Meruya-Lempuyangan [3]

5

October 12, 2013 by yonea

Part six: Midnight at Senen

Jarum jam di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.

“Sudah ditutup kak pagarnya. Berentinya di sini aja ya.” terdengar suara enggan dari supir taksi. Antara dia sudah lelah dengan dia sudah cukup puas mengerjai kami. Tiba-tiba saja aku tersadar, bahwa mungkin saja dia berbohong tentang Monas yang ditutup.

Bayangkan. Hampir tengah malam, tiga orang akhwat berjalan kaki di depan stasiun. Bowo menunggu kami di dalam. Setelah bertemu Bowo, kami memikirkan cara pulang ke Jogja. Kami menuju lobi. Penuh. Bowo duduk di lobi, sedangkan aku, Imah dan Yani menuju mushola kecil di dekat lobi.

Sungguh, aku lelah lahir batin. Beberapa hari ini aku kurang tidur. Ternyata rencana Jogja-Jakarta-Demak berakhir tragis begini. Kalo aku sendirian yang mengalami ini aku tidak ambil pusing. Aku bisa balik lagi ke rumah Rika atau mencari tiket CL ke Bogor ke kosan Wina dan Aisya atau menelpon Kak Ayumi minta jemput.

Tapi ini rombongan lho. Dan ada satu orang yang tega ninggalin kami. Oke, emang si aku suruh dia berangkat. Tapi ya mbok pamit kalo emang mau berangkat. Dia ambil resiko berangkat sendirian ke Demak, tanpa mikirin kami yang terjebak tengah malam di stasiun gini. Astaga. Teman macam apa itu? Aku mulai berprasangka buruk.

Imah segera menelpon Omnya yang tinggal di Bekasi. Alhamdulillah, beliau bisa menjemput kami. Sambil menunggu, aku merebahkan diri di karpet mushola yang berdebu. Tiba-tiba sebuah sms masuk. Dari Wibi.

Assalamu’alaikum. Ada yg hpnya masi idup g? Sy mw nelpon Bowo.

Aku bangkit dan melangkah keluar mushola. Kuberikan hapeku pada Bowo di lobi.

“Wo, hape lu lowbatt kan? Nih, Wibi mau nelpon.”

Aku segera kembali ke mushola. Tak lama kemudian, oom Imah menelpon, mengabarkan bahwa beliau sudah sampai. Maka kami bergegas keluar dari stasiun Senen.

 

Part seven: Di Rumah Oom-nya Imah

Kami tiba di Bekasi sudah hampir pukul dua dini hari. Ketika memasuki rumah beliau, patung salib tergantung di hampir semua sisi. Ada juga lukisan Jesus di dekat pintu. Ya, Allah. Beginilah realita dakwah. Ada juga anggota keluarga kami yang belum menerima agama lurus-Mu.

Tantenya Imah masih terjaga ketika kami memasuki rumah itu. Beliau sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.  Tidak seperti orang jawa yang menyambut dengan wedang panas di meja, beliau hanya menyalami kami sambil lalu, serta berkata singkat.

“Yang cewek pake kamar depan, yang cowok di belakang ya. Kamar mandinya di belakang.”

Kami semua sudah lelah. Setelah bersih-bersih sebentar kami segera istirahat.

Azan subuh tak terdengar sama sekali. Setelah sholat subuh berjamaah menghadap kiblat yang kami yakini- yang tidak menghadap salib, kami mendengar Tante mengetuk pintu. Ternyata beliau mau mengambil baju. Yaampun, ini baru jam 5 lewat berapa menit, mereka sudah siap-siap ke Gereja.

Belum tepat pukul enam, Tante berangkat duluan dengan mobil satu. Aku mencoba mencari tiket kereta pake hape. Susi. Susah sinyal. Pulsa habis lagi. Buru-buru aku minta Nuhi mengirimi pulsa. Alhamdulillah, secepat kilat pulsa kiriman Nuhi sampai. Ternyata Imah meminjam lepi omnya.

Tak lama kemudian, Oom dan anaknya pake mobil satunya. Kami berempat ditinggal. Tak lama ada Tante-nya Imah yang satu lagi. Ternyata Imah punya dua keluarga di sana. Sarapan sudah tersedia di meja makan. Bungkusan Nasi uduk. Tante satunya malah bawa bubur ayam. Sarapan dobel. Akhirnya kami memutuskan untuk makan bubur ayam lebih dulu, sedangkan nasi uduk untuk makan siang.

Sambil mengunyah kami mencoba pesan tiket online. Karena sudah lewat batas pemesanan 8 jam sebelum pemberangkatan, maka sudah tidak bisa lagi. Bowo pun keluar mencari Indomaret. Nggak bisa juga. Sudah jam 7. Tiba-tiba ada sms dari Ali.

Assalamu’alaikum, Ne. Nggak jadi ke Demak ya? Afwan lupa.

Yasudahlah. Mau diapain lagi, sekarang gimana caranya bisa balik ke Jogja. Besok aku dan Bowo kerja, Imah kuliah, Yani ke klinik.

Aku minta tolong kak Ayumi untuk membelikan tiket di Senen. Tidak ada respon. Yasudahlah, minta tolong Ali saja.

Wah, jam segini macet, Ne. Ada car free day. Udah coba telpon Call Centernya? (021) 121 pesen tiket, trus tinggal transfer deh.

Alhamdulillah, kami berhasil pesan tiket by telpon. Aku bergegas ke Indomaret. Ternyata adanya ATM BCA. Aku jalan lagi ke Alfamart. Adanya ATM BCA juga. ATM-ku Mandiri, sedangkan Bowo BRI. Batas akhir transfer pukul sepuluh. Om-nya Imah berjanji mengantar kami jam 9 ke  Senen. Maka lagi-lagi aku minta tolong Ali untuk mentransfer uangnya. Oke, urusan tiket beres. Kami segera bersiap sambil menungu oom pulang. Tepat pukul 9 kami berangkat ke Senen. Ali juga berangkat dari Gancit.

 

Part eight: Antri di Senen

Perjalanan Bekasi-Senen tak sampai satu jam. Kami tinggal menunggu Ali untuk menukar slip transfer dengan tiket di loket tiket online. Sambil menunggu, Bowo mengantri di loket pembatalan tiket. Ya, dia sudah terlanjur membeli tiket Semarang-Kediri.

Tampaknya Stasiun Senen direnovasi habis-habisan. Aku hampir tak mengenali stasiun ini. Banyak posisi yang berubah. Tepat pukul 11, Ali tiba di Senen dan segera mengantri. Oomnya Imah yang juga menunggu segera pamit pulang ke Bekasi.

“Makasih banyak ya, Om.” Ujar kami berbarengan.

“Eh, Ne, tadi gue liat Fathi lagi ngantri juga.” Ujar Bowo.

“Dimana?”

“Tadi sebelah sana.”

Aku segera mencari Fathi. Di antara ribuan orang, Fathi begitu mudah ditemukan. Dia sedang menunggu Trisno untuk menukarkan tiket Bengawan milik Jaya. Aku mengusulkan Fathi membeli Krakatau saja karena waktunya sudah mepet.

Tak lama kemudian, Ali selesai mengantri. Dia menyerahkan tiket padaku. Aku pun membagi tiket.

“Nih, Wo. Tiket lu. Ntar kayak semalem lagi, tiket lu masi di gue. Trus lu nggak jadi berangkat.” Selorohku sambil bercanda.

“Haha, nggak seru amat ketinggalan kereta dua kali.” Jawabnya sambil menerima tiket.

“O,ya. nih, Tawang Jaya lu. Buat kenang-kenangan.”

“Duitnya nanti ditransfer balik ya , Ne?” tanya Ali.

“Iya, Li. Belum nemu ATM Mandiri.”

“Sebelah sana nggak ada?”

“Nggak ada. Dulu sebelum renov si ada.”

“O,yaudah, besok aja nggak papa.”

Kami segera menuju ke arah lobi timur, tempat Yani dan Imah menunggu.

Jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Peron sudah dibuka. Terdengar panggilan untuk penumpang Krakatau Ekspres.

Sambil menunggu Krakatau, kami bergiliran sholat. Aku menunggui tas selagi yang lain sholat. Kubuka lagi buku ‘Travelicious Semarang dan Karimunjawa’.  Mungkin belum saatnya aku backpackeran ke sana.

“Neaaa… Aku jadinya naik Krakatau.” Tiba-tiba Fathi muncul.

“Halo, Fa. Kamu gerbong berapa?”

“Aku gerbong 7, kursi 22B.”

“Waaaah.. Kita satu gerbong.”

Tak lama kemudian Bowo muncul.

“Wo, titip yak.” Ujarku dan Fathi sembari bergegas ke arah mushola.

 

Part nine: At Krakatau

Mungkin memang bukan rejeki naik Tawang Jaya tapi Krakatau. Rombongan kami yang awalnya enam orang, sekarang tinggal berlima.

“Yah, kita cuma pindah kereta yang lebih nyaman.” Ujar Fathi.

Satu hal yang kusyukuri adalah pemandangan perjalanan di siang hari. Banyak hal yang bisa dilihat pada siang hari, sedangkan pada malam hari aku hanya bisa membaca. Sayang sekali aku tidak membawa buku. Travelicious masi di Bowo. Mungkin memang harus istirahat. Kuambil Pashmina merah di Three Rey abu-abu. Siang ini AC Krakatau dingin sekali. Sorenya aku merasa mulai flu.

 

Part ten: Touch Down at Lempuyangan

Lewat pukul sepuluh kami tiba di Lempuyangan. My taakhi sudah standby menjemput. Besok kerja lagi.

Selama seminggu terakhir aku berusaha menerima bahwa tiap orang punya sikap berbeda menghadapi suatu hal. Semoga kejadian malam minggu lalu menjadi pembelajaran tentang setia kawan. Mungkin selama ini aku belum menjadi teman yang baik sehingga belum layak ditunggu di stasiun. Tapi aku bersyukur, Allah memberi banyak kemudahan melalui tangan-tangan lain dan jiwa besar sahabat seperjalananku.

Ribuan maaf buat Rani, Fathi, Yani, Imah dan Bowo. Maaf, rencana kita gagal total. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan, right?

Ribuan terima kasih untuk Kak Ayumi, Ali, dan Wibi. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kalian yang bersegera mengulurkan tangan. I owe you.

Nuhi, Wina, Aisya, you’re my everything lah pokoknya. Mari kita reunian border. Fufufu.

Buat teman-teman Pejuang07, entah kapan lagi ada #RihlahWalimah, kuharap kalian lebih peka. Mengutip kata Kak Ayumi, bahwa prioritas kita menghadiri walimah adalah pada prosesi akad nikah, bukan resepsi. Jadi, usahakan cari waktu jalan-jalan yang lebih tepat ya. Jangan sampe nggak ikut akad demi jalan-jalan.

Buat Rika dan mas Hanif, serta Faiz dan pak Imron, Barakallah~  Semoga kisah kalian Happily Ever After.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi, 18: 28)

Banteng Jaya, 12 Oktober 2013, 23:19

5 thoughts on “Meruya-Lempuyangan [3]

  1. pengejakata says:

    gw juga spechless banget ne… pelajaran berharga, di Jakarta jangan pernah naek taksi bluebird lagi, mending naek taksi express 😀

  2. Purnamasari says:

    beuuuh,.
    as usual, lo emang jagonya nulis detail. Bauty in detail
    sampe tiga part cuiii,.
    hahaha

    besok pas gw nikah cerita lo harus lebih detail dan heroik lagi ya yon,.
    nyahaha
    nice nice
    :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 17,319 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

October 2013
S M T W T F S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 765 other followers

%d bloggers like this: