Futur itu…

1

November 25, 2012 by yonea

“Mbak, kajian manhaj itu wajib ya?” tanya adik kosku ketika aku akan berangkat ke Mardliyyah.

“Iya dong. Kalo nggak datang manhaj semacam nggak datang liqo’.Lah, dirimu kenapa nggak berangkat?”

“Lagi futur, Mbak.”

“Futur gimana?”

“Capek.”

“Lah, futur malah kabur. Tetep berangkat dong. Mau dengerin, mau tidur. Terserah aja. Hehe..” jawabku asal. “Dulu itu kami biasa koq tidur di manhaj. Abis dauroh, mabit, langsung ke sana. Capeeeeek banget, tapi tetep dateng.”

“Datang juga nggak diabsen, Mbak.”

“Absennya kan nggak mesti tertulis. MR kan nggak ngecek presensi, tapi nanya sama temen liqo’.”

Weekend adalah waktu bersantai bersama keluarga. Harusnya. Bagi aktivis, weekend adalah waktu untuk mengaktualisasikan diri setelah di hari aktif berkutat dengan jadwal akademis yang padat. Berbagai program dan agenda diadakan ketika weekend. Itulah yang kualami beberapa tahun lalu. Sekarang? Yaa.. nggak jauh beda sih..

Jadwal rutinku yang sudah tetap, kalo mendadak berubah, bakal susah banget buat nyari jadwal pengganti. Misal nih, jadwal rapat rabu sore, karena ada kuliah pengganti, rapatnya jadi libur deh. Pun dengan jadwal liqo’-ngeliqo’i. Aku paling sebel kalo diganggu gugat. Makanya paling kesel kalo mutarobbi izin dengan berbagai alasan. Halooo~ lu pikir lu doang yang sibuk? Tapi sebagai MR mau nggak mau ya mesti sabar.

Aku pernah bertanya di sebuah kajian: “kalo adek binaan nggak bisa dihubungi, di-sms nggak bales, ditelpon nggak diangkat, nggak izin kalo nggak datang liqo’, itu baiknya dibiarin, ditinggal, atau gimana?”

Ustadz menjawab: “ya jangan ditinggal, tetap upayakan untuk dirangkul.”

Dulu, aku punya banyak waktu luang. Liqo’ kapan aja bisa. Ngeliqo’i kapan pun fleksibel. Adek binaan SMS mau curhat gampang ketemunya. Mau jalan ke mana ayo aja. Sekarang? Dengan jadwal saklek yang gampang berubah, mau nggak mau aku nggak bisa se-fleksibel dulu. Alhamdulillah, masih bisa liqo’, walau pernah sih aku bolos gara-gara ada kuliah dadakan atau praktikum, dan MR-ku adalah orang yang strict. Aku nggak boleh bolos akademik demi liqo’.

Maka, aku sedih ketika adek binaanku dengan gampangnya izin liqo’, nggak datang kajian manhaj, nggak menyempatkan ikut KRPH, atau nggak minta tugas, atau liqo’ pengganti atau apalah gitu. Truz, sarana penjagaannya gimana?

Doktrin yang kupahami adalah ketika kondisi tarbawi nggak stabil, maka kondisi amanah pasti nggak akan beres. Ukhti, kalian adalah orang-orang beramanah. Orang-orang penting di lembaga. Koq bisa mengutamakan agenda amal tanpa memprioritaskan sarana asasi? Wajar kalo futur. Terus beramal tapi nggak ada asupan. Ibarat teko; terus mengisi tapi tidak diisi. Lama-lama tekonya kosong dong…

Kalian adalah orang-orang terbaik yang dipilih Allah untuk berada di sini. Allah sayang dengan kita, makanya kita masih dijaga untuk beramanah. Benar bahwa tuntutan amanah itu banyak. Benar bahwa perubahan di lapangan itu cepat. Tapi, cobalah pikirkan efek jangka panjangnya.

Banyak kita temui orang yang sangat progresif amanahnya kemudian colaps. Kenapa? Karena nggak cukup energinya untuk memenuhi kewajibannya. Haknya nggak dipenuhi sih…

Yuk, muhasabah diri. Sudah tawazun kah kita?

Salima, 25 November 2012, 19:17

One thought on “Futur itu…

  1. supermancakep says:

    oh… gitu ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 17,327 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

November 2012
S M T W T F S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 765 other followers

%d bloggers like this: