Cooking Treatment

2

September 6, 2013 by loratadine

Aku ingat waktu jadi relawan erupsi Merapi 2010, ibu-ibu pengungsi di lingkungan Cangkringan terlihat lebih bahagia daripada yang di posko SD Pogung Dalangan. Why? Katanya si karena ibu-ibu di Cangkringan disibukkan dengan aktivitas masak. Entahlah, tidak ada data valid tentang itu dan aku memang tidak membuat risetnya.

Seminggu berlalu usai sumpahan. Status #JobSeeker masih kusandang. Aku sudah memasukkan ke 2 tempat; 1 apotek dan 1 rumah sakit. Mungkin usahaku belum maksimal. Beberapa kali ortuku meng-sms menyuruhku mengecek syarat-syarat cpns. Ada satu-dua syarat yang mengganjal yang membuatku belum beranjak mengurusnya. Apa mau daftar atau tidak, ah, aku harus istikhoroh dulu.

Okai, back to the topic. Dalam seminggu ini aku hampir setiap hari memasak.

Ahad (1/9),

Sebelum mengantarkan berkas lamaran ke sekitaran Bantul, aku mampir di Salima. Aku sudah bilang kan kalo Salima sudah pindah ke Lempong Sari, sekitaran Jl. Monjali? Nah, aku menyuruh Rence untuk merendam pempek keriting kering selama 2 jam. Lepas maghrib aku beli makan di SS Colombo. Tentu saja pempek tidak akan membuatku kenyang. Maka aku tetap beli nasi.

Senin (1/9)

Desy: Ne, gw mw beli gas. Mari qt masak tekwan.

Me: Tekwannya mesti direndem dulu. Bsk sore aja ya qt masaknya. Kasi tau anak2 ASC* yak.

*Akhwat Sari Club

Selasa (2/9)

Abis bantuin mbak M beres-beres Apotek AW, aku mampir ke kosan, ngambil rendaman tekwan. Ternyata Rika ada di kosan. Yasudah, jadinya kami berdua ke Mirota Kampus untuk beli bumbu-bumbu yang diperlukan. Pengennya cepet si, jadi gak beli bahan di pasar.

Sesampainya di parkiran dekat kosan Desy, kami bertemu Intan Juju. Maka kami bertiga segera naik ke kos Desy. Ternyata sudah ada Yessy dan Tanti. Vhe sedang ada agenda. Nurul lagi maen ke rumah temennya. Dian, yah, agak susah tuh ndoro putri keluar malem. Dwinna juga lagi nggak bisa. Hampir isya’ Mita mipa nyusul untuk jadi spesialis cuci piring.

Yon's10229

Tekwan

Tekwan

Rabu (4/9)

Kuah tekwannya masih banyak, padahal bijinya udah abis. Ba’da ashar aku nyebrang ke Superindo Jakal. Beli rolade, tahu, tempe, wortel, kentang, tomat, jamur, dan pisau. Haha, jadi ceritanya pisauku pernah dipake pas ada dauroh gitu dan sampe sekarang belum balik. Sementara pisau kosan ketinggalan di kosan temen adek kosku. Yasudah, daripada motong sayur pake sendok kan?

Di kosan nggak ada kompor, that’s why aku kemaren masak tekwan di kosan Desy. Nah, kalo cuma masak sop sih pake rice cooker juga bisa. Untuk membantuku menghabiskan sop warna-warni itu, aku mengundang para peserta Tekwan Party kemarin. Tapi hanya Kak Yuki dan Nurul yang berhasil datang.

Kamis (5/9)

Setelah lelah sepagian memilah kertas-kertas, aku menuju ke Apotek AW. Pilah-pilahnya belum selesai sih, nunggu satu juta tahun dulu kali ya baru beres. Salut deh sama Mbak M, (insyaallah) ahad besok (8/9) belio mau nikah, tapi masiiii aja ngurusin beres-beres apotek. Haalooo.. udah H-3 tapi mbaknya belom mau dipingit. Wew.

Sekitar jam 5, kami meluncur ke Apotek UGM untuk mengantar aset yang bisa diselamatkan. Usai menyapa mbak Rina, aku pamit duluan, sementara mbak M masih ngobrol. Padahal belio mau pulang ke Klaten.

Kalian tau aku mau ke mana? Yah, ke mana lagi kalo nggak ngerusuhin dapur Desy (lagi). Ketika aku datang, Desy dan Vhe sedang terlibat pembicaraan serius. Tanpa banyak basa-basi aku menuju dapur dan mulai memasak. O,y, jangan dikira aku pandai memasak ya. Aku hanya sedang malas makan. Karena aku tipe orang yang tidak suka mubazir, maka se-tidak-enak-apapun masakanku, mau nggak mau harus kuhabiskan.

Yon's10244

Jum’at (6/9)

Semalam ketika aku masih di kos Desy, Rika ngasih tau kalo bu kos ngasi besek kenduren. Nah, karena aku sudah kenyang, maka sepulang dari kos Desy, aku tak menyentuh besek. Hanya menengok apa saja isinya. Hihi.. Lalu, aku mengundang pasukan bimo untuk sarapan bareng.

Maka jadilah tadi pagi mereka kusuguhi oseng-oseng rolade- tahu-wortel dan sambal tempe-kentang masakanku semalam serta ayam goreng, bihun dan sambal goreng serta nasi kenduren. Sayangnya karena semalam nasi dan bihun tidak langsung masuk magic jar, rasanya jadi agak-agak aneh.

Anak-anak kosan langsung berangkat tanpa menyempatkan sarapan. Aku tak bisa membayangkan semua isi besek kenduren harus kuhabiskan sendirian. Usai dzuhur, aku menengok sambal goreng dan ayam yang masi tergeletak di meja. Ah, mau diapakan ini?  Rika sedang sibuk di kamar ngerekap data. Yasudahlah, aku pakai saja rice cookernya (lagi) untuk membuat oseng-oseng ayam sambal goreng kenduren. Haha..

Yon's10258

Kentungan, 6 September 2013, 21:42

 

 

2 thoughts on “Cooking Treatment

  1. Puji Lestari says:

    ngiri deh sama kalian, kebersamaan kalian, dan berbaginya kalian….
    06 sepertinya gak pernah ada acara begituan… 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 16,850 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

September 2013
S M T W T F S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 737 other followers

%d bloggers like this: