Ngaret

Timur Mushola Asy-Syifa, 16.00

“Assalamu’alaikum…”, suara Rio terdengar dari balik hijab triplek putih berbingkai hijau di sebelah kanan Ummi.

“Wa’alaikumsalam…”, jawab Zia.

“Afwan, yang akhwat sudah ada siapa aja ya?”

“Lengkap…”, koor kelima akhwat Pengurus Harian Keluarga Mahasiswa Muslim Farmasi (PH KMMF) tersebut.

“Yang ikhwan baru ada saya sama Isnan”, jelas Rio tanpa ditanya.

“Emang yang laen mana e yo?”, Widya menimpali.

“Tama masih di jalan, Apri lagi ada temen SMA-nya di kos”, jawab Rio singkat.

“Mau nunggu Tama dulu?”, tanya Alka.

“Dimulai aja ya? Sudah jam empat. Nanti biar Tama nyusul.”, Rio pun meminta persetujuan teman-temannya.

“Piye?”, para akhwat saling berpandangan.

Zia hanya mengangkat bahu. Alka mengangkat kedua tangannya dengan posisi telapak tangan di atas, artinya kira-kira berbunyi: terserah deh. Widya setengah bergumam:”tunggu lengkap dulu aja.”

Melihat respon teman-temannya yang masih ragu-ragu tersebut, Adni mengambil inisiatif bertanya lagi,

”Emang Tama otw dari mana?”

”Dari Asrama Kaltim”

”Yang di jalan Monjali kan? Paling 5 menit lagi Tama sampe. Yaudah dimulai dulu aja.”, Widya yang kosnya di jalan Monjali pun sepakat.

”Oke. Bismillahirrahmanirrohim… Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh…”

”Wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barokatuh…”, jawab keenam orang tersebut bersamaan dengan terdengarnya langkah lari Tama.

”Assalamu’alaikum…”

”Wa’alaikumsalam..”

”Afwan, ane telat. Tadi ngerjain laporan dulu.”

”Iya, g pp…”

”Yak, selamat datang akh Tama. Selanjutnya silahkan akh Isnan membacakan taujih robbani…”

”Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh…”

”Wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barokatuh…”

”Silahkan buka Al-Qur’an, surat Al-Hasyr ayat 18 sampe 24.”

***

Rio memandangi jam di HP-nya. Sudah jam 06.45. Sekitar 15 menit lagi, untuk kesekian kalinya, dia harus memimpin syuro’ PH KMMF. Kali ini akan membahas agenda Bulan Islami Farmasi (BIF). Agenda pertama di kepengurusan kali ini. Tahun lalu, BIF tidak diadakan. Padahal dari Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) beberapa tahun terakhir, selalu ditemukan agenda Bulan Intelektual Farmasi (BIF) sebagai agenda besar KMMF selain Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), Ramadhan di Farmasi (RdF) dan Safari Idul Adha (SAFRIDA). Tahun ini disepakati BIF akan diadakan lagi, namun dengan mengubah filosofi singkatan dari huruf I yang awalnya Intelektual diganti dengan Islami. Terinsprirasi dari hasil silaturahim ke Pak Meiyanto pekan lalu. Bahwa setiap kegiatan KMMF mestinya sesuai dengan visi misi fakultas. Dan KMMF dapat berperan besar dalam mewujudkan misi fakultas poin kedua, yaitu ”mengedepankan nilai-nilai moral dalam proses belajar mengajar.”

HP Rio yang tergeletak di lantai sekretariat bersama (sekber) KMMF tiba – tiba bergetar. Sebuah sms dari Isnan PU.

Aslm, rio, af1, ane telat, msh bantuin bpk beres2 d rmh. Ntar nyusul.

Huff… Nasib anak asli jogja, pagi – pagi bantuin orang rumah dulu. Belum lagi jarak rumah Isnan yang lumayan jauh dari kampus. Yah, tidak ada pilihan lain. Rio segera menekan tombol Reply dan mengetik dua huruf: ok, kemudian langsung mengirimnya.

Jarum panjang jam dinding di sekber menunjuk ke angka sepuluh. Rio mengambil mushaf Syamil Qur’an bersampul coklat tua dari dalam tasnya. Tak lama sayup –sayup terdengar suara Rio dari luar sekber.

Hari sabtu sepagi ini kampus masih sepi. Alka yang baru saja sampai di kampus tidak jadi masuk sekber melihat baru ada sepasang sepatu kets ukuran ikhwan di depan pintu sekber. Alka malah lurus menuju masjid Asy-syifa. Dari kejauhan Alka sudah melihat Zia sedang sibuk sendiri dengan laptop hitamnya di serambi utara masjid.

”Assalamu’alaikum mbak Zia…”

”Wa’alaikumsalam, eh Alka…”

”Yang laen mana mbak?”

”Iya nih, belum pada dateng. Tadi lewat sekber gak? Udah ada siapa aja?”

”Kalau dari suaranya, kayaknya baru ada Rio.”

“Dimiskol yuk ka..”

“Oke mbak..”, sahut Alka sambil mengeluarkan Asyaro, si HP biru, dan langsung mencari nama MO Ummi.

“Anti lagi miskol siapa?”

“Ummi..”

“Yaudah, ntar ane miskol Widya sama Adni.”

”Eh, mbak Zia udah sms Rio?”

”Sms apaan?”

”Ya nanyain, yang laen kemana gitu…”

”O, iya.. anti aja yang sms ka.”

“oke deh…”

Tak lama HP Rio bergetar lagi. Ada sebuah sms dari Alka KD:

Aslm, Rio, yg laen mn y? Udh jm segini koq pd blm keliatan? Baru ada sy sm zia.

Selang beberapa menit kemudian, ada balasan dari Rio:

Wa’alaikumsalam. Widya asasi, tama baru bangun, adni baru selesai kuliah di asrama, apri g konfirm, ummi otw, isnan msh bantuin bpk d rmh. Kta mulai kalo Ummi udh dtng.

Tanpa komentar, Alka menyerahkan Asyaro pada Zia.

”Hah? Berarti ntar Rio ikhwan sendirian?”, Zia memastikan apa yang ia baca tidak salah.

“Ya gimana mbak? Mau nungguin Tama sama Isnan? keburu maghrib mbak…”

“Aih.. lebay…”

”Eh, bentar – bentar, jam segini Tama baru bangun? Astaghfirullah… Berarti dia ketiduran lagi abis subuh yak? Ya ampun… Please deh! Pantesan suka telat kalo kuliah atau praktikum jam tujuh…”

”Kalo malem dia begadang kali ka…”

”Begadang ngapain? Ngerjain laporan? Orang biasanya dia ngerjain laporan H-1 di kelas.”

”Nonton bola kali…”

”Udah ah biarin… Daripada ngomongin Tama, mending aku dhuha dulu deh. Ntar kalo Ummi udah dateng, bilangin ke Rio dimulai dulu aja gak papa. Makin diundur mulainya makin siang selesainya.”

Alka baru selesai sholat dhuha. Ternyata Ummi sudah datang dan rapat belum dimulai juga. Padahal sudah jam tujuh lewat sepuluh.

”Lho, koq belum mulai?”

”Baru nyampe bu…”

”Oooo… Emang dari mana Mi?”

“Abis piket Shofuro dulu. Tiap sabtu giliranku nih.”

“Aku piket Salima tiap kamis.”

“Wah, kontrakan kalian ada jadwal piket juga ya?”

”Ya iya lah mbak Zia…”, koor Ummi dan Alka bersamaan.

”Eh, kasian tuh si Rio nungguin dari tadi.”

“O,iya… Hampir lupa.. Hehe…”

Ketiga akhwat itu pun menuju sekber yang hanya berjarak dua meter dari masjid. Tama terlihat sudah di parkiran. Ia baru turun dari motornya. Tanpa menunggu Tama, ketiga akhwat tersebut masuk ke sekber lebih dulu.

”Assalamu’alaikum…”

”Wa’alaikumsalam…”, jawab Rio yang sedang membaca Tarbawi edisi terbaru.

”Di mulai aja Rio…”

”Ummi udah datang?”

“Iya, udah… Tama tuh masih di parkiran.”

“Yaudah… Bismillahirahmanirrohim… Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…”

”Wa’alaikumsalam wa rohmatullahi wa barokatuh…”

“Alhamdulillahi robbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan hingga kita bisa bertemu lagi dalam forum yang diberkahi Allah. Semoga kehadiran kita di sini adalah salah satu bentuk syukur kita.”

”Assalamu’alaikum…”, Tama datang dengan wajah setengah mengantuk.

”Wa’alaikumsalam…”

”Afwan telat. Tadi ketiduran..”

”Kan emang biasanya Tama telat… Udah, gak usah dipikirin…”, sindir Alka.

Tama hanya diam. Tampaknya sindiran Alka cukup mengena hingga menyebabkan perubahan raut muka Tama yang semula suram semakin muram.

”Eh, Tama, mana sarapannya?”, Zia mencoba mencairkan suasana.

”Aduh maaf, tadi gak sempat beliin…”

”Kan iqob telat bawain makanan…”

”Ya, insyaallah lain kali.”

”Oke, kita lanjutkan ya. Mari kita buka forum ini dengan mengucapkan basmalah bersama – sama.”

”Bismillahirrohmanirrohim…”

”Selanjutnya tilawah oleh akh Tama ya.”

Tak lama terdengar suara Tama membacakan al-Qur’an surat Ash-Shaff ayat 1 sampai 14 beserta artinya. Dilanjutkan dengan sedikit tadabbur dari Rio. Meskipun singkat, tapi cukup mampu memperbarui kembali keimanan dan membangkitkan semangat mereka di pagi itu.

”Assalamu’alaikum…”, Adni terlihat datang membawa jajanan pasar.

”Wa’alaikumsalam…”, serempak kelima orang yang sudah datang lebih dulu menjawab salam Adni.

”Waaah… Teh Adni bawa makanan…”, ujar Ummi.

”Alhamdulillah…” sahut Rio.

”Iya nih. Tadi abis kuliah di Darush Sholihat ada sarapan dari Ummi. Ini kebetulan ada lebih. Yaudah tak bawa aja ke sini. Kalian pasti belum pada sarapan kan?”

Dan berkah pagi itu semakin tampak dengan adanya makanan tersebut. Allah tak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa bersyukur.

***

Sekat antara ruang 2 dan ruang sidang unit I sudah dibuka. Kursi sudah ditata rapi. Backdrop bertuliskan ”Bulan Islami Farmasi (BIF) 2011” terlihat di kain di belakang meja pembicara. Tampaknya panitia sudah menyiapkan dekorasi seminar kesehatan hari ini, yang merupakan acara puncak dari serangkaian kajian, bazaar dan lomba – lomba, sejak kemarin sore. Pembicaranya dosen Fakultas Kedokteran, dr. Partadiredja, beliau akan menjelaskan tentang Pengaruh Puasa terhadap Kesehatan. Selain itu, ada ustadz Satria Baja Islam yang akan menjelaskan tentang Thibbun Nabawi, beliau ahli di bidang tersebut.

Indra, sang ketua panitia terlihat mondar – mandir dari tadi. Jam dinding hitam sudah menunjukkan pukul 07.15, namun panitia yang lain belum banyak yang datang. Padahal di publikasi, seminar akan dimulai pukul 07.30. Indra mulai terlihat panik. Bagaimana jika peserta nanti datang? Bagaimana jika pembicara mendadak ada acara?

Berbagai pertanyaan berseliweran di kepala Indra. Ia gugup sekali. Ini pengalaman pertamanya jadi ketua panitia. Tiba – tiba ia dilobi mas Tama untuk jadi ketua panitia. Alasannya belum berpengalaman dibantah kabidnya itu dengan kalimat: “dicoba dulu ya, Ndra…” Aaaaagh… andai saja kemarin tidak ku iya kan, pasti tidak akan seperti ini jadinya.

Rio yang memperhatikan Indra dari tadi hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya. Ia jadi teringat tahun lalu ketika menjadi ketua panitia PMB. Waktu itu, ia sangat khawatir jika acara Open House KMMF tidak berjalan sesuai yang diinginkannya. Dalam hitungan detik ia berdiri. Kemudian berjalan mendekati Indra.

“Ndra, udah dhuha belum?”

”Belum mas.”

”Yaudah, dhuha dulu aja… Mumpung masih sepi.”

”Tapi mas… Ntar kalau pesertanya datang gimana?”

”Presensinya udah ada kan?”

”O,iya, belum ada mas. Dibawa Eka.”

”Eka mana?”

”Masih di jalan mas…”

”Gak papa, ditinggal aja.”

”Kalau pesertanya sudah datang tapi Eka belum sampai, nanti pake presensi sementara dulu. Nanti saya minta mbak Zia yang buat.”

”Tapi mas…”

”Udah, sana ke mushola… Saya tadi udah sholat di kosan sebelum ke sini.”

”Iya deh mas…”

Rio memandangi punggung Indra sambil tersenyum. Tidak salah memilih Indra jadi ketua panitia. Walaupun ia belum pernah jadi ketua panitia sebelumnya, tapi terlihat usahanya untuk belajar jadi ketua panitia yang baik. Semoga ini bisa menjadi pelajaran baginya. Rio mengeluarkan HP dari saku baju koko putihnya. Ia mengetik sms:

Aslm, Zia, tlg buatkan presensi sementara ya. Utk jaga2 kl psrta dtng tp Eka blm dtng. Jzk

Zia yang sedang menyimak hafalan Al-Anfal Alka di luar, sejenak mengalihkan pandangannya ke layar Hpnya. Sms dari Rio. Zia kembali menyimak hingga Alka selesai sebelum akhirnya ia mengambil HVS dan bolpennya di tas yang ada di dalam ruangan seminar.

”Mau buat apaan Zi?”, tanya Widya yang sedang asyik membaca buku Laa Tahzan karya Aidh al-Qarni.

”Presensi sementara.”

“Lho? Koq?”

“Iya tuh, Rio smsnya gini.”, jawab Zia sambil menunjukkan sms dari Rio.

“Emang siapa yang harusnya buat presensi?”, Ummi ikut menimpali.

”Eka…”

Selang beberapa detik kemudian, Tama terlihat mengendarai motornya melewati depan ruang seminar. Ia memarkir motornya di bawah kanopi di seberang lobi Farmasi.

”Assalamu’alaikum…”, Tama menghampiri Rio yang sedang mengobrol dengan Aksan.

”Wa’alaikumsalam…”, jawab Rio dan Aksan.

“Eh, mas Tama. Dari mana mas, jam segini koq baru dateng? Udah bubar lho mas… hehe.. ”, tanya Aksan setengah bercanda.

”Dari asrama san…”

”Ooo….”

”Koq belum mulai?”

”Kan nungguin mas Tama. Masa ketua SC-nya belum datang, seminarnya udah dimulai..”, Aksan semakin seru menyindir Tama yang lagi – lagi terlambat. Rio diam saja tak berkomentar.

”Indra mana?”, Tama mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

”Udah jadi setrikaan dari tadi. Tuh anaknya.”, jawab Aksan sambil menunjuk ke Indra yang baru kembali dari mushola.

”Aduh mas, gimana nih… udah jam 7.30 masih sepi nih.”

”Yaudah tunggu aja 15 menit lagi.”, usul Rio menengahi.

”Yah, ngaret lagi deh… Kalo tau gini, mending saya nyuci dulu tadi…”, celetuk Aksan setengah bergumam.

***

Tama memandangi bus Rosalia Indah yang baru saja meninggalkan terminal Jombor. Kak Ryan tak tampak di loket Rosalia Indah. Eh? Jangan – jangan Kak Ryan naik bis yang tadi keluar? Tama segera mengeluarkan Hpnya dan mengetik sms untuk sensei-nya yang akan pulang ke Tenggarong.

Aslm,  Kak Ryan dah brngkt ya?

Dengan harap – harap cemas Tama mengedarkan pandang ke kanan – kiri. Siapa tau Kak Ryan lagi beli minum di loket sebelahnya. Namun hasilnya nihil. Belum ada sms balasan dari Kak Ryan. Tama hanya memandangi motornya, Honda Supra hitamnya yang senantiasa menemaninya kemana pun pergi.

Hp Tama bergetar. Sms dari Kak Ryan.

Wslm, iya dek, barusan aja. Af1 y ngerepotin Tama. Met ktm lg y. Klo mudik kabar2i.

Tama hanya bisa menunduk sedih. Ia tak sempat mengantar sensei-nya hingga berangkat. Tadi ada kuliah hingga jam 14.45. Molor 5 menit dari jadwal biasanya. Tama sudah mengusahakan ngebut dari kampus, tapi jalanan ke Jombor jam pulang kantor seperti ini memang macet. Tama kemarin hanya sempat menemui Kak Ryan di PPPPTK-Matematika dan mengantar beliau membeli tiket pulang di Jombor. Walau pertemuan itu begitu singkat, tapi cukup membuat Tama larut dalam nostalgia dakwah sekolah dulu. Tampaknya sekarang dakwah sekolah di sana sudah cukup maju. Tama hanya bisa tersenyum simpul dan kemudian membalas sms tersebut.

Oke kak, met jln y. Klo dah nyampe kabari. Salam sm tmn2 di sana. Insyaallah klo mudik q sempatkn maen k basecamp.

Walau masih berat, Tama segera menghidupkan motornya. Kadang untuk sadar bahwa waktu sedetik itu begitu berharga, perlu sebuah peristiwa yang menyentakkan. Rapat evaluasi BIF akan dimulai sekitar 20 menit lagi. Tama tidak ingin membuat yang lain menunggunya lagi seperti biasa.

***

Salima, 27 Mei 2011, 20:35

Untuk sodara seperjuangan 1430 H, ternyata sudah 2 tahun berlalu…

Pernah dipublish di http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150276828058745

Fiksi Berseri

Yonea Bakla’s collection telah hampir mencapai 200 judul. Kalo diliat-liat, perbandingan fiksi dan nonfiksi 50:50. Diiat lebih cermat, yg nonfiksi kebanyakan seri atw trilogi dengan penulis beragam. Tiap penulis punya gaya menulis yang khas. Dalam berbagai karya, penulis yang sama pun tetap tak terlepas dari style-nya.

1. Afifah afra

Hampir semua karya beliau lebih mengutamakan konflik batin, mempertahankan idealisme dan fokus pada komunitas sosial tertentu dengan ending sangat tidak tertebak. Lihat karya beliau:

^ Tentang Sejarah

– Trilogi Bulan Mati di Javashe Orange, Syahid Samurai, dan Peluru di Matamu

Menggambarkan Indonesia sebelum merdeka. Mulai dari masa Belanda, Jepang dan proses-proses menuju kemerdekaan. Buku yang cukup tragis endingnya. Terlihat keseriusan mbak Afra dalam menggarapnya.

Katastrofa Cinta ada sedikit kemiripan dengan trilogi ini, namun dengan tambahan masa Reformasi. Keren. Cerita 3 generasi.

– Jangan Panggil Aku Josephine ada keterkaitan dengan Katastrofa Cinta. Padahal jarak penerbitannya cukup jauh.

– De Winst dan De Liefde –> tampaknya akan menyusul 2 judul lagi, hingga menjadi tetralogi.

^ Tentang dunia kesehatan: Cinta Adinda (tentang Skizophrenia) dan Obituari Kasih (tentang dokter yang bertugas di pedalaman Papua)

^ Tentang Remaja

– Serial Elang, saya baru baca satu judul: Cinta Gaya Britney.

– Princess Diva (serial terbaru)

^ Tentang Isu Kriminalitas

– Trilogi Ilalang

Dengan kasus pabrik kertas mencemari lingkungan perkampungan pinggir sungai.

– Serial marabunta

#1. Topan Marabunta

#2. Kudeta Sang Mabunta

#3. Bunga-Bunga Biru

#4. Ode untuk Cinta

#5. The Return of Baracuda (dimuat secara bersambung di Majalah Girlie zone-Gizone edisi 1 hingga 18)

dengan tokoh utama Topan Segara dan Sabrina (Baracuda).

Mengangkat tema Preman-Sindikat Narkoba-dengan sedikit peran polisi.

Dengan latar Semarang dan Jakarta, serta pesisir pantai selatan Banyumas.

Saya menebak karena mbak Afra berkecimpung di komunitas pinggiran di Surakarta.

2. Azzura Dayana

Saya baru membaca beberapa karyanya, antara lain Rumah Fosil, Birunya Langit Cinta dan Alabaster. Ketiganya menggambarkan petualangan para tokoh. Menceritakan pengalaman dan perjalanan.

3. Jazimah al-Muhyi

Menyelipkan hikmah ditiap cerita. Lihat saja:

– Serial akta

#1. Kelelawar Wibeng

#2. Gendut Oke, Hitam…

#3. Ada Duka di Wibeng

Kumpulan Cerpen Dilema Iman Sandra dan Sketsa Putih.

4. Asma Nadia

Tentu kalian sudah akrab dengan serial Aisyah Putri, Kumcer Rembulan di mata Bunda, Emak Ingin Naik Haji, Ayat Amat Cinta, dll. Penyampaiannya ringan, dengan selingan kocak yang segar, tapi sungguh mengena.

5. Fahri Asiza

Semua ceritanya sinetron banget. Hehe.. Coba baca Menjemput Matahari, Karena Waktu Telah Tiba, dll. Beliau memang expert dalam membuat skenario. Buktinya beliau pernah menggarap Office Boy dan beberapa serial di RCTI.

6. Pipiet Senja

Saya baru membaca Lakon Kita Cinta, namun sudah terbaca bahwa semua buku beliau akan mengangkat tentang perjuangan menghadapi penyakitnya dan mempertahankan keluarganya.

7. Adzimattinur Siregar

Tentang geng remaja yang ngocol abis. Liat Serial Coverboy Lemot 1-3, Loving U, Bubble Gum dan Meski Pialaku terbang (Belum semua saya punya).

Kekompakan Pipiet Senja dan Adzimattinur Siregar dapat dibaca dalam buku “Mom and Me”.

8. M. Irfan Hidayatullah

Ada banyak karya beliau. Namun, yang baru saya baca yaitu Kumcer Dari Ruang Tunggu dan Jangan-Jangan Kamu Bukan Manusia. Sungguh sastra tingkat tinggi, dengan metafora yang agak membingungkan. Haha.. Mungkin saya tidak terbiasa baca yang berat kali ya..

9. Esti Kinasih

Seperti kebanyakan teenlit yang lain, saya akan bisa menebak endingnya. Tapi saya akui mbak Esti bisa mengaduk-aduk emosi pembaca dengan proses kompleks yang seru. Saya baru membaca Fairish dan Trilogi Jingga; Jingga dan Senja, serta Jingga dalam Elegi (Jingga untuk Matahari belum terbit). Saya belum berkesempatan membaca karya beliau yang lain seperti Cewek, Still.. dan Dia tanpa Aku (ada yg punya?)

10. Pramudya Ananta Toer

Dulu, saya pernah iseng baca buku beliau yang judulnya “Bumi Manusia”. Tampaknya itu buku yang paling tebal yang pernah saya baca. Walaupun beliau pernah dapat nobel sastra, tapi saya tidak tertarik membaca buku-buku beliau lainnya. Mesti isinya tidak cocok untuk anak-anak seperti saya. ^^v

11. Deasylawati

Penulis baru ini cukup produktif menulis buku fiksi dan nonfiksi. Saya sudah membaca Ore wa Ren! dan Livor Mortis. Keduanya tidak terlepas dari kehidupan di rumah sakit, terutama Livor Mortis. Saya jadi tersentak. Dalam hampir semua buku yang mengangkat tema kesehatan, yang terlihat hanya peran dokter dan perawat. Peran pharmacist-nya mana?

Ada beberapa penulis lain yang sudah saya baca karyanya. Namun, karena baru satu judul yang saya baca, saya belum bisa membandingkan.

Oiya, ada beberapa penulis yang karyanya tidak diragukan bagusnya. Tapi karena packaging yang terlalu tebal untuk saya, jujur saja, saya agak kurang tertarik membacanya. Sehingga saya belum mampu menginterpretasi gaya menulisnya. Sebut saja: Andrea Hirata, A. Fuadi dan Tere-Liye. Banyak yang merekomendasikan membaca buku-buku karya mereka, namun sampai sekarang belum sempat. Haha.. Tampaknya saya lebih tertarik buku tipis.

Ketika dulu ikut training jurnalistik, sang trainer menanyakan penulis favorit peserta. Menurut beliau, gaya menulis seorang penulis dipengaruhi oleh gaya menulis penulis favoritnya. Entah mempengaruhi berapa persen. So, bagaimana dengan gaya tulisan kita? Jadi teringat, dulu ada seorang teman yang mengeluh “iri”:

Coba liat note di FB, tulisan akhwat tu rata-rata cuma curcol. Sedangkan tulisan ikhwan lebih berbobot. Soale ikhwan tu bacaannya banyak..

Saya mencatatnya sebagai kalimat penyemangat untuk menulis lagi dan lebih banyak membaca. Tidak hanya dari penulis atau penerbit tertentu, tapi mencoba memperluas cakupan bacaan.

Lobi Farmasi, 7 Juni 2011, 11:20

Pernah dipublish di http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150286132268745