Sesulit Itu kah?

Leave a comment

December 31, 2012 by loratadine

Di penghujung tahun 2012, keluhan tentang sebuah pertemuan rutin yang disebut liqo’ semakin banyak saja. Ada 2 faktor: dari murobbi-nya yang terlalu sibuk atau dari mutarobbi-nya yang begitu sulit diajak. Tapi, sumber utamanya adalah prioritas terhadap liqo’.

Dulu, ketika aku masih SMA, aku tinggal dengan nenek, kakek dan oom (adik ibu). aku tak punya kendaraan. Kemana-mana naik angkot. Kalau mujur, diantar oom atau nebeng motor temen. Tiap pekan, untuk menuju tempat ngaji, aku harus dua kali ganti angkot. Kadang juga jalan kaki. Alhamdulillah, semester akhir SMA aku dipercaya untuk membawa motor.

Setibanya di Jogja, aku termasuk mahasiswa baru yang beruntung memiliki motor. Sebagian besar teman liqo’ku adalah para pejalan kaki atau pengendara sepeda. Namun, semangat mereka untuk hadir tepat waktu di forum rutin pekanan patut diacungi jempol.

Bertahun-tahun berlalu. Teman-temanku sekarang hampir semuanya telah memiliki motor. Yah, motor semacam telah menjadi kebutuhan dasar bagi para aktivis mahasiswa masa kini. Dulu, label kami hanya sebagai mutarobbi, namun seiring berjalannya waktu, kami memiliki beberapa orang binaan, bahkan ada yang meng-handle 2-3 kelompok.

Lalu, banyak cerita tentang binaan kami. Ada yang begitu semangat hadir liqo’, ada yang begitu merindukan forum tersebut, ada yang sangat mengutamakan liqo’, tak pernah bolos satu kali pun. Tapi, tak sedikit juga yang menganggap bahwa liqo’ tak lain dari sekedar tempat curhat. Ada yang menganggap bahwa kalo nggak ada materi ya nggak liqo’, ada lagi yang nggak mau datang kalo si X nggak datang, dll.

Niat.

Itu yang pertama.

Untuk apa sih liqo’?

Aku memahami liqo’ sebagai tempat berkumpul orang-orang sholeh. Wadah untuk transfer berbagai hal. Ilmu, teladan, karakter, berbagi berita baik, membantu teman yang kesulitan, berlomba dalam kebaikan, saling mengingatkan, tidak sungkan meminta tolong, menawarkan untuk antar-jemput, saling memberi hadiah, bantu-bantu pindahan, bagi-bagi kerjaan… #eh

Banyak hal yang didapat dari liqo’. Tapi rumusnya adalah, jangan menuntut sebelum memberi sesuatu.

Dalam sebuah forum, aku mendapat kesimpulan bahwa dari berbagai agenda dalam tiap pertemuan, intinya hanya 3: tilawah, materi dan mutaba’ah.

  1. Tilawah. Liqo’ diawali dengan membaca, menghafal, mengkaji dan memahami Al-Qur’an serta hadits. Maka, agenda liqo’ ada tilawah, hafalan qur’an dan hadits, membaca tafsir al-qur’an dan membaca hadits arba’in atau riyadush shalihin
  2. Materi. Berbagai dasar keislaman dikenalkan melalui berbagai metode. Aqidah, ibadah, akhlaq, dakwah, shiroh, dll disampaikan oleh MR, silaturahim ustadz/ustadzah, microteaching, kultum, nonton film, bedah buku, dll. Selain itu, berita aktual disampaikan secara singkat dan dibahas secara mendalam untuk memahami kondisi masa kini.
  3. Mutaba’ah (evaluasi). Dalam sepekan, banyak hal yang terjadi, baik dalam hal kepahaman, kondisi personal, kondisi amanah, dll. Maka, perlu ada sarana untuk mengevaluasinya supaya dapat menjadi pelajaran dan dapat diselesaikan bersama.

Begitu indah liqo’ jika semua hal tersebut berjalan. Tapi, semua itu tak akan pernah tercapai jika nyari waktu liqo’ aja susah.

Salima, 31 Desember 2012, 21:45

sisters

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 16,865 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

December 2012
S M T W T F S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 737 other followers

%d bloggers like this: