Love Lula- yang menjadi model dalam perjalanan mereka di Jogja.

Ayuwidya menggunakan sudut pandang orang pertama dari sudut Leon dan Lula secara bergantian. Ia menggambarkan ekspresi tokoh-tokohnya dengan baik. Menurut saya, sosok Leon nggak dingin-dingin amat si. Mungkin efeknya akan beda kalau novel ini dibagi dua, side-A dari sudut pandang Lula dan side-B dari sudut pandang Leon.

So far, saya suka novel ini walau kurang banyak konfliknya si. Ditengah tren novel dengan latar luar negeri, novel ini semacam #antimainstream karena memilih latar dalam negeri. Untuk orang yang suka novel dengan tema travelling, novel ini recommended.

[bersambung]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 17,278 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

December 2013
S M T W T F S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 765 other followers

%d bloggers like this: