Konser Terakhir

2

February 9, 2013 by loratadine

Bunderan UGM, 14 Februari 2013

“Lyraaaa… tungguin doooong..”,  ujar Rena sambil mengejar temannya.

“Haha, ayo, Ren. Keburu acaranya bubar..”, sahut Lyra seraya mempercepat larinya.

Rena segera menghentikan larinya. Ia harus mengatur nafasnya sebelum menuruti style temannya itu. Heran deh, Lyra kok bisa lari secepat itu? Padahal kan dia pake jilbab lebar dan rok panjang. Pikirnya sambil menatap celana jeansnya.

Bunderan UGM sudah mulai ramai. Lyra memperlambat langkahnya. Matanya mencari Rena yang masih jauh tertinggal di depan gelanggang. Sambil menunggu Rena, tiba-tiba ia teringat dulu jaman SMA ketika ditegur ketua Rohis terkait hobinya.

“Ukh Lyra, anti ikut ekskul lari ya?”

“Iya, Kak. Kenapa emang?”

“Nggak papa. Kemaren nggak sengaja kakak liat pas temen-temen ekskul lari lewat, eh, ada anti. Kakak punya temen putri di SMA 1, dia pengen pake jilbab, tapi masih ragu-ragu soalnya dia atlet lari. Anti tau kan gimana kostum kalo ada pertandingan lari?”

“Hehe, iya kak. Emang nggak boleh lari ya kalo pake jilbab?”

“Yah, mungkin dia mikirnya ntar geraknya nggak bebas aja kali ya?”

“Biasa aja sih..” jawab Lyra cuek.

“Kapan-kapan deh kakak kenalin sama beliau.”

Lyra dan Rena, dua kepribadian berbeda yang lahir dan besar di keluarga berbeda. Sifat keduanya pun bisa dibilang bertolak belakang. Rena cukup terkenal sebagai cewek feminim, sedangkan Lyra cukup tomboi untuk ukuran muslimah berjilbab. Mereka bertemu ketika penerimaan mahasiswa baru. Kebersamaan mereka di kelas dan organisasi yang sama selama semester pertama kemarin membuat mereka akrab.

Sebagai staf sebuah organisasi jurnalistik tingkat universitas, sudah jadi kewajiban untuk mereka meliput kegiatan mahasiswa di kampus. Sebenarnya ada banyak alternatif kegiatan, tapi momen tanggal 14 Februari selalu menjadi trending topic setiap tahun. Seminggu terakhir ini, Rena dan Lyra sibuk memilah informasi melalui internet, majalah dinding, koran, bahkan selebaran yang dibagikan di perempatan.  Sampai akhirnya semalam mereka menyepakati untuk hadir dalam acara di Bunderan UGM yang dilaksanakan oleh sebuah lembaga kerohanian Islam mahasiswa.

Lyra segera mengeluarkan kamera DLSR-nya. Kerudung lebar dan rok panjangnya tak menghalangi hobi fotografinya itu. Sejak SMP Lyra aktif di ekskul basket. Namun semenjak SMA, dia lebih fokus pada ekskul lari dan seni rupa, serta ikut kelas multimedia yang memfasilitasi hobi fotografinya.

Tak lama, Rena muncul dan segera duduk meluruskan kakinya di trotoar Bunderan UGM.

“Ran, kalo lari jangan kenceng-kenceng dong!” Protesnya.

“Sori, Ren. Kebiasaan.” Sahut Lyra sambil mengarahkan kameranya kepada Rena. Ia paling suka mengambil foto candid. Ekspresi objek fotonya selalu tak terduga.

“Lu bawa minum nggak?”

“Nih..”

Rena segera meminum habis isi botol Lyra.

“Haus apa doyan lu, Ren? Minum gue abis tuh.” Gerutu Lyra.

“Sape suru situ lari kenceng banget?”

“Yaelah, dari Kopma doang..”

“Harusnya tadi lu parkirnya di gelanggang aja.”

“Halah, sama aja..”

Tiba-tiba terdengar suara pembawa acara dengan background sound instrumen lagu Hijab I’m in Love Oki Setiana Dewi feat. Shindy.

“Kayaknya udah mau mulai tuh acara.” Ujar Rena menyadarkan Lyra yang sibuk mengambil gambar.

Mereka berdua segera menuju sumber suara dan mencari tempat yang enak untuk duduk.

“Mbak, ini buat Mbak..”

Tiba-tiba seseorang menghampiri Rena usai Talkshow yang bertajuk “Muslimah dari Masa ke Masa”. Rena hanya bisa terdiam melihat selembar kerudung disodorkan padanya. Ia menatap tak percaya.

“Ini apa, Mbak?”

“Kerudung, Mbak.”

“Iya, tau. Maksudnya apaan nih? Gratis?”

“Iya dong. Kalo buat mbaknya gratis deh.”

“Emang kalo sama yang lain bayar?”

“Ya kagak lah. Hari ini program kami bagi-bagi kerudung mbak”, sahutnya sambil menunjukkan nametag.

Rena melirik nametag tersebut. Mayang. Muda Berseri Community Event Organizer.

“Oo.., makasih ya,” sahutnya sambil menerima kerudung cantik tersebut.

Rena ingin segera beranjak dari sana. Obrolan di acara tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Lyra kemana sih? Pikirnya. Galau.

“Eh, bentar, Mbak. Jangan pergi dulu..”

Apa lagi sih? Rena menghentikan langkahnya.

“Foto dulu dong,” jawab Mayang membuat Rena semakin bingung. “Tiaraaaaa.. sini..” tiba-tiba Mayang berteriak memanggil temannya.

“Apaan, May?”

“Ini lho, Mbak cantik yang beruntung dapet jilbab cantik.”

“Ooo… Halo, Mbak. Saya Tiara.” Tanpa pikir panjang Tiara mengulurkan tangannya pada Rena. Mereka pun bersalaman.

“Mbak, kita foto boleh ya? Before after.” Lanjut Mayang.

“Maksudnya?” Rena semakin tak paham.

“Jadi gini lho, Mbak. Sekarang kan hari menutup aurat nasional. Nah, kami pengen liat gimana kalo mbaknya pake kerudung, gitu.”

“Ayo dong, Mbak.” Mayang dan Tiara serentak membujuk Rena yang hanya diam membeku. Seolah tak mampu mencerna apa yang baru saja mereka katakan.

“Ini ada apa ya?” tiba-tiba Lyra datang.

Mayang pun menjelaskan pada Lyra dengan penuh kesabaran. Rena semakin ingin lari dari sana. Lyra menatap Rena dan Mayang secara bergantian, sementara Tiara sibuk dengan kameranya.

“Makasih ya mbak kerudungnya. Tapi kayaknya teman saya lagi nggak enak badan. Kami pamit pulang duluan ya. Maaf…” Lyra segera menarik tangan Rena.

Lyra cukup terkejut ketika melihat Rena sedang mengobrol dengan dua orang berkerudung yang tidak dikenal. Rena bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang baru. Ia tidak akan menyapa jika tidak ditegur lebih dulu. Apalagi oleh orang berkerudung. Maka ketika mengetahui apa yang sedang dibahas, Lyra segera menarik Rena dan menuju Cafe eskrim di sebelah Koperasi Mahasiswa.

“Gue harus gimana dong, Ra?”

Lyra hanya diam sambil menikmati eskrim strawberry-nya. Rena tau. Lyra sedang berfikir keras setelah mendengarkan ceritanya barusan.

“Gue bingung, Ra. Ortu gue sih udah nyuruh gue pake dari SMP. Tapi lu tau kan gue gimana?”

Lyra tak menjawab.

“Gue nggak nyaman kalo bareng orang-orang berkerudung. Kayak diliatin dari ujung rambut sampe ujung sepatu gitu deh. Mereka tu kalo temenan milih-milih. Maunya gaul sama sesama orang yang pake kerudung doang. Gue nggak suka.”

“Emang gue gitu ya, Ren?”

“Kecuali elu, Ra.”

Am I?”

“Lu nggak jaim. Apa adanya. Gue suka orang yang jujur. Nggak pura-pura baik, tapi ngomongin di belakang.”

“Gue pake kerudung.”

“Iya, tapi…”

“Nah, berarti nggak semua orang berkerudung image-nya kayak yang lu bilang tadi kan?”

“Tapi..”

“Lu harus buktiin, Ren. Bahwa muslimah berkerudung juga bisa berprestasi. Nggak kuper en pilih-pilih temen. Lu denger kan obrolan tadi pas talkshow di Bunderan?”

Rena mengangguk lemah.

“Sori ya, tapi jujur gue nggak suka lu jadiin kakak lu alesan nggak pake kerudung sampe sekarang. Beliau pake kerudung aja digangguin orang, apalagi elu yang kagak.”

Air mata menetes di pipi Rena. Ia teringat kakaknya yang meninggal dalam perjalanan pulang usai menonton konser band kesayangannya. Hari itu adalah hari pertama kakaknya mengenakan jilbab. Ketika itu kakaknya diganggu oleh preman yang mabuk. Karena sibuk menghindar dari si preman, kakaknya tidak melihat ada bus yang melaju kencang ke arahnya. Beliau meninggal di tempat.

“Sori, Ren. Bukan maksud gue bikin lu sedih.” Lyra segera menyadari kesalahannya. Ia keceplosan menyinggung hal yang paling sensitif bagi Rena.

“Ren, dengerin gue.” Lyra meraih tangan Rena, “Lu hidup untuk hari ini dan masa depan. Coba deh, lu jadiin cerita masa lalu untuk penyemangat.”

Rena menghapus air matanya dengan tisu.

“Tadi pagi gue baca di koran ada lagi berita tentang pelecehan perempuan. Kenapa? Karena dia nggak nutup aurat. Di halaman selanjutnya gue baca ada profil penulis ternama. Lu tau Salsa kan? Dia muslimah yang sekarang udah punya penerbitan sendiri. Padahal dulu naskahnya sempat ditolak.”

Lyra menyodorkan air putih kepada Rena yang masih sesegukan.

“Kalo lu mau sedikit membuka diri, lu bakal tau kalo berkerudung itu bukan hambatan meraih cita-cita, tapi itulah identitas kita sebagai muslimah.”

Kata-kata Lyra membuat air mata Rena semakin deras.

Jum’at sore yang cerah. Tiara dan Mayang baru saja tiba di sebuah pusat perbelanjaan ternama di Yogyakarta.

“Eh, Ti. Kayaknya gue kenal tuh orang dua. Siapa ya? Lu kenal nggak?” ujar Mayang sambil menunjuk dua orang muslimah yang baru saja keluar.

“Siapa ya? Kayaknya si pernah liat. Apa kita samperin aja, May?”

“Boleh deh. Daripada kita penasaran.”

Mayang dan Tiara segera menghampiri mereka.

“Assalamu’alaikum… Maaf, mbak, kayaknya pernah liat deh, siapa ya?”

“Wa’alaikumsalam.. Eh, mbaknya yang kemaren ya? Dari Muda Berseri itu?”

“Iya, bener. Trus mbaknya?”

“Kenalin. Saya Lyra. Ini temen saya yang kemaren dikasi kerudung. Namanya Rena.”

Lalu keempat muslimah tersebut menuju kedai es krim yang berada di samping swalayan tersebut. Hanya Allah pemilik hati. Mayang dan Tiara hanya bisa tersenyum bahagia bertemu lagi dengan orang yang kemarin belum berkerudung eh, hari ini mengenakan kerudung cantik dari mereka.

Tiara segera mengeluarkan pocket camera-nya. “Ren, gue foto yaaaa…”

hijab

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab, 33: 59)

Kembang Kerep, 9 Februari 2013 11:23

Buat para muslimah yang belum tergerak hatinya; hidayah Allah itu jangan ditunggu, tapi dicari :3

2 thoughts on “Konser Terakhir

  1. rumahniefha says:

    niaaa… 🙂
    udah lama di bimo, baru tau kalo nih anak punya bloh juga 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 16,850 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

February 2013
S M T W T F S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
2425262728  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 737 other followers

%d bloggers like this: