Analisis Bacaan

2

March 7, 2012 by yonea

Buku adalah jendela dunia.  Jenis bacaan disesuaikan dengan umur pembaca. Untuk anak – anak, tentunya ada buku tersendiri semacam ensiklopedia anak, buku bacaan bergambar, komik,  ataupun majalah anak.  Untuk remaja, ada teenlit (teenagers literature). Untuk dewasa ada bacaan tersendiri. Nah, karena aku masih teenagers (Haha, tepatnya 19+3 alias 22 tahun), jadi aku lebih suka baca teenlit.  Aku mencermati perkembangan teenlit dari masa ke masa. Pengertian teenlit itu luas ya, gak cuma teenlit terbitannya Gramedia Pustaka Utama (GPU), tapi semua bacaan untuk remaja.

1.       Majalah

Ketika aku SMP -SMA, banyak beredar majalah dan tabloid remaja. Ada Fantasi, Tablo, Gaul, Aneka Yess!, Gadis, dll. Sementara Annida jadi satu – satunya majalah remaja Islam. Dan aku cukup kaget ketika di kampus menemukan Annida yang ternyata sudah berubah jadi majalah yang khusus membahas tentang literasi. Yayaya, memang belum ada sih yang fokus ke sana, tapi jadinya remaja pada kehilangan annida yang dulu dong? Oh, tentu..

Sejak Juli 2009 Annida resmi tidak lagi diterbitkan dalam bentuk cetak, tapi hanya berupa bentuk online. Edisi No. 10/XVIII Juni 2009 menjadi edisi terakhir dalam versi cetak. Sementara itu, Afifah Afra bersama para penulis Solo menerbitkan Girlie zone sebagai majalah kepribadian remaja. Edisi I/Th.I/Februari – Maret 2009 menjadi edisi perdana. Aku pun mengikuti perkembangan Girlie zone yang kemudian berganti nama menjadi Gizone karena penasaran dengan kelanjutan Serial Marabunta.

Tapi kemudian pasca erupsi Merapi 2010, Gizone pun berhenti terbit. Edisi 18/2/Oktober 2010 pun menjadi edisi terakhir Gizone. Yang penting bagiku adalah Serial Marabunta SELESAI di episode ke-18, jadi aku gak perlu mati penasaran nungguin endingnya di Gizone yang gak pernah terbit lagi.

2.       Novel

Dulu jaman aku SMP – SMA, biasa baca novel remaja islami-nya DAR MiZAN, atau Era Novfis-nya Era Intermedia. Banyak banget buku islami untuk remaja, yang tentunya dimotori oleh Forum Lingkar Pena (FLP). Nah, sejak aku di kampus, makin jarang kuliat buku – buku islami untuk remaja. Kebanyakan buku – buku islami bertemakan agak berat (tentang dakwah, nikah, atau apalah yang banyak istilah yang gak umum) yang hanya bisa dikonsumsi oleh kalangan tertentu.

Dan aku hanya membatasi membaca novel terbitan Pro You Media, Gema Insani Press (GIP), Mizan, dan Era Intermedia. Yah, emang sih adanya cuma novel jaman jadul. Tapi karena dulu pas SMA jarang buku – buku model begini di daerahku, jadinya kulahap habis saja. Dan bacaanku makin bertambah dengan buku – buku terbitan Indiva Media Kreasi.

Bertahun – tahun berselang kemudian, aku pun kehabisan bacaan (Plis, ini lagi ngomongin novel yak. Jangan bawa – bawa buku manhaj berjilid – jilid, aku juga akan membacanya). Aku pun mulai melirik buku – buku terbitan GPU dan GagasMedia. Aku menangkap ada 2 jenis buku fiksi GPU yaitu Teenlit untuk remaja dan Metropop untuk dewasa. Teenlit pun ada yang asli Indonesia dan ada yang terjemahan dari penulis luar negeri.

Jika dulu aku hanya mengenal buku – buku Afifah Afra, Asma Nadia, Dian Yasmira Fajri, Helvy Tiana Rosa, dan para penulis FLP, sekarang aku mengenal Orizuka, Karla M Nashar, Winna Efendi, Ollie, Esti Kinasih, Retni SB, Luna Torashyngu dll. Sangat terasa perbedaan karakter tulisan mereka.

Aku menangkap kesan bahwa setiap penulis punya “misi” dalam tulisannya. Siapa yang menyangka bahwa Karla M Nashar itu muslimah? Haha, aku sok tau ya? Bahkan adekku yang suka dengan tulisan Karla kaget ketika aku bilang gitu. Aku tau dari mana?

Membedakan penulis itu muslim atau tidak bisa dilihat dari kata pengantarnya, cuap – cuap penulis atau Author’s Note, atau apalah namanya. Karla jelas – jelas mencantumkan kalimat “So, truly with hardship comes ease, truly with hardship comes ease”. Tentu kita sudah akrab dengan kalimat itu kan? Tepat! Di surat Al – Insyiroh! Selain itu, kita bisa mencermatinya dari isi dialog. Menurutku hanya penulis muslim yang menuliskan kata Assalamu’alaikum, Alhamdulillah, ya Allah, dan kata – kata sejenisnya. Dan nilai – nilai Islam pun mampu terlihat jelas di dalamnya. Misalnya Retni SB, tokoh ciptaannya selalu cewek yang tegar menghadapi berbagai cobaan. Pun dengan penulis non – muslim. Mereka menampakkan ajaran cinta kasih dalam tulisan mereka.

Menurut adekku, membaca berarti mendapatkan sesuatu. Adekku lebih suka membaca novel terbitan GPU dan Gagas daripada novel Islami. Adekku mengatakan bahwa novel islami cenderung terlalu ideal. Nilai yang ada cenderung dipaksakan. Aku cukup kaget mendengarnya. Tapi menurutku dia benar. Seringkali aku pun menemukan novel islami kurang mengalir dalam mengemas nilai yang ingin disampaikan. Bahkan, aku penah bilang ke temanku bahwa aku lebih bisa menangkap “Ibroh” dari novel teenlit daripada novel islami. Ini akunya yang error atau emang kualitas tulisan kita yang kalah bermutu? Wallahu ‘alam.

3.       Komik

Kenapa baca komik dilarang? Soalnya bisa merusak akidah! Lihat saja Doraemon, si Nobita kalo butuh apa – apa minta ke Doraemon biar ngeluarin sesuatu dari Kantong Ajaibnya. Inuyasha, hmm, banyak banget siluman, hantu, makhluk – makhluk aneh. Yah, tentunya banyak juga sih komik bagus kayak Detektif Conan atau Tears of Sheep, Kitchen Princess, dll yang isinya tentang tokohnya yang mengejar cita – cita.

Sekitar tahun 2005 Dar! Mizan sempat membuat Lini Komik Indonesia yang salah satunya digarap oleh Studio Titik Terang. Atau ada komik strip Real Masjid oleh Tonytrax dan Galang Tirta Kusuma. Apa lagi ya? Hmm, intinya, komik islami masih sangat jarang beredar. Lalu, gimana caranya mengalihkan anak – anak dan remaja Indonesia yang komik mania?

Well, aku bisanya cuma ngasih komentar. Emang aku udah nerbitin berapa buku? BELUM SATUPUN! Beberapa cerpenku pun baru sebatas dipublish di FB. Selebihnya cuma tulisan-gak-penting-curhat-curhat-gak-jelas-yang-semoga-bisa-diambil-hikmahnya di blog dan FB. Dulu di SMA sih sempat bikin resensi, cerpen dan puisi yang jadi koleksi perpustakaan. Yeah, you know, itu tugas Bahasa Indonesia! Beberapa temanku menyarankan supaya aku buat novel aja. Gak cocok kalo bikin cerpen. Haha.. Untuk sekarang aku mau fokus nyekrip dulu aja deh. Karena banyak para penulis yang keasyikan bikin novel pas lagi nyekrip, malah skripsinya gak kelar – kelar. Hehe.. ^^v

Yah, sekian dulu analisisnya. Seharusnya aku menganalisis data skripsi, tapi malah menganalisis bacaan yang beredar. Oke, oke, aku akan nyekrip lagi. Wah, tampaknya memang blog ini berfungsi untuk menampung tulisan – tulisan yang idenya muncul ditengah suntuknya nyekrip. Maaf, apakah aku baru saja bilang kalo skripsi bikin suntuk? Ah, aku salah ngomong. Yang benar adalah asyiknya nyekrip. Let’s make script to be FUN!

Salima, 7 Maret 2012, 12:01

2 thoughts on “Analisis Bacaan

  1. fayruzrahma says:

    tahun 2003 DAR! Mizan udah ada Novel-Komik Remaja mbak, lini produk Sahabat Remaja Muslim. Namanya komik DeT (Double eF Team). Aku punya yg Story at The School, hehe :3 genre detektif sih…

  2. loratadine says:

    Iya yuz, aq punya yang Story at The Store. Banyak juga Novel-Komik jaman itu. Thanks tambahannya.

Leave a Reply to loratadine Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 17,063 hits

Goodreads

Instagram

My Script

Daily Story

March 2012
S M T W T F S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 746 other followers

%d bloggers like this: