Meruya-Lempuyangan [2]

Leave a comment

October 11, 2013 by loratadine

Tepat setelah azan maghrib, ketika aku akan mengambil wudhu ada telpon dari teman Fathi. Dia mengabarkan bahwa mereka masi di rumahnya  di Cinere. Serius. Ini benar-benar di luar logikaku. Kalo Fathi mau ke nikahan Faiz, harusnya maghrib dia sudah di Mercu. Ah, sudahlah. Kadang logika Jogja memang tidak bisa diterapkan di Jakarta. Aku berlepas diri dari kondisi Fathi. Semoga dia bisa merelakan tiket Tawang Jaya-nya hangus.

Ketika aku masuk ke tempat wudhu, kudapati Yani dan Imah baru saja selesai wudhu. Ternyata mereka baru sampai dari rumah oom Yani di Cawang. Yasudahlah, nggak realistis aja si kalo abis sholat kami langsung berangkat ke Senen. Pokoknya jam 8 sudah di jalan. Begitu pikirku.

Usai sholat, aku segera mengecek posisi panitia. Mempertegas jobdesk mereka sesuai posisi dan berkoordinasi dengan WO mengenai pemisahan tempat duduk. Waktu terus berlalu, ketika resepsi sudah hampir dimulai, MC menanyakan tentang profil mempelai. Maka kami langsung kasak-kusuk karena PJ-nya lupa membuat. Ada yang berusaha mencari info di internet melalui hape. Karena tak kunjung connect, maka aku segera berlari mencari warnet terdekat.

Sesampainya di warnet, tak satupun info yang kudapatkan. Link undangan Hanif-Rika di weddingwire  sudah tidak bisa ditemukan. Maka aku segera menyerah dan berlari pulang ke Mercu. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.30. Aku harus bergegas pamit pada Rika dan Keluarga.

Part four: Resepsi

Ketika aku sampai di lokasi, resepsi sudah dimulai. Di pintu masuk aku bertemu teman satu genk, Wina dan Aisya, serta beberapa adik kelas yang terheran-heran melihatku ngos-ngosan. Setelah bertegur sapa satu-dua kalimat, aku pamit menuju pintu belakang.

RH wed1

Ternyata urusan tulisan sudah beres. Oke sip. Aku segera berpamitan pada beberapa panitia akhwat dan memberi kode pada Bowo dan Wibi untuk ikut mengantri berbaris bersama Wina dan Aisya untuk memberi selamat sekalian pamit. Belum tampak tanda-tanda Rani dan rombongan Pejuang07 datang.

Bang Heri dan Mama agak kaget melihatku di barisan. “Loh, Nea mau balik sekarang? Nggak besok aja?” Aku hanya menjawab singkat bahwa aku harus ke Semarang dan berjanji lain kali akan ke Jakarta lagi. Ada rasa haru ketika bersalaman dengan Rika. Temen gue akhirnya ketemu prince charming-nya. Haha.

Ketika berpamitan dengan Kak Rika, Adzmar dan Kak Nonong pun mereka hanya bisa menggeleng-geleng. Ah, begitulah sikap kakak terhadap adiknya yang mau pergi. Tinggal pamit sama Kak Riny dan Bang Agi nih.

Ternyata Kak Riny ada di sisi selatan. Beliau sedang bersama Nila, salah satu teman SMA Rika yang menjadi panitia. Entah kenapa rasa kesalku pada Rani dan Fathi memuncak. Kesal itu berwujud buliran bening yang mengalir. Membuat heran Kak Riny dan Nila. Serta merta mereka memelukku. Sudah-sudah, aku harus segera makan dan pergi.

Spanduk Pejuang07 dan tiket kereta Rani dan Fathi kutitipkan Wina. Jika mereka datang, biar Wina yang menyerahkannya. Yani dan Imah sedang makan dan ternyata mereka sudah salaman dengan Rika. Oke, abis makan kami berangkat. Aku, Yani, Imah dan Bowo satu taksi ke Senen, Wibi naek angkot ke Kebon Jeruk, lanjut naek TransJakarta ke Lebak Bulus.

Aku baru saja duduk di tangga timur ketika melihat Rani dan teman-teman datang. Kutelan makananku dalam diam. Tak kupedulikan mereka yang datang. Sori, gue sedang kesal untuk menyambut kalian. Entah seperti apa wajahku ketika Rani berjalan ke arahku dan kemudian duduk di depanku. Segera kuminta tiket ke Wina yang duduk di belakangku, dan menyerahkannya ke Rani.

“Yaampun, Ne. Koq ngasihkannya sekarang, sih?” ujar Rani ketika menerima tiketnya. Aku tidak menjawab dan melanjutkan makanku. Maaf, Ran. Aku sudah menyerah.

Tiba-tiba, ada panggilan berfoto bersama untuk Pejuang07. Maka kami segera ke pelaminan. Usai berfoto, aku segera berkata pada Imah dan Yani , “Kalian tunggu di depan ya. Aku mau ngambil tas di belakang.”

Ternyata ketika itu juga Rani dan Sari bersiap untuk pulang. Yasudah, akhirnya rombongan total tujuh orang. Mau tidak mau kami harus menyewa 2 taksi. Salahku adalah tidak pamit pada Ali, sie transportasi. Sebelum ke Jakarta aku sudah minta tolong beliau untuk mengantar kami ke Senen. Tapi melihat situasi jalan malam minggu yang padat merayap, aku khawatir Ali tidak bisa sampai lagi di Mercu sebelum pukul sepuluh, hingga keluarga Rika harus menunggu.

Part five: On The Way

Tak lama setelah keluar dari Mercu, kami menemukan 2 taksi . Sari minta duluan, karena ia mengejar kereta ke Bekasi. Maka kupersilahkan dia naik ke taksi pertama bersama Rani dan Bowo. Sedangkan Wibi, aku, Imah dan Yani di taksi kedua. Aku mencatat keduanya adalah Blue Bird Pusaka.

Driver taksi kami tampak begitu ramah. Dia mengajak mengobrol. Tiba-tiba hapeku berbunyi. Telpon dari Rendra. Dia menanyakan posisi kami, spanduk pejuang ketinggalan. Ah, sudahlah. Lupakan saja.

Ketika di perempatan Srengseng, bapaknya mau lurus ke arah Kebon Jeruk. Padahal aku jelas-jelas bilang supaya berenti di tol Kebon Jeruk. Aku sudah merasa aneh di sini. Tapi mengabaikannya. Akhirnya dia berbelok ke kiri. Entah pada suatu persimpangan, dia kembali mengusikku yang sedang sibuk sms-an.

“Ini lurus kak?”

“Iya,” jawabku tak terlalu memperhatikan jalan. Ternyata ia menuju Rawa Buaya, jalan tembus menuju Daan Mogot.

Ampun dah, ini orang kagak tau jalan apa ya?

“Puter balik, pak.”

Bukannya berhenti, ia malah ngebut. Seketika aku lemas.

Ah, sudahlah, ntar juga nembus Daan Mogot, Grogol, Roxi, Harmoni. Wibi ntar turun di Daan Mogot aja, tinggal naik shelter TJ nggak usah nyebrang.

Ternyata jalannya ditutup. Jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul sembilan. Aku tidak yakin bisa sampai Senen sebelum jam sepuluh. Kulihat Wibi yang sedari tadi whats-app-an mulai membuka GPS.

Berkali-kali kami berhenti bertanya arah kepada orang-orang di pinggir jalan. Coba dianter Ali, nggak bakal nyasar deh. Pikirku putus asa.Aku segera meng-sms Rani dan Bowo tentang kondisi kami. Kata Bowo mereka sudah sampai Senen. Seketika aku menepuk dahi. Tiket Bowo masih di aku.

Entah setelah berapa lama, akhirnya kami keluar menemukan jalan utama. Wibi turun di shelter TJ Daan Mogot, sementara kami berputar arah ke Grogol. Kalau sudah di sini, aku hafal rute.

Tenyata Allah tidak membuka hati supir taksi itu untuk mengantar kami ke Senen dengan rute terdekat. Setelah melewati Roxi dan Harmony, tiba-tiba ia lurus ke arah Kota. Kutegur supir taksi itu. “Pak, bukannya belok kanan ya?”

“Iya, kak. Tapi lagi ada acara di Monas, jadi Gambir ditutup.

Aku segera menarik nafas berat. Sudahlah, tak ada harapan lagi. Aku hanya menatap nanar ke Stasiun Kota, jalan Mangga Dua, Gunung Sahari yang kami lalui. Imah tak bersuara, sedangkan Yani hanya terpejam di kursinya. Pura-pura tidur.

Maka dengan pasrah aku mengabari Kak Riny, Kak Yanti dan Nuhi.  Menceritakan kondisi kami yang terjebak macet. Waktunya sudah mepet, aku segera meng-sms Rani dan Bowo:

Ran, kalo mau ke Demak g pp.

Wo, sori y tiket lu masi d gw.

Fiks, kita ketinggalan kereta. Sms dari Bowo

Nene T.T. Sms dari Rani

Kupikir Rani tak akan tega meninggalkan kami. Maka kubalas sms Bowo.

Rani masuk g?

Iya, Ne. Rani masuk.

WHAT??? Dia pergi nggak pamit, nggak minta maaf, nggak mikir banget!

Serta merta kesalku muncul lagi. Sudah terlambat untuk menangis. Sori, Ran. Lu, gue, end.

Bersambung..

Banteng, 11 Oktober 2013, 20:43

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 16,840 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

October 2013
S M T W T F S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 737 other followers

%d bloggers like this: