Meruya-Lempuyangan [1]

Leave a comment

October 9, 2013 by loratadine

Assalamu’alaikum~

Lama nggak muncul, pastinya kalian penasaran kan tentang weekendku kemarin? Yak, lagi-lagi aku bakal cerita tentang serunya perjalanan di Jakarta. Mungkin kali ini akan banyak melibatkan emosi. Bagi pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak, mohon maklum dengan gaya tulisanku yang transparan. Secara nggak ada editor sebelum publish.

Part one: Pagi yang Cerah

Berbeda dengan kondisi rumah mempelai wanita yang begitu heboh di pagi hari. Kediaman Ibu Ecih Rukaesih tenang tanpa keributan berarti. Memang, rumah yang biasanya dihuni tidak lebih dari tujuh orang itu kini berisi belasan orang. Ada Emak (nenek), Bi ‘Ii, Bi Emah, Mang Ade, Ibu dan dua orang adik Kak Rika (Kakak Ipar Rika). Aku sudah dianggap seperti keluarga di sana. Maka tanpa sungkan-sungkan aku menambah keramaian di rumah itu.

Sebuah sms masuk dari Sena.

Ne, Rani nanya, kalian berangkat ke Senen jam berapa? Bales ke Rani langsung ya

Aku langsung membalasnya. Skalian menjarkom ke rombongan yang lain.

Rani, Fathi, Bowo, ntar qt ambil aman berangkat jm setengah 8 dari acara rika ya.

Tak lama kemudian Rani membalas

Kata Arul jm9 kurang 15 bisa koq, Ne.

Cukup panjang eyel-eyelan di sms tentang keberangkatan. Dan dari sana aku menangkap kesan ketidak seriusan keberangkatan ke Demak dari Rani. Mereka berencana ke Kota Tua sebelum ke Mercu. Kalo gitu emang nggak niat ikut akad, yang penting ikut resepsi.

Logikanya, kalo mau naik kereta Tawang Jaya jam 22:10 dari Senen, berarti kan abis maghrib atau selambat-lambatnya isya’ udah di jalan. Oke, dalam keadaan lancar, Meruya-Senen bisa ditempuh dalam waktu setengah sampai satu jam saja. Tapi ini malam minggu, Sist. Aku sudah menyampaikan logikaku, tapi tidak ada tanggapan. Oke, aku berlepas diri dari apa yang mereka rencanakan.

Part two: Persiapan

Tepat pukul sebelas aku tiba di ruang utama Masjid Manarul ‘Amal Universitas Mercu Buana. Panitia sudah berkumpul. Kami membahas teknis pelaksanaan resepsi Rika-Hanif. Aku sebagai sie dekorasi bekerja sebelum acara, jadi setelah memastikan semua panitia menempati posisinya, aku bisa segera pamit dari resepsi.

Part three: Akad yang Khidmat

Tidak banyak orang yang menjadi saksi prosesi yang menggetarkan arsy Allah, mitsaqan ghaliza. Hanya keluarga besar kedua mempelai, beberapa tetangga terdekat dan teman-teman yang berkesempatan hadir pada sore hari. Kostum yang dikenakan Rika dan mas Hanif yaitu putih. Suasana haru begitu terasa di tengah masjid kampus Mercu menjelang maghrib itu. Waktu pergantian shift antara malaikat pagi dan sore, waktu yang mustajab untuk berdoa. Semoga keberkahan mengiringi langkah suci kalian.

Bersambung..

Banteng, 9 Oktober 2013, 11:12

RH wed2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 16,865 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

October 2013
S M T W T F S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 737 other followers

%d bloggers like this: