Marketing Dadakan

Dulu ketika SD aku kesal ketika melihat majalah Bobo banyak iklannya. Dan ketika sudah di kampus aku tahu bahwa pihak yang beriklan itulah yang membuat harga majalah/koran tidak terlalu mahal.

Kenaikan harga kertas membuat harga majalah langgananku itu naik juga. Tapi, ayah dan ibu tetap membolehkanku melanjutkan berlangganan majalah Bobo sampai SMA. Ketika aku SMA, aku pindah tinggal dengan nenek di Baturaja. Dan ternyata, Bobo gak dibaca Eza, hingga akhirnya kami tidak berlangganan Bobo lagi.

Ketika aku ngobrol dengan Mbak Adist, beliau menyampaikan suka duka jadi Marketing. Sedih ketika sudah capek – capek keliling tapi gak dapet dana. Tapi, kelelahan itu seolah terbayar ketika proposal sponsorship diterima, dan kucuran dana melimpah ruah mengalir.

Aku sudah pernah bilang kan kalo jadi marketing kudu sabar? Yah, pengalaman seminggu ini benar – benar menguras energi dan pikiranku. Selama ini aku selalu kagum ketika melihat publikasi yang banyak sponsornya.

Disini pentingnya jaringan. Bukan hanya dengan jaringan yang sudah ada, tapi juga membangun jaringan baru. Agak sedih ketika mengajukan proposal ke ikhwah responnya kurang baik, tapi ketika dengan non ikhwah dapet dukungan. Ah, sudahlah, dukungan ikhwah kan di semua hal, kecuali dana. Kalo non ikhwah ya bisanya bantu dana.

That’s why, muslim harus kaya. Aku membayangkan lembagaku sekarang mandiri finansialnya. Gak butuh support dana dari pihak lain. Punya percetakan sendiri, jaringan luas, bisa bantu ikhwah yang butuh support. Yah, resiko jadi generasi perintis, membangun pondasi tentu butuh tenaga ekstra, memikirkan semuanya dari awal. Kalo gak gini, gimana generasi penerus mau bisa mengembangkan ranah ini?

Aku ingat boz besar pernah bilang yang kira – kira isinya gini (gomen ne lupa redaksinya):

Wajar ketika gak banyak orang yang mau ngurusin ladang baru. Karena mereka harus menebang pohon dan menebas belukar. Tapi, jika gak ada orang yang mau memulai, tak akan ada ladang yang siap ditanami. Gak akan ada kebun yang bisa menjadi sumber penghidupan.

Tak ada gunanya merutuki kesulitan di masa sekarang, bayangkan betapa indahnya masa depan dan kau akan merasa ringan.

 

Salima, 20 April 2012, 20.31

-Efek mati lampu-

#KartiniBerhijab

April ini kembali marak isue tentang kesetaraan gender. Penting gak sih? Yasudah, aku pun membuka google dan menuliskan kata Kartini dan RUU KKG. Dan muncullah berbagai situs tentang ini. Simak hasil co-pas berikut.

A.    Sekilas Tentang Kartini

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartinilahir di JeparaJawa Tengah21 April 1879. Beliau meninggal  di RembangJawa Tengah17 September 1904 pada umur 25 tahun. Kartini merupakan seorang tokoh Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak  mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat – Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan BuluRembang.

Berkat kegigihan Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini“. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.

Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.

Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak DhienMartha Christina Tiahahu, Dewi Sartika dan lain-lain. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Sikapnya yang pro terhadap poligami juga bertentangan dengan pandangan kaum feminis tentang arti emansipasi wanita. Dan berbagai alasan lainnya. Pihak yang pro mengatakan bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional; artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.

B.    Sejarah Munculnya Gender

1. Gerakan Marsis, Liberal, dan lain – lain

Gerakan ini menyatakan bahwa secara mendasar esensi biologis memandang laki – laki dan perempuan berbeda dan saling memusuhi. Lelaki selalu dinilai hal yang  negatif dan menindas. Pengalaman demikian yang dirasakan oleh inisator gerakan ini.

2. Sekitar tahun 80an muncul faham ekofeminisme

Faham ini mengemukakan bahwa ketidakadilan gender tidak semata – mata karena konstruksi budaya tetapi karena ada faktor intrinsik (bahwa memang dari asalnya, laki – laki dan perempuan berbeda).

3. Muncul gerakan feminisme Belahan dunia ke 3 :

Dalam perlawanan kepada penjajah feminisme tidak diterima oleh karena itu muncul istilah istilah gender (perbedaan peran laki – lakidan perempuan yang dibentuk dan dikonstruksi oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman).

Bila merujuk kepada ajaran islam sebenarnya perbedaan peran  laki – laki dan perempuan berdasarkan nas yaitu wahyu Allah. Sedikit bisa disimpulkan bahwa berbicara gender adalah berbicara tentang laki – laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi banyak orang berdalih  penindasan akan terhadap wanita lebih banyak terekspos. Sehingga banyak sekali yang menginginkan perubahan peran wanita yang tak jarang bertolak belakang dengan agama (Islam).

Berbicara Teori Gender dari Nature :

  1. Beda laki – laki dan perempuan adalah kodrat yang harus diterima (memiliki peran dan tugas yang berbeda)
  2. Ada perbedaan peran antara pria dan wanita karena konstruksi sosial budaya
    Contoh : wanita dirumah kerjaannya nyuci (padahal itu adalah konstruksi sosial budaya dari dulu) (ini dikritisi oleh mereka).

Yang perlu di kritisi dari teori tersebut adalah mengenai kontribusi perempuan dalam islam di rumahnya adalah perbaikan peradaban (ketika lahir seorang anak yang hebat dari rumah kita itu adalah suatu sadaqah) Perempuan adalah separuh dari masyarakat tapi wanita melahirkan seluruh masyarakat.

C.    RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender

Isu nasional yang tengah ramai ini, Embrionya adalah dari orang – orang yang menuhankan hawa nafsunya atau bertuhankan pada iblis (beragama dengan mengakui Tuhan tetapi perintah dan aturan – Nya tidak dilakukan). Kabar Rancangan Undang – Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender akan disahkan pada 15 April 2012 (belum tentu). Prosesnya memang masih panjang tetapi perlu sejak dini dilakukan pembangunan kontruksi pemikiran dan pemahaman akan KKG ini secara masif.

Isu gender sudah masuk APBD dan kebijakan pemerintah sehingga ada anggarannya sendiri. target selanjutnya adalah memasukkan itu pada RUU KKG. Pada BAB II Asas dan Tujuan pasal 2 dan 3, tidak mencantumkan agama sebagai asas. Peraturan undang – undangan harus ada aturan sosiologis dan politik bisa saja diabaikan karena aturan Tuhan pun tidak diikut sertakan. Padahal di UUD 45 ada konsep “Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Esa”= yang sebenarnya ini adalah Allah. Para pemimpin kita dahulu sudah menyadari bahwa keberadaan Tuhan itu sangat penting. RUU KKG hanya berorientasi pada dunia sedangkan akhiratnya dibuang. Coba lihat saja RUU KKG pasal 1 ayat 1 bisa jadi ketika RUU ini jadi, kewajiban untuk mencari nafkah bisa dipindah kepada wanita (asa suka sama suak). Bisa jadi suami berbicara kepada istrinya “ Mah, Mama yang kerja saja ya saya capek.” Suatu hal yang sangat kontras dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Apakah itu letak keadilan?

Sebetulnya mereka yang memperjuangkan RUU KKG adalah suatu pemaksaan. Logika yang dibangun nampak sangat keteteran secara alamiah. Sebenarnya semua hal itu ada porsinya masing – masing. Orang yang diakui melahirkan dan hamil tidak bisa dipertukarkan dengan orang yang dilahirkan menjadi laki –laki. Setelah melahirkan pun juga demikian, bahwa masih banyak yang menjadi kodrat wanita : menyusui, merawat dll. Wanita memiliki porsi yang berbeda dari laki – laki. Akan tetapi itu akan tetap dalam tataran keadilan.

Dari artiket2 tersebut dan hasil diskusi dengan beberapa orang membuatku berpikir. Selama ini yang kita tau tentang kartini hanyalah sekedar, beliau tokoh emansipasi wanita. Padahal ada sisi lain dari beliau yaitu:

  1. Ketika remaja, beliau dipingit pada umur 12 tahun, namun hal itu tidak menyurutkan semangat membaca dan menulis.
  2. Beliau sebagai seorang muslimah, berusaha memahami islam dengan membaca tafsir al-fatihah hingga ibrahim.
  3. Beliau sebagai seorang anak yang patuh dengan ayahnya, rela tidak jadi sekolah di Belanda ataupun Batavia karena akan dinikahkan, namun mampu membuat kesepakatan dengan calon suaminya: membuat sekolah wanita. Sehingga mampu mewujudkan cita – cita mengajari para wanita pribumi.

Kaum Feminis dan Rancangan Undang – Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) muncul karena melihat sisi penindasan terhadap perempuan, tapi gak mengkaji PENYEBAB penindasan itu. bisa jadi penyebab penindasan itu karena perempuan belum punya kapasitas, belum “secerdas” laki – laki. Belum mampu melindungi dirinya sendiri. dan mereka belum memahami bahwa Allah memberi perintah untuk berhijab sebagai sarana perlindungan diri muslimah. Seperti di Al – Qur’an, surat Al – Ahzab ayat 59.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jujur, aku tidak terlalu paham tentang isue gender. Menurutku, Hari  Kartini atau RUU KKG hanya sekedar momen. Tak perlu diragukan lagi tentang bagaimana islam memposisikan perempuan begitu spesial. Islam sudah membagi adil peran laki – laki dan perempuan, ngapain sih masih nuntut kesetaraan? Sebagai muslimah masa kini, fokus aja dengan potensi, kembangkan diri sesuai dengan potensi. Bukankah manusia terbaik adalah yang mampu bermanfaat bagi orang lain? Makin banyak kebermanfaatan muslimah, makin diperhitungkanlah ia, dan ia tak akan lagi dipandang sebelah mata.

Salima, 20 April 2012, 09.32

SunMor on Polan

Jam menunjukkan pukul 05.30 ketika aku menyusuri kali yang letaknya tak jauh dari rumah mbah. Air sungai kecoklatan tanda hujan turun semalam. Langit masih berkabut hingga Merapi dan Merbabu tak tampak. Embun di rerumputan. Pagi masih belum genap pukul enam, tapi Gereja sudah mulai ramai, sangat kontras dengan masjid jami’ di seberangnya yang ramai pada hari jumat. Dan sang surya pun mulai meninggi.

Seminggu ini…

Rabu:

Aku mengambil draft skripsi yang sudah diberi catatan oleh pak Wawan. Menurut beliau, pembahasanku baru menjabarkan data, padahal prinsip skipsi adalah membandingkan dengan teori di referensi atau hasil dari penelitian yang sudah pernah dilakukan. Memikirkannya jadi jadi pusing. Oh, perpusphobia, kapankah kau akan menghilang?

Kupacu Adhiyyat sekencang yang ku bisa menuju Amikom. Hari kedua Entrepreuner Days lumayan sepi. Bahkan aku bisa nyambi nyekrip. Aji dan Arya hanya geleng – geleng melihatku sibuk dengan An-NamL di tengah keriuhan ED.

Kamis:

Berada di tengah sebuah keluarga baru. Bakal seru nih! Satu genk kumpul semua. Eh, ada ding yang gak masuk. Ah, lupakan. Yang jelas warna2 itu akan makin menyatu.

Jum’at:

Aku telat 4 menit ke forum nananina itu. Wow, adek2Q sudah hampir lengkap! Mereka protes dengan keterlambatanku. Aku lupa kalo kami pake standar jam AsyaRo, bukan MonoL putih. Fiyuh~ Ada 1 yang baru datang sepuluh menit kemudian, dan dia kami asingkan selama lima belas menit. Semoga bisa jadi menimbulkan efek jera.

Sabtu:

Pagi – pagi aku sudah sibuk menyelesaikan semua tanggunganku sebelum pulang ke klaten siang harinya. Jam 10 aku pun menuju forum nananina kedua. Dan setelah dzuhur akupun melaju bersama Adhiyyatku ke Polan. Dalam rangka apa? Gak ada! Cuma liburan tiap dua bulan. Nilik’i simbah.

Ahad:

Rasanya aku ingin pulang ke Jogja senin saja. Tapi, apa boleh buat, habis dzuhur ada janji dengan si boz dan teman2 baruku. Tuntutan hobi.

Senin:

Jadwalku nyekrip! Tapi, selalu saja jadi hari recovery se-dunia. Harusnya aku nyuci, tapi jemuran sudah penuh. Yasudahlah. Dapat kabar bahagia: jumat pagi bakal ada yang pendadaran. Wah, giliranku kapan nih?

Sore2 aku ke IZC, bayar arisan Fikih Dakwah ke mbak Lilis. Ditanyain: “Kapan selesai, Ne? Mau tak rekrut.”

Perjalanan ku lanjutkan ke utara. Dan aku tak bertemu seseorang yang kucari. Kata yang kutemui, “telpon saja nanti malam.”

Malamnya kami dinner di WS. Kayaknya udah lama kami gak makan bareng, terakhir februari di Hokben, ngilangin stress bareng2 gara2 gak jadi profesi februari.

Jam 9-an kuberanikan sms seseorang, niat mau nelpon, eh, disuruh sms. Pas kusampaikan maksud dan tujuanku lewat sms. Eh, malah ditegur keras. Dibilang gak sopan dan semacamnya. Sakit hati? Jelas. Yah, sebagai pembelajaran saja. Jangan pernah menghubungi seseorang untuk urusan bisnis pada malam hari.

Kupaksakan diri membuat proposal sampe setengah satu. Ya Allah, aku belum pernah bisa begadang untuk nyekrip.

Selasa:

Pagi – pagi sudah ditelpon pak boz, ditelpon si mbak dan sms-an dengan beberapa orang. Aku lanjut capcus ke tempat ngeprint truz ke KRPH. Aku tak akan melewatkan kajian dari Umi Widi pagi ini. Abis itu, beliau minta temenin jenguk Bu Siti Syamsiyah di Sardjito. Baru deh aku ke tempat si boz. Abis itu jemput di adek di TP. Eh, si Oom ngirain aku bakal ngedate sama si adek, padahal mau keliling nyari sponsorship.

Sorenya rapat Pa’ole. Ditengah riuh rendah kesibukan masing2 kami, berkumpul seperti ini seolah berada di dunia lain. Aku salut dengan mereka yang masih bisa santai ditengah ke-riweuh-an, dan bercanda ditengah ketegangan.

Usai rapat, Pity-chan ikut ke Salima. Transit mau ngelesi abis maghrib. Tapi, ternyata gak jadi.

Eza sms:

Mbak, wisuda tgl brp? Jd mei dak?

Aku pun membalas sekedarnya. Dan akhirnya setelah isya’, aku dan Pity-chan dinner di luar. She look so tired. Me too. Dan kami berbagi keresahan setelah makan.

Rabu:

Akhirnya aku bisa nyuci juga. Tepat 06.30 aku menuju ke suatu tempat. Jam 8.30 aku sudah mendarat di salima dan menunaikan hak yang belum kutunaikan.

Seharian ini banyak merenung. Makin banyak berpikir, aku makin pusing. Semangat itu naik turun. Ketika ia sedang naik, jagalah ia supaya tidak menghabiskan energi. Ketika ia turun, jagalah supaya tidak futur. Segera bangkitkan semangat tanpa memaksakan diri.

Salima, 18 April 2012, 17:06