Ziaroh

2

April 30, 2012 by loratadine

Tiba – tiba tadi siang, Nurul mengajak untuk ziaroh ke rumah Dian. Mungkin aneh ketika kami menyebut mengunjungi dengan istilah ziaroh. Jika di Arab, istilah silaturahim lebih ditujukan jika yang dikunjungi adalah kerabat dekat, ada hubungan keluarga. Sedangkan jika tidak ada hubungan darah, maka disebut dengan ziaroh. Yah, kira – kira seperti itu. Silahkan diluruskan.

Selesai dari rapat Pa’ole, aku langsung menuju ke Khonsa. Ternyata sudah ada Supri stand by di depan. Vhe dan Dian sedang bersiap untuk sholat maghrib.

Tak lama kemudian, Nurul tiba di Khonsa. Hujan masih cukup deras, maka kami pun memutuskan untuk dinner saja. Setelah berpamitan pada Puji dan Mbak Titis, kami berempat jalan kaki dengan tiga payung.

“Mau Mie Tarik atau masakan Malaysia?”, ujar Nurul memberi opsi.

“Yang ada nasinya aja deh, Ul. Gue seharian ni belom makan nasi”, sahutku.

“Okai, berarti ke Malaysia aja”, jawab Vhe.

“Haha, mau makan aja jauh bener”, sahut Dian.

Dalam hitungan menit, tempat yang kami tuju sudah terlihat. Hanya perlu menyebrangi jalan, kami pun sampai di TKP. Kami berempat memesan menu yang berbeda. Supaya bisa saling nyobain. Tanpa menunggu lama, nasi lemak kerang Nurul sudah diantar. Tak lama kemudian, nasi lemak telor dadar pesananku pun tiba. Disusul dengan dua gelas jeruk hangat, Barley drink dan Teh tarik.


“Vhe, lu suka kacang gak?”, tanya Nurul menatap pasrah belasan kacang goreng di piringnya.

“Iya, sini,” sahut Vhe.

“Dee, lu mau kacang gak?”, tanyaku pada Dian. Aku juga tak suka kacang.

“Boleh deh”, jawab Dian.

Nasi lemak kami sudah habis setengah ketika Tomyam sayur Dian dan Nasi Paprik Sotong Vhe diantar. Dan kami berempat saling menebak bahan dan mengomentari rasa masakan yang kami pesan.

Sepanjang makan, kami mengamati sekeliling. Para pengunjung Rempah Asia cukup banyak. Tak cuma yang tampangnya asia, tapi juga orang kulit putih. Ada sepasang wanita, satunya feminim, satunya cowok banget. Keduanya ngerokok. Ketika kami baru saja menyelesaikan hidangan, ada sepasang lelaki yang datang. Satunya agak kalem, satunya macho.

Vhe dan Nurul yang berada di seberang kedua pasang pengunjung itu heboh sendiri. Dian sedang sibuk sms-an tentang rencana ke walimahan pak Ramdhan. Aku hanya mengamati Vhe dan Nurul. Tak lama kemudian mereka mulai aneh. Mereka ngobrol dengan bahasa jawa. Tampaknya aku mulai paham. Mereka sedang menjadi dubber bagi kedua tamu lelaki yang baru datang itu.

“Dirimu meh pesen opo e?”, tanya Nurul pada Vhe.

“Hmm, opo yo? Aku bingung e. Nek dirimu opo?”, tanya Vhe balik.

Dan pembicaraan makin seru. Aku dan Dian hanya bisa terkikik melihat kelakuan Nurul dan Vhe. Setelah puas mementaskan pertunjukan dubbing orang bule ngomong bahasa jawa, Nurul menyampaikan analisisnya.

“Eh, kalo menurut gue, kayaknya mereka ada “hubungan” deh.”

“Iya, kayaknya sih gitu”, sahut Vhe.

“Masa sih?”, tanya Dian tak percaya.

“Iya, lu gak liat sih. Yang cewek satu feminim, satunya macho. Yang cowok tipe – tipe bad boy, satunya good boy. Kalo di Bali sih gue biasa liat yang kayak ginian. Makanya kalo lagi jalan di Malioboro, gue langsung bisa nebak.”

Tiba – tiba ada seseorang datang dengan setelan jas panjang coklat lengkap dengan topi dan kacamata hitam khas Sherlock Holmes. Dan lagi – lagi Dian melewatkannya karena sibuk sms-an. Hujan masih turun walau tak lagi deras. Karena sudah jam 8-an, kami pun memutuskan untuk segera pulang. Aku segera menuju ke kasir untuk membayar dan mengambil pesanan roti bakar srikaya yang dibungkus.

Tanpa berlama – lama di Khonsa, kami bertiga pamit pada Vhe. Aku menyerahkan roti bakar srikaya kepada Dian.

“Nih, anterin ke Desy.”

“Waduh, gue nyampe rumah jam berapa?”

“Halah, bentar doang”, jawabku.

“Apa perlu kita temenin nih, Ne?”, sahut Nurul iseng.

“Boleh deh, Ul.”

Setelah berpamitan pada Vhe, kami bertiga menuju ke Alif Laam Miim. Sesampainya di TKP, Dian pun mengetuk pintu, sedangkan aku dan Nurul bersembunyi tanpa melepaskan jas hujan yang kami pakai.

Tak lama, terdengar suara pintu Alif Laam Miim dibuka.

“Dian, ngapain ke sini? Sama siapa? Pulang – pulang, udah malem!”. Setelah terdengar suara Desy dan Dian, tiba – tiba hening. Tampaknya Dian sedang menyerahkan roti, kemudian Desy masuk ke dalam.

“Ih, Desy jutek amat sih?”, ujar Nurul.

Aku hanya bisa tertawa pelan karena tau mereka cuma bercanda. Kami pun keluar dari tempat persembunyian.

“Desy mana Dee?”, tanya kami bersamaan.

“Lagi masuk”, jawabnya singkat.

“Annyeong~”, seruku dan Nurul serentak ketika Desy keluar.

“Lho, kenapa tiba – tiba ada kalian? Koq dari sana?”

“Iya dong, kita kan tadi naek helikopter.”

“Wah, sekarang naek helikopter pake jas ujan yah?”

“Kan lagi ujan..”

Tanpa berlama – lama, kami bertiga pun pamit. Rencana awal ziaroh ke rumah Dian, malah nyasar ke Alif Laam Miim. Besok maen lagi yaa~ 😀

Salima, 30 April 12, 23:05

2 thoughts on “Ziaroh

  1. purnamasari says:

    kalian malah pada ngomongin bule bule itu
    istighfar wooii,.

    ternyata itu rasa srikaya tho
    gw kira apaan gitu.
    beteweh
    syukron dah ya
    ^^

    • loratadine says:

      Haha, itu kan cuma respon refleks dari fenomena yang kami liat.. ^^v
      Sama aja kayak kalo ada anak kecil lucu,
      Wah, rotinya gak gratis lho, tu mesti dibayar dg 2 tempat hape warna merah buat gue n uul. xixixi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 16,862 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

April 2012
S M T W T F S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 737 other followers

%d bloggers like this: