Pharmacist to be..

Leave a comment

October 8, 2012 by yonea

Aku mengingat lagi kenapa bisa “terjebak” di dunia farmasi. Banyak hal. Otak remajaku beberapa tahun lalu begitu tertarik dengan benda-benda unik. Sebut saja obat, kosmetik, sabun, sampo, pasta gigi, bedak, bahkan macam-macam makanan kemasan seperti kecap, saos, sambal botol dan pewarna makanan.

Awal di farmasi, aku merasa salah jurusan. Ini pada ngomongin apa sih? Melihat hasil studi semester satu, ayah menyuruhku bersiap ikut tes STAN atau STIS. Apa? pindah jurusan? Waktu itu aku tidak tertarik di dua bidang yang ditawarkan ayahku. “Pokoknya aku mau tetap di farmasi!” jawabku ketika itu.

Sampai pada akhir semester tiga, hasil studi tak jua menunjukkan hasil. Aku akan berusaha di semester empat! Tekadku dalam hati. Maka ketika KRS semester empat, aku memilih mata kuliah dengan minat klinik komunitas. Why? Hanya karena aku tak suka praktikum dan kimia organik! Ya, aku memang tipe visual, tapi kapasitasku waktu itu tak mendukung untuk memaksa diri memilih minat sains industri. Dunia kesehatan ya kerjanya di masyarakat. Pikirku waktu itu. Apalagi ibu ingin aku jadi PNS. Gimana caranya minat industri kerjanya di rumah sakit? Begitu sempit pikiran anak umur 18 tahun.

Semester empat, aku mendapat sebuah amanah yang sangat berat. Ketua bidang kaderisasi Keluarga Mahasiswa Muslim Farmasi. Yah, semacam bidang yang mengurus proses rekrutmen, upgrading, dan pengkaryaan mahasiswa muslim farmasi. Sebuah bidang yang tak pernah kukenal sebelumnya. Dari kecil aku hanya mengenal buku dan kamera, serta gunting dan kertas, perangkat-perangkat yang mengasah kreatifitasku.

Sekuat tenaga aku menyeimbangkan antara amanah dan akademis. Alhamdulillah, IP-ku melonjak naik. Namun, di semester selanjutnya hasilnya tak jauh beda dengan sebelumnya. Kecewa? Tentu. Tapi tak ada yang menjadi alasan untuk mundur. Aku sudah memilih, dan akan kuhadapi sampai selesai.

Di semester tujuh, di mana teman-teman mulai mengajukan proposal skripsi, aku masih berkutat dengan kuliahku. Aku harus fokus. Sungguh sedih ketika hasilnya tak sesuai harapan.

Semester delapan, ketika sebagian besar temanku begitu fokus skripsi dan tak mengambil kuliah lagi, aku masih rajin kuliah. Di sana aku sekelas dengan staf-ku dulu, adek AAI-ku bahkan kakak kelas. Oh,ya, aku baru mau menyiapkan KKN. Setahun lebih lambat daripada teman seangkatanku memang. Yasudah.

Usai KKN, di semester sembilan aku bertekad menyelesaikan skripsiku. Ah, aku tidak realistis. Maka perjalanku berlanjut hingga semester sepuluh hampir berakhir. Dulu, aku punya target lulus dalam waktu 3,5 tahun, tapi nyatanya hampir 5 tahun. Ironi. Dan masih harus berlanjut satu tahun profesi. Tak salah jika mahasiswa sering disebut pengangguran terdidik. Ya, dalam umur sudah mampu bekerja, namun karena sedang kuliah, akhirnya masih bergantung pada orang tua.

Hari-hari profesi baru berjalan satu bulan. Tiap hari proses belajar-mengajar dimulai pada pukul tujuh pagi. Rata-rata pulang setelah ashar. Salut untuk teman-teman double degree yang bisa bertahan menghabiskan hari senin sampai kamis untuk profesi, jum’at dan sabtu untuk S2, hari minggu untuk mengerjakan tugas. Luar biasa! Aku yang menjalani 24 sks dalam 4 hari saja sudah hampir mati bosan duduk diam mendengarkan.

Di tengah padatnya jadwal kuliahku, aku menemukan duniaku. Media dan marketing. Secara tersirat maupun tersurat, dalam beberapa mata kuliah, aku menemukan celah dimana aku akan berperan di sana nantinya. Advertising. Aku menemukannya dalam mata kuliah pengobatan sendiri, konseling dan komunikasi, manajemen pemasaran bahkan dalam farmasi rumah sakit. Ya, dunia farmasi tidak terbatas memang. Oke, benar adanya bahwa pharmasist adalah tenaga kesehatan. Tapi sesungguhnya, pharmacist punya banyak peran (lihat 8 stars pharmacist)

Lalu, kemana aku akan melangkah? Yah, sementara nikmati saja semuanya. Hape susah sinyal selama di ruang kuliah, tugas numpuk, amanah keteteran, susahnya nyari jadwal rapat dan liqo’-ngeliqo’i, gak sempat jalan-jalan, berkurangnya waktu untuk membaca dan online, berkurangnya waktu tidur, kelaperan siang-siang, ngantuk tak tertahankan, sedia permen dan minyak angin di dalam tas, bawa minum kalo gak mau dehidrasi, dan tentunya memaksa diri untuk menyelesaikan target tilawah di malam hari. Sungguh terasa, kewajiban lebih banyak daripada waktu yang ada hingga hak diri tak bisa semua terpenuhi. Jangan dzolim ya, Ukhti!

Kamis, 04 Oktober 2012, 22:27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 17,294 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

October 2012
S M T W T F S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 765 other followers

%d bloggers like this: