Sudah Kamis Lagi

Tak terasa seminggu berlalu, kamis lagi, #melingkar lagi. Sudah dua hari draftku di ruang pak DPS. Belum kutanyakan sudah dibaca beliau belum. Semoga besok jumat bisa diurus. Kemarin seharian berkutat dengan flannel Cresscendo Craft. Pagi ini si boz sms urusan duit. Emang ya dakwah gak bisa jalan kalo gak ada dana. Ini hari terakhir Juni, tapi dana belum terkumpul, tulisan ada yang belum selesai. Inspiratif #BangkitBerbenah jadinya kapan terbit nih? -.-a

Mandiri finansial. Kapan ya? Akhir – akhir ini, amanah yang ada membuatku mulai berpikir tentang marketing.

Terlibat di Pa’ole : comdev –> bisnis

Cresscendo Traning Organizer –> HandyCraft –> bisnis

Omah bayi –> Jaga stand pas JMF

Bimo –> muter – muter nyari dana untuk sponsorship.

Beberapa hal yang ditanya di yaumil akhir adalah untuk apa masa mudamu dihabiskan, untuk apa hartamu digunakan,,

Semoga kelelahan mencari dana tak menyurutkan semangat berdakwah.

Basecamp, 31 Mei 2012, 11:38

8 Hari Mencari Makna #4

Berhimpun

Kamis empat hari yang lalu,
Begitu terbangun pagi ini, aku ingin segera menyelesaikan skripsi. Tapi ternyata kakiku kaku. Sulit digerakkan. Setengah menyeret aku sholat subuh. Usai jama’ah subuh lengkap berenam, Puja membuka percakapan.

“Eh, mumpung lengkap, mau sekalian ngasih tau. Insyaallah besok jumat aku pendadaran.”
“Selamat ya pu. Aku iri”, ucap Arkan menyalami Puja yang tepat di sebelahnya.
“Oh, pantesan besok mau traktiran”, sahutku setengah mengantuk.
“Iya, sekalian mau pamitan, sebulan ke depan bakal jarang di salima. Ada kerjaan dari dosen senin sampe jum’at.”
“Aku minggu depan ujian blok. Minta doanya juga ya”, ujar Hanifah.
“kalo Nita?”, tanya Arkan
“Gak ada.”
“Miski?”
“Minggu depan responsi”
“Mbak Nea?”
“Masih harus revisi, doakan segera selesai.”
“Habis subuh gini aja yuk kita qodhoya rowa’i”, seru Arkan.

Kami semua hanya diam mengiyakan. Aku tak terlalu memikirkannya dan segera masuk kamar. Tiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diusahakannya.

Setengah hari aku recovery. Membereskan beberapa hal sebelum dzuhur. Setelah dzuhur, aku menjemput seorang teman lalu menuju basecamp #melingkar. Setelah ashar, aku menuju kantin pertanian. Lagi – lagi rapat Pa’ole didominasi ikhwan. Aku hanya akhwat sendiri. Harits dan Pity gak bisa. Intan otw dari RSST klaten. Tak lama kemudian Intan datang.

Usai sholat maghrib ada sebuah sms dari si C.

Td to. Pas pulang liat akhwat di PN narik lengan baju ikhwan (ga tau ikhwah pa bukan ikhwannya) trus mereka jalan bareng seakan nempel pundak keduanya. Yah mungkin itu dlm rangka candaan. Krna mrka jln menuju gerombolan temen2 mereka. Tp itu buat sy kaget n bristighfar. Smpt triak manggil si D. 5 tahun di ugm baru nemu kjadian kyak itu.
Received:17:51:05, 24-05-2012
From: +62857.4340.xxx

Jaman sudah berubah. Istilah ikhwan, akhwat, afwan, syukron bukan lagi sekedar ciri khas ikhwah. Sudah jadi bahasa ‘gaul’. Style kerudung lebar, baju longgar dan kaos kaki sudah umum dipakai semua muslimah. Tapi masalah akhlak dan adab interaksi masih harus banyak belajar. Jadi inget peraturan di SMP Jogja. Para siswi mesti pake jilbab. Ketika mereka belum tersentuh mentoring, masih akan ada fenomena jilbab poni, jilbab balapan (rambut lebih panjang dari jilbab) dan jilbab langsung lepas pas di gerbang, dan lain – lain.

#5 Jum’at tiga hari yang lalu,
Jum’at pagi kuawali dengan #melingkar. Lanjut rehat dhuha, dan membereskan beberapa hal. Habis dzuhur rapat PH Bimo. Dan setelah ashar #melingkar lagi. Banyak hikmah dari #melingkar. Terlalu panjang untuk diuraikan.

#6 Sabtu dua hari yang lalu,
Sepagi itu aku sudah mengerjakan rekap laporan keuangan Pa’ole. Besok ahad ada monitoring dan evaluasi (monev) dari MITI. Mereka mau melihat langsung proses produksi Pa’ole. Setelah arisan, aku menuju ke Togamas. Ternyata ada LHHP inceran Eza.

#7 Ahad kemarin,

Monev MITI kali ini oleh 3 orang dan dari Pa’ole yang bisa ternyata 5 dari 9 orang. Lengkapnya baca MITI ke Minggir aja deh. Biar gak dobel. Abis dzuhur, aku ngekor Harits ke Putera Kampus. Beli plastik dan reward buat adek – adek yang jadi objek uji cookies ubi jalar Harits.  Setelah hectic nemu stasionary unyu, akhirnya kami berdua meluncur ke FHQ. Aku cuma bantu bungkus – bungkus cookies. Berasa mau lebaran deh. Kayaknya skripsi Harits seru. Smangadh ya, Rits ^^9  [Bersambung…]

8 Hari Mencari Makna #3

Jetlag

Rabu lima hari yang lalu,
07.30
Aku sudah di depan Khonsa ketika ada sms dari Sofiet. Rapat Cresscendo jadinya di Etos Monjali. Doeng! Aku pun segera memutar arah ke barat. Setelah evaluasi outbond KMAP di Piyungan jumat lalu, pembahasan berlanjut ke Cresscendo Craft. Lembaga training ini akhirnya mengembangkan sayap ke dunia bisnis.

11.00
Aku menuju ruang pak Wawan. Beliau sudah ada. Aku pun masuk ke ruangan. Setelah membolak – balik catatan dan koreksi draft, beliau menutupnya dengan kalimat, “Ini langsung dilengkapi saja. Daftar isi, tabel, lampiran dan lain – lainnya.” Alhamdulillah. Kabar baik. Sekarang tergantung aku. Bisa fokus gak untuk melengkapinya.

Setelah berpamitan, aku segera meluncur ke utara. Maksud hati beli Telacake, apa daya adanya cuma keju dan kacang. Eza kan sukanya cokelat. Aku pun mengurungkan niat dan segera meluncur ke Lempuyangan. Azan sudah berkumandang dari mushola Lempuyangan. Prameks sudah berlalu pukul 10.36. Terpaksa aku membeli Madiun Jaya AC yang berangkat pukul 12.06. Sembari menunggu aku menuju mushola di barat stasiun.

Teman seperjalananku seorang mahasiswi manajemen 2009 UNS. Ah, lagi – lagi aku lupa namanya. Seorang siswi Stella Duce dari Kota Gede. Kami mengobrol tentang Solo dan Jogja. Apa yang ada di Solo tapi tak ada di Jogja dan sebaliknya.

Setelah beberapa menit berada di dalam Atmo, aku pun sampai di depan kantor BNI Sekar Pace Jebres. Pom bensin sudah kelewatan. Aku pun segera balik arah menuju gang Guntur dan mencoba mengingat – ingat yang mana kos Eza. Aku baru sekali ke sana setelah dia pindah dari kosan yang lama di dekat UNS. Ayahku sedang keluar ketika aku sampai. Katanya jemput ke pom bensin. Tapi kok gak liat ya? -.-a

Setelah beristirahat sebentar, kami berempat meluncur bersama Atmo menuju Solo Grand Mall (SGM). Makan dan jalan bentar. Jauh – jauh ke Solo, ibu cuma beli gula. Padahal Gulaku kan dari Lampung.

Setelah sholat ashar, kami berpisah. Eza ke kosan, ayah dan ibu balik lagi ke Polan, sedangkan aku menuju ke Purwosari. Besok kamis siang ayah ibu akan melanjutkan perjalanan ke Cikarang, tempat cik Mis, cik Rina dan cik Ama. Sabtu pulang ke Baturaja. Senin dinas lagi. Genap tour sepuluh hari.


Lagi – lagi aku ketinggalan kereta. Prameks pukul 16.16 sudah melaju. Aku pun harus sabar menunggu Prameks berikutnya pukul 17.47. Maka ku cari bangku yang nyaman untuk membaca. Di tasku ada “Tanah Putih”, novel baru Medika Arsy. Tak lama dari azan maghrib, Prameks yang kutunggu pun datang.

Suasana di gerbong cukup padat. Tampak wajah – wajah lelah para penumpang yang baru pulang kerja. Bahkan ada yang langsung terlelap tidur begitu kereta meninggalkan stasiun. Karena tak ada yang bisa diajak ngobrol, aku lanjut membaca novel sampai tiba di Maguwo. Total hampir tujuh jam perjalanan Jogja-Solo-Jogja kali ini. Aku segera meluncur ke salima dan langsung tepar setelah isya’. [Bersambung…]

8 Hari Mencari Makna #2

Another Tuesday Story

Selasa enam hari yang lalu,
Jogja masih pagi ketika ada sebuah sms dari seorang teman masuk ke inbox AsyaRo.

Aku tak tau perasaan ini bernama apa..
Hari ini aku bangun dengan sesak di hati.
Tiba – tiba ada sesuatu yang deras tak terbendung di sujudku tadi,
Aku tak tau perasaan ini bernama apa,
Smoga allah melindungiku dari putus asa.
Received:
06:02:03
22-05-2012
From: +62857.4312.xxx

Ini hari apa sih? Otakku mulai berputar. Ah, ya, hari ini ada wisuda s1. Aku dan ispri pun membahas itu. Selalu ada saatnya. Hasil tergantung usaha masing – masing orang.

Aku baru saja mendarat di salima ketika ada sms dari ayahku. Pagi ini ayah dan ibu baru saja sampai di tempat mbah di Polan. Ayah dan ibu sedang tour d’Java. Rabu dari rumah naek Rosalia, jumat pagi nyampe Surabaya. Macet. Jumat itu istirahat di rumah bulek Rida di dekat terminal Sidoarjo. Sabtu di Malang. Ada pengajian cak Nun ngundang 2.000 anak yatim yang diadakan oom-nya ibuku. Ahad istirahat. Senin meluncur ke Klaten. Dan hari ini mereka mau main ke Jogja.

Untuk kesekian kalinya aku dan Rika berjalan bersisian menuju GSP. Hari ini ada beberapa pejuang07 yang wisuda. Antara setengah niat kami ke sana. Tanpa membawa setangkai bunga, sebatang coklat ataupun sekotak hadiah tanda selamat. Dari arah berlawanan ada Toga, Nadya dan Nia.

“Nah ini, mbak – mbak kapan wisuda? Mau tak siapin bunga beserta pot-nya”, ujar Toga setengah bercanda sambil mengacung – acungkan telunjuk sok serius.
“Insyaallah selanjutnya, Ga”, sahut kami berbarengan.”

Maka habis ashar aku pun menjemput ayah ibu di kopma. Setelah ngobrol dan makan pempek di selatan Kopma, di seberang sekolah vokasi, kami pun menuju ke Salima. Setelah sholat ashar, ibu ngobrol dengan Arkan dan Ispri, sementara ayahku sibuk membongkar Adhiyyat. Tentu saja aku jadi asisten ayahku.

Ternyata air akinya kering. Maka aku pun menuju ke toko bali. Sudah hampir jam lima. Tampaknya baik ayah maupun ibu tak tertarik untuk jalan. Beringharjo sesore ini tentu sudah tutup kan? Maka aku segera meminta Om Dida mengantarkan produk Pa’ole ke salima.

Jelang maghrib ayah ibu pamit. Malam ini mereka akan menginap di Polan. Aku tak ikut karena ternyata hari ini pak Wawan belum selesai membaca draftku. Besok rabu ketemu beliau lagi. [Bersambung…]

MITI ke Minggir

Ahad kemarin,
08.30
Mardliyyah tampak sepi ketika aku dan Harits tiba. Hanya ada Dida dan Aji. Catur belum datang. Tak lama kemudian muncul Mbak Tri (lulusan Pendidikan Kimia UIN 2004). Sambil menunggu yang lain, aku menyerahkan laporan monev ke mbak Tri. Sudah hampir jam sembilan ketika Riza (Pertanian UGM 2010) dan Shofi (Amikom 2008) datang. Setelah rombongan lengkap, kami berdelapan menuju ke Minggir.

09.35
Sesampainya di rumah bu Budi, kami disambut seperti tamu. Iyalah kan ada kunjungan dari MITI. Di meja tamu sudah ada lemper, tahu telur puyuh, bika ambon, bolu coklat dan air mineral kemasan gelas. Tak lama kemudian teh hangat dihidangkan. Jadi ingat jaman KKN. Setelah berkenalan sekilas, mbak Tri, Shofi dan Riza bergiliran bertanya tentang produksi abon di Padon. Setelah puas bertanya, kami menuju dapur dan melihat proses pembuatan abon. Berasa lagi di acara TV deh.

10.40
Kami menuju ke tempat produksi kerupuk, pangsit dan stik. Ibu – ibu sedang membuat produk. Tim dari MITI melihat prosesnya dipandu mbak Dwi. Riza bahkan ikut mencoba menggunakan alatnya. Sekitar jam setengah dua belas, kami disuruh makan siang. Alhamdulillah rejeki. Menu komplit lele goreng, tempe goreng, urap dan sambal. Lengkap dengan kerupuk dan pangsit lele. Maaf ya yang gak datang. Jatah kalian kami abisin.^^v

Abis makan, eh, azan. Kami pamit deh. #ora.sopan.tenan
Sebelum pulang, foto bareng dulu yukz..


Kesimpulan dari monev ini adalah Pa’ole cukup berkembang. Dari modal dan alat  yang terbatas, produksi bisa jalan terus empat – lima bulan ini. Walau belum seberapa, tapi ibu – ibu sudah bisa bagi hasil. Kalo udah selesai hibah MITI, bisa ngajuin bisnis plan ke pihak lain nih. Maju terus Pa’ole! Jaga terus semangatnya! \^^/

Salima, 28 Mei 2012, 20:50