Like Father Like Daughter

4

September 1, 2012 by loratadine

Scene 1: Mie Goreng

21:45

Kami baru saja sampai dari Pagar Alam. Perjalanan 6-7 jam, karena mampir sholat ashar di Lahat, sholat maghrib dan dinner di Muara Enim, serta mampir nganter yai ke Air Gading. Setelah bersih-bersih diri, aku melihat ayah menyalakan kompor.

“Nak ngapo, Yah?”

“Masak mie”

Haha, padahal tadi maghrib udah makan, tapi laper lagi.

“Skalian aku jugo, Yah.”

“Mie goreng jugo?”

“Yo’i.”

Mungkin kalo temanku yang anak Gizi Kesehatan tau aku masak mie, dia bakal ngomelin abis-abisan. Haha, biarin dah, gak tiap hari ini.

 —

Scene 2: Spider Solitaire

Ngapoi, Mbak?”, tanya Eza padaku yang sedang merangkai kancing dan manik-manik.

“Buat kalung”, jawabku singkat.

“Sudah-sudahlah, dak ke kau pake. Keke’an kito! Lagian kancingnyo tu nak kupake untuk buat baju.”

Aku cuma tertawa mendengarnya.

“Mending maen solitaire bae.”

Tawaku makin keras melihat Eza dan ayahku yang sedang main Spider Solitaire.

Scene 3: Kerak Ketan

Rumah kami terbagi menjadi 5 bagian. Teras, bagian depan, tengah, belakang dan atas. Di teras ada berbagai tanaman dalam pot, jemuran dan carport, di depan ada ruang tamu dan satu kamar, di tengah ada satu kamar dan kamar mandi, di belakang ada dapur, satu kamar mandi dan ruang serba guna (untuk sholat, makan, nonton TV, nyetrika, dll), sedangkan di atas belum jadi, baru ada penampung air tedmon.

Aku sedang membaca tulisan teman-teman seangkatan ketika ayahku lagi-lagi menyalakan kompor.

“Nonton apo, Ne?”

“Lagi baco tulisan kawan, kami nak buat buku angkatan.”

“Ooo.. Ni nak buat kerak ketan, galak dak?”

“Ckckck, ado-ado bae gawe ayah ni.”

Sambil menunggu ketan gosong, ayah main Solitaire lagi. Setelah berapa menit, ayah mengecek masakannya.

“Ai, kebanyakan banyu, jadinyo dak mutung galo”, gerutunya sambil mematikan kompor. “Nunggu dingin dulu.”

Tak lama kemudian ibu ke belakang.

“Ni bau gosong apo sih?”, tanya ibu sambil melihat kompor. “Ayah masak kerak lagi yo?”

Aku cuma tertawa mendengarnya.

Setelah agak dingin, ayah mulai mangambil ketan.

“Galak dak, Ne?”

“Dak galak aku yang mutung”

“Ni, yang tengah idak. Abiskelah”

Aku melirik jam dinding. Sudah lewat jam 10 malam. Aku bergerak mengambil mangkok, ketan, sambal dan brambang goreng. Lumayan, cemilan sambil baca tulisan temen-temen. Siapa bilang cewek gak mau makan malam? Mending makan kemaleman daripada kelaperan. Haha..

Rumah Dago, 30 Agustus 2012, 10:47

4 thoughts on “Like Father Like Daughter

  1. nea, rumah kau ni di pagaralam yoo….?? kalo mudik aku malah sering balek ke pagaralam, ke tempat nenek..

  2. bahasamu Ne, gak mudeng aku….
    asyik ye pulang kampuang 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 16,850 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

September 2012
S M T W T F S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 737 other followers

%d bloggers like this: